Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Titik Terang


__ADS_3

Pagi ini, Arjuna terbangun ketika matahari sudah menanjak tinggi dari peraduan. Silaunya mentari membuatnya memaksa mengerjapkan mata.


Arjuna meregangkan tubuhnya, namun sedikit gerakannya ternyata membuat tubuhnya terjatuh ke lantai.


"Aduh! Sialan nih sofa. Sempit banget!" Lupa jika ternyata semalaman ia tertidur di sofa balkon.


Sudah sakit semua tidak tidur dengan benar, ditambah terjatuh pula bertambah encoklah punggungnya.


Arjuna beranjak bangun sembari memegangi punggungnya. Ia mendaratkan tubuh kembali di sofa. Meneguk air putih yang tinggal setengah botol sisa semalam.


Terlambat berangkat bekerja membuatnya mengajukan cuti dadakan. Arjuna segera membersihkan tubuhnya, ia pun kembali segar setelah mandi.


Arjuna turun dari kamarnya, menuju meja makan. "Bi, sarapan!" serunya mendaratkan tubuh di kursi makan.


"Baik, Den. Bibi siapkan dulu!" sahut sang asisten rumah tangga dari dapur.


Beberapa menit kemudian, sebuah omlete dan jus jeruk tersaji di hadapan Arjuna. Pria itu melahapnya dengan cepat hingga tandas.

__ADS_1


"Makasih, Bi," ucap Arjuna melenggang pergi.


"Hah? Saya belum ada lima menit meninggalkan meja makan, sudah habis semuanya? Jangan-jangan bukan Den Arjun lagi yang makan. Iiih serem." Bibi memegang tengkuknya yang terasa merinding.


Sebelum kembali ke rumah Meysa, Arjuna ke tempat kerjanya mencari informasi tentang wanitanya tersebut. Namun, tidak mendapatkan hasil apa pun.


Tak menyerah sampai di sana. Arjuna juga mendatangi kantor tempat perusahaan papa Meysa bekerja. Ternyata beliau telah resign sejak seminggu yang lalu.


"Kalau boleh tahu, apa alasan beliau mengundurkan diri, Mbak?" tanyanya pada HRD perusahaan tersebut.


"Apa itu kepentingan keluarganya, Mbak?" desak Arjuna menuntut jawaban.


Wanita itu mengerutkan kening, "Mana saya tahu, Mas. Mohon maaf jika sudah tidak ada keperluan, silahkan tinggalkan tempat ini. Kami masih banyak pekerjaan lain," ungkap HRD itu mengulurkan tangan mengarah ke luar.


Arjuna yang geram tidak mendapat jawaban pun menendang meja yang ada di depannya. Membuat beberapa orang tersentak. Ia beranjak dengan kasar, lalu meninggalkan lokasi.


Tepat seminggu kepergian Meysa tanpa kabar sedikit pun. Arjuna kembali ke rumah yang tidak terlalu besar dan berlantai dua itu. Ia terus menunggu, lagi lagi ia tidak menemukan petunjuk apa pun.

__ADS_1


Sesekali berdiri, berjalan, mondar mandi mengelilingi rumah itu. Namun tidak ada yang berubah. Pintu rumah masih tertutup rapat dengan gembok yang menggantung pada daun pintu.


Sejak awal kenal Meysa, Arjuna hanya tahu ini satu-satunya tempat tinggal Meysa. Arjuna duduk termenung di teras rumah Meysa. Menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Dek, ngapain di situ? Rumah ini sudah lama kosong," sapa seorang ibu-ibu menenteng belanjaan di tangannya.


Arjuna tersadar dari lamunannya, ia berlari mendekati wanita paruh baya itu. "Buk, apa Ibu kenal dengan Meysa? Yang tinggal di rumah ini?" tanya Juna perlahan menunjuk rumah Meysa.


Ibu itu mengangguk. "Iya, dia kan anaknya Bu Indah. Temen arisan saya itu mah," balasnya.


"Ah, apakah ibu tahu di mana keluarga Bu Indah sekarang? Atau nomor ponselnya?" tanya Arjuna tidak sabar.


"Bu Indah cuma berpamitan mau ke luar kota. Dan dia bilang kemungkinan nggak akan kembali lagi ke sini, habis itu nomornya tidak bisa dihubungi," jelas wanita tersebut.


"Lu--luar kota? Kalau boleh tahu di kota mana ya, Buk?" sambung Juna lagi penuh rasa penasaran.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2