Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
TETANGGA JULID


__ADS_3

JKA. TETANGGA JULID


Keduanya hanya saling diam di dalam kamar, Farhan terlalu takut untuk bersuara, bukan karena ia takut terhadap istrinya. Ia takut karena hatinya akan lemah atau emosinya naik. Perjalanannya cukup menguras tenaga, Farhan bisa saja keluar dari kamar, namun ia tak mau membuat mertuanya khawatir


"Jadi nggak mau pulang?" Tanya Farhan pelan yang di balas anggukan oleh istrinya dari balik selimut. Farhan menghela nafas berat mengetahui jawaban istrinya


"Butuh waktu berapa lama?" Tanyanya lagi, namun kali ini tak ada jawaban. Farhan hanya mengangguk mencoba memahami posisi istrinya


"Seharusnya kita bisa bicara lebih banyak untuk menyelesaikannya, tapi aku berusaha ngerti kok, aku pulang dulu" Farhan tak bisa bertahan lebih lama lagi, nafasnya terasa sesak harus menahan emosi


"Lain waktu aku datang lagi, jangan lupa kesehatan" Farhan menepuk pelan lengan istrinya. Farhan bisa saja memaksa istrinya berbicara namun saat ini ia tengah berada di rumah mertuanya, ia khawatir Putri akan kelap jika ia terlalu banyak bertanya


Farhan kembali dengan perasaan hampa, senyum palsu tersungging menyapa mertuanya yang kini memandang menantunya khawatir


"Farhan nanti ke sini lagi Bu, Putri masih betah katanya" Alasan palsu pun terpaksa di ucapkan, ia tak mau terlihat menyedihkan. "Lho Nak Farhan ga nginep dulu?" Farhan menggeleng menanggapi pertanyaan Ayah mertuanya "Besok pagi masih ada pekerjaan" Kebohongan terus mengalir deras dalam ucapannya. Besok kantornya libur, siapa yang mau bekerja di akhir pekan


"Ya udah kalau gitu, nanti ayah sama Ibu bantu bujuk Putri biar mau pulang ya nak" Ibunya merasa bersalah, Farhan merasa tak enak hati mendengarnya. Putri anak mereka, namun tempatnya pulang kini ada padanya


"Ga perlu buru-buru Bu, takutnya malah nanti Putri tambah jengkel, Minggu depan nanti Farhan akan ke sini lagi"


"Minggu depan? Gimana kalau pas perpisahan aja? Sekalian ibu mampir nanti"


"Begitu juga boleh Bu, nanti Farhan ke sini dua hari sebelum perpisahan ya Bu"


Farhan pamit. Kembali pulang dalam kesendirian, di satu sisi dirinya bahagia, tentu saja ia akan menjadi ayah. Namun mendapati istrinya seperti itu, Farhan merasa telah melakukan kesalahan. Beruntung jalanan tak begitu padat, Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hal seperti itu.. bisa melegakan pikirannya


******"

__ADS_1


Putri melongok dari pintu kamarnya, sepi. Orang tuanya bahkan tak ada yang mendatanginya setelah Farhan pulang "Apa mereka marah?" Gumam Putri menunduk lesu


Dirinya masih terkejut dengan berita kehamilannya. Usianya masih sangat muda. "Apa aku salah?" Gumam Putri lagi. Tanpa sadar air matanya menetes. Kekanakan memang


Ia menyadari jika ini bukan suatu kesalahan, takdirnya memang ia menjadi seorang ibu di usia muda, namun ia tak bisa kecewa setelah pengumuman kelulusannya. Universitas yang sudah lama di incarnya, universitas 10 besar terbaik di negaranya


Teman-temannya juga kuliah, ia juga sudah memberitahu ke sebagian temannya tentang kelulusannya, bahkan namanya juga terpajang sebagai peserta yang lulus seleksi Nasional Masuk perguruan tinggi di banner sekolahnya


"Putri makan dulu Nak" Panggil ibunya dari lantai bawah, Putri langsung mengusap air matanya, memuakan sekali jika harus di tanya banyak


"Tarik nafas" Putri mensugesti dirinya bahwa dirinya baik-baik saja. "Keluarkan" Tiga kali Putri mengulang sebelum akhirnya ia menuruni tangga menuju tempat makan


