Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
Di omongin kakak kelas


__ADS_3

JKA. Di omongin kakak kelas


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kami sudah bisa melemparkan candaan , ini benar-benar layaknya seorang remaja yang berpacaran . Aku belum merasakan perihnya pernikahan yang seperti teman-teman ku ucapkan .


Masih belum sebulan liat saja nanti


Belum ngerasain aja capeknya


Apalagi kalau nanti punya anak .


Banyak yang memiliki kekuatan berlebihan pada pernikahan,' meski pernikahan' selalu di elukan oleh semua orang . Namun dari banyak sisi yang di takutkan tentu saja ada sisi indahnya , seperti orang tuaku yang begitu harmonis dengan sweet moments yang sering mereka pamerkan kepadaku , sesekali pertengkaran kecil karena perbedaan pendapat.


"Pulang dulu ya, Ummi udah kesini" Ucap A Farhan membuat ku mengedarkan pandanganku . Semua orang bisa menjalaninya , termaksud aku . "Sudah mi'?" Tanya A Farhan yang dibalas anggukan " Udah, langsung di makan, katanya buatan mu enak"


Deg!! Aku melirik suamiku yang memandangku , Apa dia benar-benar memasak? "Putri kenapa?" Tanya Ummi khawatir kepadaku. Aku menggeleng pelan .


"A Farhan beneran masak Ummi?" Tanyaku memastikan yang dibalas anggukan tanpa raguan . Aku mendelik mendengar penuturan uminya "A Farhan mau belajar masak katanya, dia datangin rumah Ummi tadi siang buat belajar masak sambil bawa belanjaan .


"*Ga usah terharu, udah telat , mau pulang"


"Putri juga suka masakan Aa Farhan , Ayam teriakinya Putri suka"


"Kalau itu Ummi yang bikin"


Deg!! Suasana macam apa ini . Tingkah bodoh apa yang sedang ku lakukan saat ini .A Farhan menepuk pelan bahuku membuat kami saling berhadapan*

__ADS_1


"*Udah mau sore, Aa pulang dulu yah"


"Aa pasti marah, kesel , dan sebel kan sama Putri*?" Tanyaku takut aku mencoba mengapresiasikannya namun salah sasaran.


"*Nggak kok tambah Sayang"


"Ekhem!!"


"Ummi"


"Ga ingat tempat nih*?" Kuedarkan pandanganku , gazebo masih ada beberapa wali murid yang menjenguk putrinya .


"Ga papa ya , yang ga tahukan ngiranya kita kakak adik , aku adiknya dan kamu kakaknya" Ledek A Farhan lagi .Jika ini bukan di pesantren aku sudah menghambur pada dada bidangnya . Jangan liat aku sebagai santrinya , aku juga remaja dan dia juga suamiku.


"Ga mau jadi kakak adik" Ucapku dan beralih pada Ummi , ibu keduaku . Aku memeluknya erat . "Maaf ya Ummi belum bisa Nemanin putra Ummi , Putri masih mau cari ilmu" Ucapku yang dibalas anggukan kecil "Ummi justru bangga keputusan Nak Putri yang masih memikirkan sekolahnya" .


"Besok A Farhan gak bisa datang , harus rapat sama pemuda yang mau diajak buat pemberdayaan masyarakat" Papar ibunya .


"Bukannya A Farhan bikin yayasan ya Bu"


"Iya, pemudanya nanti yang bakal ngeramein yayasan itu , banyak yang masih kurang , khususon dananya" Ungkap Ummi membuat ku terhenyak .


"*Tuh kan! Putri bilangin jangan boros , nanti kalau kesini lagi jangan bawa apa-apa "


"Iya sayang iya*"


Keduanya meninggalkan ku yang masih terduduk di gazebo . Aku masih memikirkan ia yang tak bisa datang besok , rasanya aku akan kesepian . Hanya sejenak lalu aku kembali ke asramanya. Sepanjang jalan aku merasa seseorang membicarakan ku .

__ADS_1


"*Itu anaknya, itu itu "


"Masa di gazebo mesra-mesraan , mentang-mentang udah sah"


"Santri yang seharusnya tetal berprilaku santri gak sih"


"Gak tahu ada yang panas apa*"


Aku hanya bisa mencoba untuk menulikan pendengaran ku. Aku harus sampai di kamarku cepat dan bertemu lagi dengan teman-teman ku yang selalu mendukungku .


"*Di jenguk terus sekarang , jadi iri deh"


"Makanya nikah iyakan Put*?" Sahut Iffah membuatku terdiam .


"Tadi kakak kelas ngomongin aku" Aku butuh teman bicara saat ini .


"Siapa? Bilang apa? Gak tahu aja lawannya siapa sekarang"


"Emang siapa?"


"Ustadz Zahra . Siapa lagi?" .


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2