Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
SELAMAT ANDA LULUS


__ADS_3

JKA. Selamat Anda Lulus


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tinggallah menghitung jam. Seorang diri Putri menunggu jam sepuluh, 'pikirannya kalut dengan debaran jantung yang tidak bisa di kendalikan. Jemarinya bahkan terus mengepang suaminya untuk memberikan doa kepadanya.


Tingkat keberhasilan lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tidaklah tinggi karena pesertanya bukan lagi sekota, sekabupaten namun satu negara.


Alarm ponsrlnya berdering tanda Putri sudah mengeset jamnya untuk menanti hasil pengumuman. Tepat pukul sepuluh Putri mamasukkan syarat untuk log in menuju website pengumuman.


"Loadingkah" Gumam Putri sambil mencoba website lain dan tak dijumpai kesalahan sama sekali. "Bukan sinyal berarti, apa server down karena seluruh anak kelas dua belas di Indonesia mencoba untuk memasuki situs yang sama .


Setelah lima belas menit mencoba, Putri akhirnya berhasil masuk ke website. Refleks sujud syukur ia panjatkan saat melihat namanya terdaftar muncul dengan ucapan selamat menyertainya.


Anda Lulus


Putri langsung menscreenshot. Tangganya langsung bergerak untuk menekan tombol share. Story' WhatsApp , Instagram kini terpajang storynya . Begitu pula ia mengirim pesan dengan rekan segrubnya , berbagi kebahagiaan sesama.


Tak lupa suaminya yang tengah bekerja juga dikirimi pesan spam olehnya .


Putri: Aa, Putri mau kasih kabar baik nih..


Putri: Aa, Baca dengan seksama Yah..


Putri: Aa, Putri Lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri.


Putri: Aa Putri Lulus!!


Ilmu Gisi, Jurusan yang diinginkannya kini sudah di depan mata, ia sudah membayangkan masuk kuliah bergengsi masuk kuliah dengan jurusan yang dimimpikannya. Putri menanti balasan, namun suaminya tak kunjung menjawab.


Putri memilih teman akrabnya,Vania dan Iffah berbagi kebahagiaan. Panggilan ketiganya terhubung . Layar ponselnya menampilkan kedua wajah temannya yang sudah dirindukan. "Teman-teman ... Aku Lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri" Heboh Putri yang dibalas heboh juga kedua temannya . "Wah selamat Putri" Seru Iffah begitupun Vania . "Ciee udah gak berurusan sama buku tebal lagi nih.." Kini Vania bersemangat. "Aku belum lolos , doain aja yah, aku udah gak sabar pengen jadi mahasiswa , temanku udah merit semua, aku iri" Ucap Vania random yang tampak gugup dan canggung, memang tidak mudah berkomunikasi melalui Videocall seperti ini.


"Fah, Iffah!! Kamu tuh bukannya bikin makan siang malah enak-enakan dikamar!"


Deg!


Putri terdiam cukup lama, panggilan dengan Iffah terpotong begitu saja, begitupula Vania yang sama terkejutnya. "Kek ada yang tidak beres yah?" Tanya Vania yang dibalas anggukan bertanda setuju. "Eum, udah dulu yah nanti telpon lagi" Putri mengakhiri panggilannya, keadaan kembali dengan begitu canggung.

__ADS_1


Jelas sekali keduanya mendengar teriakan amarah yang membuat wajah Iffah memucat. "Bukan apa-apa Put!" Putri menolak pikiran buruknya, berpositive thinking lebih mudah baginya.


'Mungkin itu memang watak suaminya yang agak keras' Batin Putri meyakinkan diri. Bukankah sifat seseorang dan pembawaannya berbeda satu sama lain, ada yang keras diucapkan tapi baik di perilaku , Ada yang keduanya baik, dan begitupula baik dilisan namun buruk di perilaku.


Tidak mudah melupakan yang di dengarnya sampai tangannya menyenggol kursor membuat laptopnya kembali menyala. "Ah! Sampai lupa kalau aku lulus seleksi" Senyum yang tadi sempat hilang kembali muncul.


