
Kehadiran Arjuna yang tiba-tiba, membuat terkejut, kesal sekaligus bahagia bercampur aduk menjadi satu. Mata Ziya sampai berkaca-kaca, bukan karena terharu tapi karena batuknya yang tak kunjung mereda.
Juna menepuk punggungnya dengan lembut dan perlahan. Ia merasa khawatir dengan perempuan itu.
"Minum dulu, ambil napas panjang, keluarkan," ujar Arjuna menyibak anak rambutnya ke belakang telinga.
"Ngapain di sini? Sono tungguin Kak Mey lagi. Gendong-gendongan lagi!" cetus Ziya memalingkan wajahnya membelakangi Arjuna. Rasa kesal masih menyeruak di benaknya.
Sebuah senyum justru terukir di bibir tipis Arjuna. Hingga kedua lesung pipinya pun tampak lebih jelas. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Ziya.
"Cemburu ya, Neng?" goda Arjuna bergelayut manja.
Ziya semakin merunduk. Merasa geli sekaligus risih. Segera berbalik mendorong kepala Arjuna menjauh darinya. "Apaan sih? Malu tau dilihat orang!" cebiknya mendelikkan mata.
"Ya abisnya aku di sini, kamu liatnya ke sana," sahut Arjuna menahan kedua lengan Ziya yang hendak beranjak.
"Tadi Meysa muntah-muntah, enggak kuat berjalan sendiri. Jadi ya....
__ADS_1
"Enggak mau tau!" seru Ziya menutup kedua telinganya.
"Denger, aku melakukannya cuma sebatas respect aja. Enggak lebih. Serius, di sini cuma ada kamu. Gimana caranya biar kamu percaya?"
Arjuna berucap dengan memelas. Ia menghela napas panjang. Meletakkan tangan kecil Ziya di dadanya.
"Hati enggak ada yang tahu. Mulut bisa aja bohong!" sambar Ziya dengan ketus. Ia tak berani menatap manik hitam Juna. Ia akan mudah luluh jika menatapnya. Sorot mata yang tidak pernah bohong dan dipenuhi ketulusan.
"Astaga, Zi. Tolong mengertilah. Aku cuma kasihan aja sama Meysa. Jangan kekanakan gini dong," ujar Arjuna frustasi.
Ziya menangis, menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Menyamarkan isak tangis yang semakin keras. Juna membiarkan menumpahkan segala uneg-uneg yang dirasakan oleh Ziya.
"Sekarang coba kalau dibalik. Aku yang ada di posisi Meysa lalu ada pria lain yang merawatku. Atau ada pria lain yang lemah tak berdaya dan aku yang merawatnya. Bahkan sampai mengabaikan kamu. Apa yang kamu rasakan? Dan apa yang akan kamu lakukan?" ucapnya setelah menurunkan kedua telapak tangan.
Seketika Juna menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. "Maaf, jika aku nggak peka. Aku enggak mikirin perasaan kamu sejauh itu. Maafin aku, Zi. Maaf. Aku memang bodoh. Aku benar-benar mencintaimu. Aku hanya ingin bersamamu. Will you marry me?" Dilepaskan pelukannya, ia merogoh saku mengeluarkan sebuah benda kecil berbahan bludru.
Dibukanya perlahan. Nampak sebuah cincin emas putih yang sederhana namun terlihat elegan menyilaukan mata saat cahaya mentari membias di benda kecil itu.
__ADS_1
"Aku sadar, terlalu sering membuat luka di hatimu. Tapi aku akan memperbaiki semuanya. Jika kita sudah terikat, tidak akan lagi ada yang menghalangi kita."
Mata Ziya memicing, melirik cincin itu bergantian dengan wajah serius Arjuna. Mencari kebohongan dari sorot matanya.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada Meysa dan keluarganya," lanjut Juna lagi setelah tak mendapat jawaban apapun.
"Untung hati ini ciptaan Allah. Kalau buatan China udah remuk," sahut Ziya sedikit menyunggingkan senyum samar namun tak terlihat.
"Jadi?" Ditariknya dagu Ziya agar menghadapnya.
"Kamu terima enggak lamaran aku? Maukah menikah denganku?" ulang Arjuna.
Degub jantung Arjuna tak karuan kala melihat ekspresi datar Ziya. Di samping itu, kelima sahabatnya ditambah Lily turut tegang menyaksikannya. Mereka bahkan tak berkedip takut kehilangan pandangan dari momen indah itu.
Bersambung~
Terima nggak nih?😅
__ADS_1