
>>>> Uang saku <<<<
Mataku mengerjap terbangun . Seperti biasa aku selalu bangun di malam hari untuk menunaikan sepertiga malam ku , sudah menjadi kebiasaan ku bangun se pagi ini , walaupun aku berakhir dengan mengantuk di sekolah , namun tak mengapa, karena aku punya teman yang selalu berbaik hati mencubit ku kala mataku mulai terpejam .
Pria yang ku dekap dalam tidurku tak ku temui , aku terbangun dalam dekapan guling yang begitu nyaman , apa dia mengubah dirinya menjadi guling? ku edarkan pandanganku ke sekeliling rumah , tak ku temui siapapun . Aku bergegas bangun untuk menunaikan ibadah sholat malam , panjatan doaku pinta dengan begitu banyak . Hingga suara adzan berkumandang , suara yang amat ku dengar , Farhan Dhiaurrahman , pria yang sudah menjadi suamiku .
Aku sangat menyayangkannya , dirinya tak membangunkan ku lebih awal , pria itu selalu menakjubkan . Aku akan banyak merindukannya . Aku melanjutkan dengan sholat subuh , jika biasanya aku akan tidur setengah jam lebih dulu . Tapi kali ini aku memilih langsung mandi . Dingin
."Assalamualaikum " Ucapnya tepat saat aku baru saja keluar dari kamar mandi , aku sudah mengenakan seragam sekolahku . Seragam putih abu-abu. Upacara hari ini .
__ADS_1
"Aku benar-benar menikahi anak sekolah " Ucapnya menghampiriku dengan mencium keningku . "Selamat pagi" Sapanya yang kubalas senyum miring . Dia tak membangunkan ku dan tidak mengatakan apa-apa saat pergi membuatku kebingungan seorang diri di rumah .
"Mau berangkat sekarang?" Tanyanya saat jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih , aku menggeleng mengelus perut laparku . Aku akan ada upacara atau aku akan pingsan jika pergi dengan perut kosong .
"Beli bubur , kenyang ga? Atau mau nasi , tapi ga banyak warung yang buka jam segini " Farhan terlihat lucu di mataku saat mengusap wajahnya yang terlihat begitu mengantuk .
"Di rumah ada apa?" Tanyaku berbinar , aku bisa makan apapun itu , namun dia hanya mengendipka bahu , menolak menjawab ! Sepertinya aku tak boleh mengharapkan apapun pada rumah ini .
"*Sedih banget dengarnya , Dek Putri udah pake seragam sih padahal mau ku ajak jalan".
__ADS_1
"Upacara , jadi harus cepat , beli makan diluar aja gimana*? " Tawarku , aku tak bisa merusak citra ku yang telat upacara karena pernikahan' ,, aku akan berusaha sebisa mungkin agar tak ada pembicaraan tak mengenakan kepada ku .
"Bubur ga papa, ayo A " Anakku lagi yang dibalas anggukan olehnya , dia membuka lemarinya memberikan ku sebuah Hoodie besar dan juga tebal . Dia juga menggunakan jaketnya "Di luar dingin " , Ucapnya yang kubalas anggukan . Aku memakai Hoodie sedikit sulit karena tidak ada resleting seperti jaket , namun aku sangat suka sekali dengan gaya cesual Hoodie yang ku pake , Farhan juga sangat pas dengan jaketnya .
Dengan pakaian Koko nya ia terlihat benar-benar putra ustad , namun dimata ku kini ia hanyalah seorang Farhan , seorang pemuda layaknya laki-laki yang biasa ku temui olehnya .
"Uang sakunya belum " Farhan merogoh saku celananya , mengambil dompetnya membuatku mundur selangkah , Aku tak butuh uang . Uang dari orang tuaku saja masih tersisa di tabungan .
"Seminggu cukup?" Tanya A Farhan memberikan beberapa lembar uang biru , "Ini kebanyakan Aa , tapi uang putri masih banyak " Aku menunjukkan dompetku , memamerkan padanya . "Dompet mu lebih tebal dari dompetku " Pamer Farhan menunjukkan isi dompetnya membuat Putri terkekeh .
__ADS_1
"*Ya sudah pegang Aa Farhan saja ?"
"Ini Namanya nafkah , masa di tolak* "