"Ah masak Ah, Syukuran gitu" Ucap Putri merenggangkan tubuhnya. Rambut panjangnya di gulung. Setelah melewati kegagalan, Putri kini sudah mulai lihai dalam meracik bumbu .


"Andai bisa berbagi kebahagiaan dengan ibu dan ayah" Putri menepiskan bibirnya. Kini mulai terasa rasa sepi yang sebelumnya di membayangkannya. Canda tawa bersama keluarga kini begitu terasa. Walaupun kedua orang tuanya sibuk di siang hari, namun sore hari hingga malam, canda dan bincang ria selalu mengasikan .


"Ayah dan Ibu dulu nikah muda, pasti ngerasain hal yang sama kayak yang ku alami sekarang" Putri mematut dirinya di cermin sekali lagi, meyakinkan diri sebelum akhirnya berlari kecil di dapur. Satu pesan yang di kirimkan oleh suaminya .


Putri: A , jangan bawa makan pulangnya, Putri masak.


****


Farhan bersama Abinya kini tengah melihat lokasi yang akan digunakan untuk pengembangan yayasannya. Yayasan yang awalnya di dirikan untuk para penghafal kini berubah menjadi Taman Kanak-kanak seperti yang diinginkan warga di daerahnya. Tentu saja Farhan dan abinya tidak keberatan.


"Jadi semua Farhan yang atur? Perekrutan dan kualifikasi karyawan semua Abi serahkan ke Farhan" Tanya Farhan, sudah enam puluh persen yayasan yang tengah di renovasi.


"Kamu sudah cukup dewasa buat menentuin jalanmu sendiri, Abi sudah cukup yakin kamu bisa mengatasi masalahmu" Ucapnya tak membuat Farhan paham. Sudah terlalu banyak pikiran buruk untuk ayahnya sendiri .


"Orang tua mana yang tega melihat anaknya masuk dalam pergaulan yang salah, ajaran siapa masuk ke mall dan memakai jaket tanpa membayar sampai sirine mall berbunyi dan kalian ditahan di mall? Bolos sekolah sejak SD?Belum lagi suka nongkrong sampai malam, Abi sama sekali tidak akan bertindak mengurungmu dalam pesantren, kalau aja kamu nurut apa kata Abi" Jelasnya, Farhan masih tak menerima alasan itu, tak masuk akal baginya jika hanya karena masalah kecilnya.


"Apalagi yang mau kamu dengar? Masih belum cukup? Mengambil uang ayah saat liburan untuk pergi nongkrong dengan teman wanita? Tindikin telinga biar bisa bergaya? Abi juga tahu kapan kamu mulai bergabung balap liar untuk menangin uang 2 juta tapi justru harus habis puluhan juta" Farhan terdiam. Ayahnya perhatian begitu banyak kepadanya. Yang dipikir telah disembunyikan dalam-dalam ayahnya tahu tanpa berbicara apapun padanya sebelumnya.


"Farhan... Farhan salah" Ia tertunduk , merasa menyesal dengan penilaian dirinya. Ia merasa terkurung dan hidup tanpa tujuan karena segala hal yang telah tercapainya semua karena ayahnya yang mengarahkan. Bahkan saat dilepas sebentar, ia cukup kelimpungan memikirkannya.


"Maafin Farhan Abi" Ucapnya tulus, tangannya meraih lengan ayahnya. Tanpa haru. Farhan masih cukup terkejut, Abunya tak pernah menegurnya dari awal, hanya terus memaksanya melakukan ini itu .


"Bagaimana istrimu? Hari ini adalah pengumuman ujian lulus?" Tanya ustadz Firman membuat Farhan menoleh cepat "Masa? Bukannya nanti tanggal dua lim- eh, sekarang tanggal dua lima" Farhan merogoh ponselnya. Melihat sebuah pesan masuk .


"Kayaknya lolos, Putri masuk" Tunjuk Farhan pada pesan yang masuk, Abisnya tersenyum kecil. "Abi ajak umi sekalian" Pinta Farhan yang dibalas anggukan oleh abinya.


