Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Kabar Bahagia atau Sebaliknya?


__ADS_3

Sudah beberapa jam berlalu, Arjuna masih bergelut dengan pikiran dan hatinya. Ia memutuskan keluar kamar, tak sengaja berpapasan dengan Ziya yang mau ke dapur.


"Eh! Mau ke mana, Kak?" tanya Ziya. Matanya yang tadi mengantuk tiba-tiba melek lagi.


"Cari angin," balas Arjuna singkat.


Ziya melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 2 malam. "He? Tengah malam mau cari angin di mana? ACnya mati?" ucap Ziya lagi.


Namun tak membalas lagi, Arjuna melenggang ke dapur. Ia mulai membuka kulkas dan menuangkan air putih lalu meneguknya dengan cepat. Ziya yang tadinya ingin minum pun mengikutinya.


Setelahnya, Arjuna tak langsung kembali ke kamar. Ia duduk di kursi makan tak jauh dari dapur. Kedua lengannya menopang dagunya.


"Apa yang sedang kakak pikirkan?" tanya Ziya memperhatikan sedari tadi.


"Bukan urusanmu!" jawab Arjuna tanpa menoleh.


'Lah, perasaan tadi udah baik. Sekarang ketus lagi. Kek ABG labil aja, huuhh ... sabar Ziya, sabar. Dia telah menyelamatkan ibu. Dan ya, memang aku punya salah, tapi 'kan tadi dia udah baik-baik saja,' gerutunya dalam hati.


"Euumm ... Kak, kalau boleh tahu tujuan Kakak ke kota ini apa? Maaf, aku sempat baca alamatmu di KTP waktu bayar tagihan," aku Ziya menggigit bibir bawahnya.


Arjuna meliriknya dengan tajam, membuat Ziya menunduk. Terdengar hembusan napas berat Arjuna. Pandangannya beralih ke depan. "Aku sedang mencari kekasihku. Dia pergi, padahal aku hendak melamarnya. Informasi yang kudapat, dia pindah ke sini. Dan ya, aku pernah melihatnya," ucap Arjuna datar lalu beranjak dari duduknya.


Ziya mengerjapkan matanya berulang, "Astagfirullah, itu manusia model apa sih? Bicaranya cuma kadang-kadang aja. Kadang irit, kadang panjang lebar. Atau jangan-jangan di lagi tertekan? Iih, Nggak jelas," gumamnya lalu kembali ke kamar.


Tepat azan subuh berkumandang, Ziya bergegas menunaikan salat dimusholla dalam rumahnya. Biasanya mereka sekeluarga melakukan salat berjama'ah. Namun kali ini, ia terpaksa salat sendiri.


Setelahnya, Ziya mengambil alquran, membacanya dengan khusyu'. Mendengar lantunan ayat-ayat suci yang begitu merdu, membangunkan Arjuna yang baru terpejam beberapa saat yang lalu.


Hatinya bergetar mendengarnya. Menuntun kakinya melangkah ke sumber suara. Ia celingukan, lalu matanya menangkap cahaya yang berpendar di sebuah ruangan tak jauh dari kamarnya.


Arjuna melipat kedua lengannya, lalu bersandar di depan pintu. Melihat dan mendengarkan dengan seksama. Hingga Ziya selesai tadarus, Arjuna masih terpaku. Ziya lalu melipat mukenanya.

__ADS_1


"Loh, Kak?" panggil Ziya.


Seketika Arjuna terperanjat. Ia menyeka air mata yang keluar di sudut matanya.


"Mau salat?" tanya Ziya.


Arjuna menggeleng, lalu berbalik melangkah pergi. Ziya buru-buru menyegahnya. Tangannya memberanikan diri menyentuh lengan Arjuna. Pria itu menghentikan langkahnya.


"Kenapa menangis? Dan kenapa Kakak tidak salat? Padahal di KTP tertera beragama islam!" cecar Ziya.


"Aku ... hanya terenyuh mendengar kamu mengaji. Dan ... aku teringat almarhumah mama," jawab Arjuna menunduk.


"Dulu, mama sering mengajariku mengaji, salat, tapi Tuhan mengambilnya bahkan saat aku masih kecil. Aku merasa Tuhan tidak adil padaku." Buliran bening kembali jatuh dari sudut matanya. Dia selalu lemah jika mengingat wanita yang telah melahirkannya itu.


Ziya mengerti, mungkin karena itu Arjuna tidak pernah salat lagi. Ziya menariknya untuk duduk di sofa.


