
Arjuna masih menangis, tanpa mempedulikan pertanyaan Ziya. Pandangannya menunduk tak mau beralih, seolah lantai itu adalah sesuatu yang sangat menarik.
"Kak! Tolong katakan sesuatu, jangan diam saja!" pekik Ziya menarik-narik baju Arjuna.
Pria itu masih diam saja, ia terus mengabaikan Ziya yang terus berteriak di sampingnya. Sampai pada akhirnya, Arjuna beranjak dari duduknya. Berjalan gontai entah kemana.
Ziya menarik lengan Arjuna, "Apa yang Anda lakukan pada ibu saya!" geram Ziya berteriak.
Arjuna hanya melirik lengannya, menatap Ziya yang berlinang air mata. Juna masih merasakan sesak di dadanya. Tenggorokannya masih tercekat.
Pintu operasi terbuka, semua perawat mendorong brankar dengan senyum mengukir wajah mereka. Mengangguk ketika melihat Ziya.
"Ibu," sapanya melepas lengan Arjuna mendekati brankar.
"Operasi berhasil, beliau masih di bawah pengaruh bius. Akan sadar dalam beberapa waktu ke depan," terang asisten dokter.
"Alhamdulillah," ucap mereka serempak yang sedari tadi menunggu penuh kecemasan.
Ziya dan kawan-kawan turut mengikuti derap langkah perawat ke ruang rawat inap. Arjuna hendak melenggang pergi.
"Dokter tunggu!" seru Reza melangkah pelan. Tubuhnya pun lemah setelah diambil 2 kantung darah.
__ADS_1
Ziya turut berhenti, berdiam di tempat melihat kakaknya yang menghampiri Arjuna. Reza memeluk Arjuna dengan erat.
"Terima kasih, terima kasih banyak sudah menyelamatkan ibu saya," ucap Reza menepuk punggung Arjuna.
Pria itu hanya mengangguk, ia masih tidak bisa bersuara. Kedua matanya masih mengeluarkan air mata.
"Kalau tidak keberatan, mari istirahat sebentar di ruangan saya," ajak Reza melingkarkan lengan di leher Arjuna lalu menariknya.
Arjuna pun berjalan bersisian dengan Reza. Ia memang butuh istirahat. Ziya yang penasaran mengendap-endap di belakang dua pria penyelamat ibunya itu.
Reza mendudukkan Arjuna di sofa ruang kerjanya. Lalu mengambilkan air mineral dingin dari kulkas.
Arjuna mengangkat tangannya. "Tidak, ini saja sudah cukup," ucapnya membuka segel dan menenggak minumannya.
Hampir habis setengah botol, Arjuna letakkan kembali di meja. Reza menyeduh susu dan duduk lagi di samping Arjuna. Ia masih merasa pusing dan lemah.
"Kamu dokter di rumah sakit mana?" tanya Reza menatap Arjuna.
"Di salah satu rumah sakit swasta di Bandung, mungkin sekarang lagi otw dipecat," sahut Arjuna tanpa menatap Reza. Ia menyandarkan kepalanya menengadah ke atas.
Reza berkerut kening, "Bandung? Lalu bagaimana bisa kamu sampai di sini? Apa sedang ada tugas atau ...."
__ADS_1
"Tidak!" tukas Arjuna memotong ucapan Reza.
Arjuna lalu menceritakan awal mula ia bisa mendarat di Yogya, tujuannya mendatangi kota keraton ini yang sedang mencari kekasihnya.
"Dokter Juna," panggil Reza setelah tadi sempat memperkenalkan diri.
"Panggil Juna saja. Jangan terlalu kaku gitu," cetus Arjuna dengan seulas senyum.
"Tinggallah di rumah kami sementara, sampai kamu bisa menemukan kekasihmu," tawar Reza menepuk bahu Arjuna.
Pria itu menoleh, "Tidak perlu repot-repot, terima kasih banyak tawarannya," tolak Juna secara halus.
"Ayolah. Sama sekali tidak merepotkan. Justru kami berhutang banyak sama kamu. Di rumah kami masih banyak kamar kosong," rayu Reza lagi.
"Beristirahatlah sejenak. Saya mau kontrol pasien dulu, sekaligus melihat keadaan ibu. Nanti kita pulang bersama. Tidak menerima penolakan!" tandas Reza mengenakan jas kebanggaannya lalu melenggang pergi.
Ziya yang sedari tadi menguping di depan pintu kelimpungan mendengar langkah kaki menuju keluar.
"Gawat!" seru Ziya.
Bersambung~
__ADS_1