Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
PELAJARAN SINGKAT


__ADS_3

JKA. Pelajaran Singkat


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seperti yang di sarankan suaminya, ia akan menginap dirumah orang tuanya selama 1 minggu. Perjalanan kali ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Farhan mengendarai mobilnya dalam sunyi, hanya ada alunan instrumen yang mengalun pelan.


Manik matanya terus mengarah ke istrinya yang kini tertidur pulas, mulutnya sedikit menganga tanpa dengkuran.


"Harusnya ku foto ini" Gumam Farhan menahan tawanya, istrinya pasti akan mengamuk jika di kirimin wajah tidurnya.


Tinggal sepuluh menit mencapai rumah, Farhan memilih untuk membelokkan mobilnya, perutnya sudah mulai keroncongan karena bepergian hanya dengan roti bungkus.


"Putri, bangun kita makan dulu" Farhan menepuk pelan bahu istrinya, membuat wanita itu mengerjap mata, tubuhnya terasa pegal dan di renggangkan hingga bunyi kretek di lehernya.


"Udah sampai ya?" Tanyanya dengan tangan yang mengusap matanya. "Belum makan dulu yuk?" Farhan menunjuk kedai ayam yang akan menjadi tempat makannya. "lapar" Tambah Farhan lagi dengan nada merajuk.


"Iya makan dulu ya" Farhan membuka sabuk pengamannya, refleks putri juga ikut membuka sabuk pengamannya. "Berarti Aa cuma nginep malam ini doang? Besoknya langsung pulang" Ucapnya Putri sambil jalan, Farhan mengangguk.


Helaan nafas berat. Entah mengapa terasa berat. Aroma ayam goreng menguar harum saat kakinya menginjakkan lantai kedai. "Aku saos teriyaki dan es jeruk" Ucap putri saat melihat menu terpajang di depan kasir. "Duduk di sana ya A" Ucap Putri yang dibalas anggukan oleh Farhan .


"Ayam Teriaki 2 mbak sama es jeruk 2" Pesan Farhan dan menunjuk meja dimana istrinya berada.


"Semuanya empat puluh ribu mas" Farhan mengeluarkan selembar uang lima puluh rupiah.


"Kembaliannya Mas"


"Makasih ya mbak"


Farhan mengernyitkan keningnya saat melihat istrinya yang kini telah begitu asyik dengan ponselnya. "Gimana? Lagi ngabarin ibu di rumah?" Tanya Farhan yang dibalas gelengan kepala oleh Putri.

__ADS_1


"Teman Putri udah dapat tempat kuliah, Putri ikut senang dengarnya" Farhan mengangguk, bertanya lebih lanjut pun ia tidak akan mengerti. Farhan memilih untuk ikut mengeluarkan ponselnya. Bermain game menjadi solusi keheningan karena tak adanya percakapan hingga makanan datang. Ponsel keduanya baru terlepas dari tangannya.


*****


Pemandangan hijau membentang, dengan sejuk angin semilir yang menyapa, jendela mobilnya memang sengaja di buka .


"Aku dulu sering main ke sawah buat cari Tutut" Cerita Putri mengingat masa lalunya. "Dimana gitu?" Tanya Farhan yang di balas anggukan. "Enak tahu? Putri anak sawah banget, Aa mau ga? Nanti bilangin ibu buat masakin" Farhan mendelik mendengarnya. "Masa ngerepotin ibu, jangan" Tolak Farhan cepat. Gerbang selamat datang menuju tempat kelahiran istrinya sudah terlihat jelas. tinggal belok masuk gang.


Orang tuanya sudah menunggu di depan rumah. Tak hanya orang tuanya yang sudah berkumpul. "Itu, sepupu Putri pada kumpul semua" Senyumnya begitu cerah melihat menyambutan yang begitu hangat. Sorakan riang anak-anak menyambut Putri membuat Farhan iri, ia tak pernah disambut seramai ini.


"Anak tunggal tapi tidak kesepian ya" Ujar Farhan yang dibalas anggukan, tangannya mengatur pengemudi untuk memarkirkan mobilnya. "Iya, ramai terus kadang suka saling nginap di rumah Putri, kadang ke rumah Tante atau bude.


Tangannya langsung membuka pintu mobil setelah selesai memarkirkan mobilnya.


"Huwaa, kenapa kalian menunggu di sini?" Adik-adiknya menyalaminya. Putri memberikan pelukan sungkat, orang tuanya sudah menunggu di depan rumah. Farhan sendiri hanya menyalami adik-adik barunya sebentar, ia tak mengenali mereka semua. Ia menyadari rumah tangganya tak seimbang.