Keluarga kecilnya berkumpul. "Minggu depan suamimu nanti ke sini lagi, tapi Ibu bilang ke Farhan buat nanti saja perpisahan sekolah aja, biar Ibu bisa numpang bareng" Kekeh ibunya yang di balas anggukan kecil oleh Putri. Perpisahan sekolah, ia tak mengingat sama sekali. Putri hanya mengangguk kecil


Perpisahan sekolahnya memang masih dua Minggu lagi. 'Apa yang harus ku katakan nanti ke teman-teman' Batin Putri. Gengsinya memang besar. "Jadi jahit baju Bu?" Tanya Putri dengan mata mengerjap. Ia harus merayu ibunya agar tidak melupakan rencana foto bersama itu


*******


Selama di rumah orang tuanya, Putri mengira akan mendapatkan ketenangan bersama keponakannya namun ternyata dugaannya salah. Putri tak mendapati itu. Di saat orang tuanya pergi ke sawah untuk menggarap lahannya, Putri memilih untuk menjaga toko untuk mengisi waktu kosongnya


"Lho, Nak Putri kapan pulang?"


"Katanya udah nikah, kok nggak ngundang-ngundang sih?"


"Suaminya mana?"


"Kok udah punya suami malah tinggal sama orang tua, berantem? Biasa sih pasangan muda emang suka ngebetnya doang terus berantem balik ke rumah masing-masing"

__ADS_1


Putri memandang kesal, namun ia juga tak bisa menjawab dengan benar, entah apa yang terjadi jika ia mengatakan jika kini tengah mengandung, sistem perjulidan tetangga memang lebih panas dari netizen


"Kenapa sih harus sembunyi-sembunyi nikahnya" Tanya tetangganya yang membeli bumbu penyedap satu saset. "Ga sembunyi-sembunyi kok, Bu. Di depan ribuan santri"


"Biar apa? Keliatan paling afdol? Padahal nikah di kampung sendiri juga ga masalah kan?" Putri menghela nafas berat, untuk mendapatkan uang lima ratus rupiah. Ia harus menguatkan mentalnya. "Baru akad kok Bu, resepsinya belum" Jawab Putri sebisa mungkin dengan senyum yang sangat di paksakan


"Ah, cowoknya belum mapan ya? Jadi belum mampu biaya resepsi, cowok jaman sekarang emang suka bangat nekat, makasih ya" Ucap ibu tersebut, dan berlalu dengan mengibarkan bumbu penyedapnya. Satu orang itu, membuat wajah dirinya yang baik menjadi buruk, dengan gosip yang muncul dari bibir ke bibir yang tak beralasan. Kabar kehamilannya juga tersebar. Ia tak bisa menyalakan Ibunya yang mungkin saja terlalu bergembira mengabarkan, ataupun ayahnya. Bukankah orang tua sangat mendambakan seorang cucu?


Kabar itu keluar dengan banyak asumsi yang salah.


Putri di tinggal suaminya, karena tak bisa mengurus rumah dengan baik, alias manja


Putri hamil duluan di saat suaminya belum mapan


Pernikahannya tidak akan suci jika bukan orang suci yang datang


ngebet nikah, akhirnya malah jadi sendiri-sendiri karena belum punya mental yang kuat


"Padahal belum dua Minggu, makin gedek aja dengarnya" Putri hanya bisa tersenyum kecil mendengar bisik-bisik tetangga setelah mampir ke warung kelontongan keluarganya. "Kalau Aa datang, mau ku kenalin ke semua orang" Tekad Putri yang begitu kesal kini. Malah harus menunggu tiga hari lagi, ia akan meminta maaf ke suaminya, ia sudah salah


Ia sudah cukup menyalakan keadaan. Benar kata Farhan. Jika bisa di komunikasikan mungkin masalahnya akan cepat selesai


"Kenapa nggak ada sinyal sih" Rutuk Putri kesal melempar ponselnya ke sembarangan arah


"Kangen!"


#####Bersambung

__ADS_1


Maaf ya aku nggak terlalu up di sini ... Soalnya aku fokusnya ke The ex's Betrayal.. Tapi insyaallah aku bakal up sedikit-sedikit kok


__ADS_2