Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
Holiday


__ADS_3

JKA. Holiday.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Farhan melajukan mobilnya , lupakan makan dimana, dengan keadaan istrinya yang menangis tentu saja di rumah menjadi tempat yang pas. Tangis Putri mulai reda namun Farhan tidak berani bertanya . Ia akan membiarkan suaminya yang lebih dulu berbicara . Mobilnya sudah terparkir di depan rumahnya. "Dek Putri masuk dulu yah?, Aa mau balikin mobil dulu" Ucap A Farhan yang dibalas anggukan oleh Putri , dititipkannya kunci rumah dan Putri masuk di dalamnya .


Wajahnya menunduk malu, ia menangis setelah mendengar pertanyaan suaminya . Jemarinya tertaut menunggu suaminya pulang, saat ini ia berada di ruang tamu . "Pengen cepat berangkat lagi" Gumam Putri masih merasa malu , ucapannya pasti menyakitkan saat suaminya bertanya seperti itu . Suara motor suaminya terparkir , membuat jantungnya berdebar tak karuan .


"Assalamualaikum" Ucap A Farhan saat membuka pintu rumah , Putri menegang karena kecanggungan yang menderanya . "Wa'alaikum salam" Cicit Putri menunduk , matanya memerah . "Dek Putri istirahat dulu saja barangkali capek" Ujar suaminya memberi perhatian kecil , ia duduk di sofa kecil di samping istrinya . "Atau mau ku bantu beresin barang?" Tanyanya lagi dibalas gelengan . Farhan tentu saja mengerti istrinya masih usia remaja , ia bisa membimbingnya dengan lembut .


"Kalau gitu aku akan cari makanan dulu yah?" Farhan menyambar kunci motor yang di letakkan di meja . "Ikut" Cicit Putri membuat Aa Farhan terdiam "*Ya udah mau sekarang atau ganti baju dulu?" .


"Putri ganti baju dulu, tungguin ya Aa*" Pinta Putri A Farhan hanya mengangguk kecil . Senyumnya mengembang arah pandang mengikuti istrinya yang menghilang saat menuju lantai dua .


"Mengejutkan sekali" Gumam A Farhan pindah ke sofa panjangnya dan merebahkan tubuhnya . raport yang di bawahnya tergeletak di meja . "Aku tadi ngomong apa ya?" Fikir A Farhan berusaha keras alasan apa istrinya menangis . Ia banyak melamun akhir-akhir ini, Putri kembali setelah lima belas menit , wajahnya lebih ceria dengan bedak dibubuhkan ke wajahnya , bibirnya juga sedikit merah .


"Mau makan dimana A?" Tanya Putri saat berada di hadapan suaminya , melihat respon suaminya yang nampak tidak mempermasalahkannya membuat Putri harus bersikap biasa-biasa saja ."Maunya dimana?" Tanya A Farhan membuat Putri terdiam . Lagi-lagi putri memikirkan biaya makan uang takut terlalu besar. "Aa udah lama gak disini , jadi gak tahu yang enak dimana" . Tambah A Farhan lagi takut pertanyaannya tersinggung karena istri sangat diam.


"Eum.. Putri kan juga keluarnya 2 Minggu sekali Aa, itupun ke warnet" Putri terkekeh kecil urusan memilih tempat makan memang selalu tidak muda. Satu sama. "Ya udah Random aja yah" Putus A Farhan yang di balas Anggukan oleh istrinya . "Katanya kalau rame pasti enak" Ungkap Putri mendapat angcukang jempol oleh suaminya. "Kita cari tempat makan yang rame" Farhan membenarkan jaket jeansnya , menyambar kunci dan memastikan dompetnya ada di sakunya.


"Putri masak sendiri atau mau makan di luar terus?" Tanyanya sembari mengunci pintu rumahnya. "Putri mau belajar masak kok, tapi Aa jangan kecewa yah kalau masakan Putri gak enak , Putri beneran gak bisa masak " Cicit Putri merasa payah , padahal umurnya sudah delapan belas tahun.