Ia mengulas senyum tipis, istrinya bahkan tak mengenalkan dirinya. Mengenalkan dirinya sendiri terlihat menyedihkan, Farhan hanya mengikuti langkah istrinya setelah membawakan koper untuknya. Suasana desa begitu terasa dengan pekarangan rumah yang bisa dijadikan parkir mobil sejajar.


"Kezia" Jawabannya lucu membuat Farhan tersenyum senang. "Kok Kezia tahu"


"Iya soalnya teh Putri sering cerita ke Zia"


Farhan kembali bangun saat suara istrinya memanggilnya ia harus menyapa mertuanya.


"Assalamualaikum Ayah Ibu" Sapa Farhan menyalami keduanya berurutan.


"Waalaikum salam" Jawab keduanya serentak tanpa aba.


"Maaf ya Ayah Ibu baru bisa mampir" Ucap Farhan merasa bersalah. keramah tamahan keluarganya membuat kini mereka berkumpul di ruang tamu. Rumah dengan interior kayu tampak klasik sederhana namun begitu melihat isinya sangat bersih meskipun hanya dengan ubin .

__ADS_1


Jam dinding besar terpajang rapi di sudut, jam kuno yang akan berdenting setiap jam dua belas. "Rumahnya bersih bangat" Bisik Farhan. "Ga ada Putri soalnya" kekeh Putri membuat suaminya setuju. Setelah hampir 1 bulan tinggal satu atap bersama istrinya, ia menyimpulkan jika istrinya memang tak Serapi rumah yang kini ia pijakinya .


"Makan siang dulu yuk?" Ajak ibunya membuat putri melotot, perutnya masih kenyang, belum ada setengah jam setelah makan seporsi makanan. "Baru setengah sembilan bu, lagian Putri dan Aa sudah makan tadi di warung yang dekat tugu tua" Jelas Putri membuat ibunya kini memilih duduk di ruang tamu .


"Putri suka ngerepotin ya?" Tanya ibunya merasa khawatir, Farhan terlihat kian kurus sekarang ini membuat ibunya merasa tak enak hati. "Engga Bu , malah mungkin Farhan yang selalu bikin Putri repot , Putri kangen katanya jadi mumpung luang jadi baru bisa mampir kesini".


"Kata Aa Putri boleh nginap disini seminggu Bu " Mata Putri berbinar cerah, namun tidak dengan orang tuanya yang nampak khawatir. "Masa udah nikah masih mau tinggal sama orang tua"


"Ih jangan bilang ibu dan ayah mau berduaan saja, biar kayak muda lagi" Tergelak ketiganya melihat ekspresi meledak Putri yang kesal. Pipinya bahkan di gembungkan memperjelas dirinya tak suka.


"Putri mau belajar masak sama ibu juga, masa Aa kukasih makan hambar, asing, pedas, gosong terus" Rengek Putri akhirnya. Farhan membuang muka. Ia tak ingin terlihat menuntut istrinya. "Justru itu kenangannya, kamu gak tahu gimana ibu dulu waktu nikah, masak air saja sampai pancinya terbakar" Ledek ayah membuatnya ibunya tersenyum malu.


"Itukan sudah lama bangat Yah, lagian bukan karena gak bisa, ayah aja keasyikan ngajak ibu ngobrol sampai lupa kalau masak air" Ibunya berkilah, sembari membukakan toples berisi jajanan. "Ini dimakan, jangan dengarkan kata ayah, suka ngarang".


"Pernah masak nasi tidak di cetrekin, masak sayur kelembetan. Semua ada masanya dan berproses gak bisa langsung enak, nanti kalau udah tuakan bisa di ceritain ke anak-anak".


"Tapikan kasihan Aa"


"Aa tak pernah nuntu apa-apa ke Putri lho" Sahut Farhan yang merasa tak enak hati kepada mertuanya. Ia tak ingin image nya merasa buruk hanya karena ucapan istrinya yang disalah pahami.


"Karena A Farhan gak nuntut apapun ke Putri, jadi Putri banyak nuntut ke diri sendiri"


"Wajar sih kalau Putri khawatir, sebagai istri ia juga bisa diandalkan, alasannya sederhana ingin di puji, cuma ya itu cowok ga pernah peka kayak ayah , udah capek-capek ibu buatin makanan sampai resep tanya ke tetangga tapi pas makan gak kasih pujian sama sekali".


"Ah! Ayah ingat! Ibumu nangis dan marah sama ayah karena itu dulu, itu kali pertama ayah bikin nangis tanpa sadar"


Pasangan Putri dan Farhan hanya saling melirik satu sama lain , obrolannya memang bukan hal yang luar biasa, namun banyak hal yang bisa di petik oleh keduanya. Seulas senyum terpatri mengamati kedua tingkah orang tuanya .


Sampai disini dulu ya ..

__ADS_1


Jangan lupa like dan Vote nya teman-teman 😊😊😊


__ADS_2