"Ah Abi" Farhan nampak kikuk kini. Ia ingin bertanya namun begitu takut jika pertanyaannya di sepelekan dan begitu remeh. "Apa?"


"Sambil jalan Bi" Ajak Farhan, Hari sudah mulai sore dan berbicara di dalam mobil akan terasa lebih mengalir menurut Farhan.

__ADS_1


"Dulu Abi sama Umi nikah mudakan?"


Farhan mengutuk dirinya yang begitu bodoh dalam hal bertanya , semua sudah nampak jelas. Kedua orangtuanya seumuran, nikah lulus SMA dan masuk kuliah di jurusan yang sama dan lulus bareng. Namun satu yang menarik bagi Farhan kini.


"Kuliah dulu, biaya sendiri Bi?" Tanya Farhan yang dibalas anggukan oleh abinya . "Iyalah, paling biaya masuk masih minta tapi setelahnya biaya sendiri" Farhan mengatupkan bibirnya rapat. Ia memiliki tabungan yang cukup namun ia takut jika pengeluarannya akan lebih banyak dari tabungannya.


"Terus kuncinya gimana biar gak boros, Farhan belum berani jika Putri mengatur keuangan. takut ikut pusing, Putri masih harus fokus ke kuliahnya" Mengkhawatirkan istrinya. Itulah Farhan saat ini. Ia belum berani banyak membebani banyak hal. Kehadirannya dalam hidup Putri sudah cukup menyulitkan. Setidaknya Farhan masih belum berani menuntut banyak hal pada istrinya.


"Terbuka aja, ini uang simpanan segini, sebulan cukup segini apa nggak, makan apa adanya"


"Tapi Farhan bawa Putri bukan untuk di ajak susah"


"Siapa yang ajak susah, Abi cuma minta kamu berkomunikasi aja dengan benar, lagian susah itu fleksibel tergantung tolak ukur masing-masing"


Farhan mencerna ucapan Abinya . Ia setuju , Putri tak pernah meminta banyak hal , seharusnya ini tak membuatnya bingung . "Lagian kamu masih ada Abi, kalau ada apa-apa bilang saja"


"Iya Abi, dulu Abi sering ngunjungi rumah mertua gak? Putri kayaknya pengen ketemu orang tua tapi Farhan gak bisa ngatur waktu, banyak deadline yang harus dikejar"


"Ga papa, kasih waktu istri kamu seminggu disana tiap dua atau tiga bulan sekali , kamunya tetap kerja juga gak papa, istrimu bakal ngerti".


Farhan menyadari kedangkalan pola pikirnya, seulas senyum terbit. "Makasih Bi" Ucap Farhan dengan tulus , memberi waktu istrinya sebulan sekali , ia tak keberatan. Farhan memarkirkan mobilnya di depan rumah orangtuanya.


"Uminya udah siap dengan rapi, dengan gamis dan hijab panjangnya dan tak lupa dengan tasnya yang tercangkin di lengannya. "Abi naik mobil sendiri aja , kamu beli hadiah dulu sebelum pulang, jangan tanya sebelum istrimu memberi tahu, jika istrimu lulus pasti keinginan besar untuk memberi kejutannya tinggi" Ayahnya tak lelah mengajarinya. Farhan hanya tersenyum menanggapi. "Kalau gitu sampai jumpa Abi, Assalamualaikum" Pamit Farhan melajukan mobilnya, dadanya membuncah bahagia. Perasaan lega. Urusan dengan ayahnya sudah selesai.


Ayahnya tak seburuk yang ada di pikirannya.


****


Putri kini tengah menunggu suaminya pulang. Duduk di teras dengan terus menerus menengok jam di ponselnya.


Putri sudah tak sabar saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Putri bergegas masuk di dalam rumah. Ia bersembunyi di balik pintu , siap untuk membukakan dengan tangan yang sudah memegang genggaman pintu.


-


-


-

__ADS_1


Sampai disini dulu .. Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗🤗🤗


__ADS_2