Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Feeling


__ADS_3

Happy Reading~


...****************...


Memiliki seorang kekasih yang cantik, penurut, lemah lembut, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang Arjuna Mollary. Pria berusia 27 tahun itu, memantapkan hatinya untuk segera meminang sang pujaan hati.


Sudah 5 tahun lamanya, ia merajut kasih sayang dengan teman satu profresinya semenjak duduk di bangku kuliah. Meysa Adriana, satu-satunya gadis cantik yang mampu meluluhkan seorang Arjuna.


Banyak para gadis yang mengejar-ngejar Arjuna. Tapi tak satu pun mampu menarik perhatian pria bermata sipit itu. Hanya pada Meysa lah, hati Arjuna luluh lantah.


"Sayang, kenapa berkeringat sampai kayak gini? Kamu sakit? Pucat sekali?" ucap Arjun sembari mengusap peluh Meysa.


Meysa menepis tangan Arjuna pelan, menggenggam jemarinya lembut dan menarik kedua sudut bibirnya hingga tercipta senyuman yang sangat manis.


"Aku nggak apa-apa kok. Jangan panik gitu," balas Meysa lembut memiringkan kepalanya menatap dengan mata sayunya.


"Yakin? Tapi kamu pucat sekali, Sayang. Ayo aku antar pulang." Arjuna menarik lengan Meysa namun dilepaskannya perlahan.


"A--aku mau ke toilet dulu ya," pamit Meysa melangkah terburu-buru.


Merasakan pusing yang luar biasa, ia pun bergegas menjauh dari kekasihnya. Tak mau membuat pria itu khawatir padanya. Dan benar saja, saat mematut dirinya di depan cermin yang besar, Meysa melihat darah keluar dari kedua hidungnya.

__ADS_1


Buru-buru ia menyekanya, dan mencuci wajahnya untuk menghilangkan jejak darah yang tersisa. Sudah beberapa bulan belakangan, dia merasakan sakit luar biasa.


Namun biasanya ia bisa menyimpan rapat rasa sakit itu. Baru beberapa hari terakhir, Meysa merasa keadaan tubuhnya semakin drop.


Meysa terus mengguyur wajahnya dengan air yang mengalir di wastafel. "Aku harus tetep sadar. Nggak boleh lemah, nggak boleh pingsan," ucapnya pada diri sendiri menepuk-nepuk kedua pipinya.


Pandangannya kembali jelas, ia menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar. Lalu beranjak keluar dari toilet.


Meysa terlonjak kaget ketika membuka pintu. Ia memegang dadanya yang berdenyut kasar.


"Sayang! Ngagetin ih," seru Meysa.


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian. Kesehatanmu lebih penting. Bagaimana bisa kamu merawat orang sakit jika tubuhmu sendiri tidak bisa kau jaga dan kau rawat!" tukas Arjuna melayangkan tatapan tajam.


Mau tidak mau, Meysa pun mengangguk dan menurut. Arjuna memapahnya dengan perlahan. Meski Meysa meyakinkan bahwa keadaannya baik-baik saja. Feelingnya mengatakan sebaliknya.


Sampai di kediaman Meysa, mamanya terkejut dengan kepulangannya. Pasalnya jam kerjanya masih beberapa jam lagi. Dengan langkah terburu-buru, ia menghampiri anak semata wayangnya itu.


"Meysa," gumam Indah, mama Meysa dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Meysa tersenyum manis dengan bibir pucatnya, ia menggenggam jemari mamanya dengan tatapan memohon. Segera membuka pintu lebar-lebar, mengambilkan air putih untuk putrinya yang telah duduk bersama sang kekasih.


"Ma, Meysa bandel sekali. Kalau Juna nggak memaksanya pulang, dia kekeh masih mau bekerja," adu Arjuna pada Mama Indah.


Mereka memang sudah sedekat itu. Juna adalah panggilan kesayangan keluarga Meysa. Sedangkan pria itu memanggil kedua orang tua Meysa dengan sebutan mama dan papa.


"Iya, Meysa begitu keras kepala. Kamu harus sering menjewer telinganya, Jun," celetuk mama Indah tersenyum kaku sambil menatap iba pada putri kesayangannya.


Arjuna mengacak rambut Meysa gemas. "Tuh, dengerin kata Mama. Beliau sudah bertitah, nyuruh jewer nih kalau kamu bandel lagi," decak Arjuna.


"Mama seneng banget kalau anaknya dianiaya," desah Meysa dengan manja.


"Ya abisnya kamu dibilangin susah, Sayang. Udah sekarang istirahat ya. Aku tinggal, harus kerja lagi untuk meminangmu," Arjuna mencubit hidung kecil Meysa membuatnya berkaca-kaca.


Arjuna memberikan kecupan di kening Meysa, lalu melenggang pergi dari sana setelah berpamitan dengan Mama Indah.


Meysa menangis tersedu setelah kepergian sang kekasih. Mamanya mengerti, cobaan terberat telah menimpa putri kesayangannya. Mama Indah berpindah tempat di samping putrinya memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Bersambung~


Jan lupa klik Fav, like dan komen ya... takyouu

__ADS_1


__ADS_2