"Kak, ini salah! Hidup dan mati seseorang itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Kak, sekarang aku tanya. Jika Kakak diminta memetik bunga di sebuah hamparan bunga yang luas, bunga mana yang akan Kakak petik?" Ziya menatap dengan serius.


"Kalau disuruh milih di antara ribuan bunga yang layu, busuk, bagus, cantik, mana yang akan kamu pilih?" tandas Ziya lagi.


"Tentu saja yang paling bagus," jawab Arjuna sekenanya.


"Begitulah Allah mengambil hamba-Nya. Allah akan mengambil orang yang paling mulia di hadapan-Nya. Jadi jangan pernah berpikir Allah itu nggak adil. Justru mumpung kita masih bernapas, teruslah perbaiki diri. Dan satu lagi. Jangan membuat mamamu kecewa. Beliau sudah mengajarkan banyak hal, kenapa tidak kamu amalkan?" ceramah Ziya yang bahkan lebih terlihat dewasa pemikirannya. Padahal usia mereka terpaut cukup jauh.


Arjuna merenungkan setiap perkataan Ziya. Perempuan itu menepuk bahu Arjuna, membuatnya menoleh.


"Kak, satu-satunya yang dinanti orang tua kita sewaktu mereka tiada, adalah doa dari anak-anaknya."


Ucapan Ziya merupakan pukulan telak baginya. Pikirannya seolah terbuka. Ia pun beranjak segera mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya. Ziya tersenyum melihatnya.


"Kok nggak bangunin Kakak, Zi? Untung nggak kesiangan!" gerutu Rio melewati Ziya terburu-buru.

__ADS_1


"Beeeh, tangan ampe gempor ketok pintu kamarmu," gumam Ziya.


...****************...


Hari pun terus berganti, Meysa semakin dekat dengan Ziya dan keluarganya. Kehadiran mereka cukup menghibur Meysa. Sedang Arjuna, masih sibuk mencari keberadaan Meysa yang tak kunjung ketemu.


Satu minggu pasca ia tinggal di rumah Ziya, Arjuna terpaksa harus pulang. Karena sang papa yang terus menghubunginya. Meski masih berat, namun ia tidak mau mengecewakan papanya. Orang tua tunggalnya. Sejak mamanya meninggal, Papa Andreas tidak berminat menikah lagi.


Arjuna pulang naik bus, karena ia akan kembali lagi ke Yogya untuk menemukan separuh jiwanya.


...****************...


Tepat sebulan setelahnya, Ziya sekeluarga dibuat terkejut akan berita yang disampaikan oleh Reza sewaktu mereka sedang makan malam.


"What?! Nggak salah denger nih? Kakak mau nikah? Siapa perempuan yang mau sama orang yang kaku, dingin, nggak pernah senyum kek Kakak? Ya ampun, sepertinya mata perempuan itu bermasalah," celoteh Ziya sembari menyantap makan malamnya.


"Hust! Jangan sembarangan bicara Ziya," sanggah Ibu yang sudah membaik keadaannya.


Ziya menenggak minuman lalu meletakkannya sedikit kasar, masih terbawa suasana terkejut.


"Ibuku yang paling cantik sepanjang masa tiada duanya kecuali Ziya, Kak Reza 'kan nggak pernah kenalin perempuan manapun pada kita. Masa iya tiba-tiba mau nikah?" Ziya masih tak percaya.


"Itu namanya ta'aruf, Dek. Ya bagus dong, nikah tanpa pacaran. Pacaran setelah menikah itu nikmat banget. Aku pun juga nanti kayak gitu," serobot Rio menaik turunkan alisnya.


"Yaampun, Kak. Kita juga mau kenal dulu dong sebelum jadi keluraga. Gimana sifatnya, bibit bebet dan bobotnya. Aku nggak mau ya kalau kakak-kakak sekalian mendapatkan wanita sembarangan. Dia harus beneran sayang sama kakak! Masa jomlo selama 30 tahun lebih dapetnya perempuan yang nggak bener. Rugi dong! Satu lagi nih, selain yang aku sebutin tadi, yang paling utama adalah dia harus sayang sama ibu dan juga aku," cerocos Ziya yang tiada jedanya.


Sedangkan Reza masih santai menikmati santap malam mengabaikan omelan-omelan adiknya.


"Ibu yakin, kakakmu tidak akan salah pilih, Zi. Percaya aja," balas Ibu dengan tenangnya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2