Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Kesialan


__ADS_3

Alunan musik DJ yang menggema, memekakkan telinga Ziya. Dadanya juga ikut berdentum kuat, kilat lampu warna warni menyorot seisi ruangan yang saling menggoyangkan tubuh mereka.


Aroma minuman keras juga menyeruak di hidung Ziya, baru melewati pintu masuk saja kepalanya sudah terasa pusing. Ditambah asap rokok yang pekat turut memenuhi ruangan berisik itu. Ziya ragu, ia meneguk salivanya sambil mengedarkan pandangan.


Tangannya menarik ujung kemeja Alvin, menghentikan langkah keduanya, "Al, balik yuk," ucap Ziya berteriak karena bising.


Alvin mengerti dari gerakan bibir Ziya. Namun pria itu pura-pura tidak mendengarnya, "Hah? Kenapa Zi?" teriak Alvin balik.


"Balik sekarang!" Ziya semakin merinding melihat semakin banyak orang yang memasuki tempat tersebut.


Alvin mendekatkan telinganya ke bibir Ziya, bermaksud agar Ziya membisikkan di telinganya. Yah, walaupun hanya modusnya saja. Gadis itu sedikit berjinjit memosisikan bibirnya tepat di telinga Alvin.


"Alviiin! Ayo pulang sekarang!" jerit Ziya tepat di telinga Alvin, membuat gendang telinganya berdenging seketika. Alvin sontak memundurkan tubuhnya sembari mengusap-usap daun telinganya. Ia mendesis, raut kesakitan nampak di wajahnya.


Ziya sama sekali tidak merasa bersalah. Ia kembali berdiri tegak, memeluk tubuhnya sendiri. Melihat sekelilingnya sangat tak nyaman. Ini pertama kali baginya memasuki tempat seperti itu. Jika kedua kakaknya tahu habislah Ziya.


Tiba-tiba Alvin menarik pergelangan tangan Ziya. Menuntunnya lebih masuk dan mendudukkannya di sudut ruangan. "Tunggu sebentar ya. Aku pesen minum dulu." Alvin hendak meninggalkannya sendirian. Buru-buru Ziya beranjak dan menahannya.


"Ikut!" rengek Ziya dengan wajah imutnya.

__ADS_1


Alvin melepaskannya perlahan, "Tenang aja, di sini aman. Enggak bakal ada yang gangguin. Percaya deh. Bentar doang pesen minum, sambil nunggu temen aku datang," bujuk Alvin meyakinkan Ziya.


Gadis itu pun menyerah. Memang tempat mereka duduk sekarang jauh dari keramaian. Jadi ia sedikit merasa lega sekarang. Karena bosan, Ziya pun meraih ponselnya di dalam tas.


Kedua bola matanya membulat seketika saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab. Ia memang jarang menyalakan dering ponselnga.


"Kak Juna? Ngapain?" tanyanya sambil mengerutkan dahi.


Masih sibuk mengoperasikan HPnya, Ziya tidak sadar Alvin sudah berdiri di belakangnya. Dengan sengaja, ia menumpahkan wine yang dibawanya.


"Aaaarrgghh! Alvin! What the heel?" pekik Ziya sembari berdiri. Bajunya juga terkena sedikit wine tersebut.


Ziya menepis tangan Alvin dengan kasar. Wajahnya memerah menahan amarah. "Udah-udah, untung enggak banyak," gerutu Ziya mengambil tissu dari dalam tasnya.


Ingin ia beranjak ke toilet, namun tak punya keberanian. Ia pun kembali duduk dengan wajah yang ditekuk. Tersadar ponselnya pun mati. "Iiih mati!" dengus Ziya mengembuskan napasnya kasar.


Di sisi lain, Arjuna membelalakkan matanya ketika tiba-tiba titiknya menghilang, tak tersambung dengan Ziya lagi. Ia pun panik seketika.


"Li? Lily? Kenapa enggak tersambung?" ucapnya panik menggenggam ponsel milik Lily.

__ADS_1


Gadis itu tetap diam, tak menanggapi kepanikan Arjuna. Ia tetap fokus dan mempercepat laju mobilnya.


"Lily, apa yang terjadi? Jangan diem aja dong!" sentak Arjuna menepuk bahu kiri Lily.


"Bisa diem nggak sih? Gue tuh fokus biar cepet sampai. Kalau lu berisik terus mendingan turun deh!" bentak Lily balik memicingkan mata.


Dengan hati yang gusar Arjuna mengusap kasar rambutnya, berusaha menenangkan diri berharap tidak terjadi apa-apa pada Ziya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nanti aku benerin, Zi. Sorry banget ya. Sumpah enggak sengaja," gumam Alvin memasang wajah memelas.


Tak berapa lama, pelayan mengantarkan dua buah jus jeruk pesanan Alvin. Pria itu kembali memesan wine pada sang pelayan.


Ziya berdecak malas, karena merasa kesal, dengan kasar ia meraih gelas berisi air jeruk itu dan meneguknya dalam tegukan besar.


Bersambung~


Dikit dikit ajah biar menggigit 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2