"Nggak kok , kalau gak enak gak ku makan"


"Tahu ah kesel"

__ADS_1


Farhan mengeluarkan motornya , memberikan helm kepada istrinya . "Tapi Putri beranikan dirumah? besok Aa harus kerja , Aku bukan pengangguran tahu"


"Ah.. iya Putri salah , jangan di ungkit "


"Ayo" Dengan wajah cemberut, Putri naik ke motornya . Pria di depannya sangat tahu cara merusak dan memperbaiki moodnya . Tangannya memegang ujung baju suaminya sebagai pegangan ."Barangkali takut jatuh, boleh di peluk lho gak dilarang" Ujar A Farhan dan memajukan motornya pelan. Putri mematuk kepalanya membuat helmnya berbenturan .Membuat pria di hadapannya mengaduh .


"Ga mau peluk"


"Aku ngebut nih"


"Biar... Aa!" Pekik Putri kencang , Farhan tak tanggung menangcas gas saat jalan mulai renggang , bukan pelukan yang didapatkan tetapi pukulan ringan di punggungnya , membuat Aa Farhan tertawa lepas. Mengerjai istrinya sangat menyenangkan , ia bisa memposisikan diri sebagai suami , kakak' , teman , sesuai kondisi yang ada .


Farhan menghentikan motornya pada franchaise ayam yang cukup terkenal . Produk olahan ayam selalu menjadi favorit . Tiada akhir dan menjadi solusi termudah saat menentukan tempat makan .Putri memilih tempat sedangkan A Farhan memesan makanan . Tidak terlalu ramai tempatnya namun karena bukan jam makan , mereka melupakan niatan membeli makan di manapun tempat yang paling ramei.


"Ikhlas" Ucap Farhan lagi . Putri menukar minumannya lagi , ia memang tak ada niatan untuk makan segelas penuh , dia hanya mencicipinya . "Nih Putri balikin , Putri cuma nyicipin kok " Matanya mengerjap , dan menatap intens suaminya , cukup lama Farhan bertahan hingga akhirnya ia luluh dengan tatapan istrinya , sebisa mungkin ia menahan senyumnya namun gagal .


"Udah yah Sayang sekarang makan dulu" Farhan memilih untuk menyantap makanannya , tatapan wanita di hadapannya cukup menjebak dirinya .


"*Baca doa dulu"


"Iya sayang*"


Menyenangkan , walaupun kata mereka , pernikahan indah ini karena belum seumur jagung , tetap saja harus di syukuri . Mereka yang bilang semakin hubungan semakin banyak konflik . Tidak masalah selagi salah satu bisa mau mengalah dan saling mengerti satu sama lain .


"Putri" Panggil Aa Farhan selesai mengunyah makanannya . "Ga boleh bicara sambil makan Aa" Ucap Putri membuat A Farhan mendengus kesal ."Akukan mau bilang Putri cantik , dandan jadi lebih cantik" Farhan menyandarkan tubuhnya , menatap Istrinya yang kini menunduk , hanya sebentar . Putri mendongak menatap suaminya Tajam . Putri sama sekali tidak mendengar pujian didalamnya , Putri merasa suaminya sedang mengejeknya saat ini .

__ADS_1


"*Aku beneran lho , jangan negatif terus sama aku"


"Habisnya ngeselin"


"Tadi kenapa juga menangis tiba-tiba*" Istrinya sudah baik-baik saja . Farhan merasa perlu meluruskan tangis yang istrinya tumpahkan .


"*Putri kan gak tahu persisnya kerja Aa kayak gimana, penghasilan Aa sebesar apa , Aa juga ditanya cuman diam aja"


"Emang nanya apa?"


"Kok kesel yah"


"Putri..."


"Tanya Putri nanya , kalau nikah muda emang putri akan kehilangan masa muda Putri? Aa bakal ngekang putri atau gak kedepannya dan lagi Aa bakal membatasi Putri ga tentang kuliah putri dan lainnya , namun Aa cuman malah diam aja* ?" Putri juga penasaran dengan jawaban suaminya . Ia juga takut dengan apa yang akan di dengarnya , bisa saja yang di ucapkan temannya benar .


"*Putri khawatir dengan itu?" Tanya A Farhan yang di balas Anggukan tanpa ragu .


-


-


-


Jangan lupa tinggalkan jejak 😊😊😊*

__ADS_1


__ADS_2