
"Apa?" Dengan tampang tanpa dosa, Andreas menaikkan kedua alisnya menatap putranya yang tengah menahan emosi.
"Kenapa diceritain? Kan mau bikin kejutan, Pa!" geram Juna pelan menekankan setiap katanya.
"Eh! Salah? Ya maap. Papa 'kan nggak tau konsepnya!" Pandangan Andreas mengeliling ketika semua mata yang menatap tajam mengarah padanya. "Makan!" tawar Andreas menyuapkan satu sendok makanan di mulutnya.
Semua orang mengembuskan napas kesal. Namun pria paruh baya itu tidak peduli. Ia masih fokus menikmati makanannya tanpa merasa bersalah.
Resi menggelengkan kepalanya. "Kebiasan kamu enggak berubah dari dulu!" cibir Resi memulai makan malamnya.
"Bu, jadi ibu tahu?" tanya Ziya menuntut jawaban. "Kok nggak ada yang kasih tau aku sih!" cebik Ziya meletakkan kembali piring dan garpunya. "Dan lagi, Om sama Ibu mantan? Mantan terindah? Jangan-jangan nanti CLBK lagi!" dengus Ziya menatap dua orang itu bergantian.
"Eitt! Enggak akan!" seru mereka berdua bersamaan.
"Tenang aja, Zi. Bagi kami masa lalu cukup menjadi kenangan, ya 'kan, Res? Kita tuh cuma jagain jodoh orang waktu itu," ujar Andreas mencari pembelaan.
Juna berdehem sejenak, ia meraih jemari Ziya dan menggenggamnya. "Maaf, Sayang. Tadinya mau bikin kejutan di hari ulang tahun kamu, eh Papa dasar ember! Nggak jadi surprise nih," ujar Arjuna menjelaskan.
Ziya terkejut mendengarnya, rasanya seperti mimpi. Ia bahkan lupa kalau besok adalah hari lahirnya. Dan besok pula ia akan menjadi pengantin? Menikah?
Kedua mata bulat Ziya mengerjap lembut beberapa kali. Mulutnya bahkan masih menganga atas keterkejutannya.
"Hei, kamu baik-baik aja?" ujar Arjuna menggoyangkan lengan Ziya.
Selama satu bulan terakhir tanpa kabar dan sulit sekali dihubungi ternyata pria itu tengah menyiapkan pernikahan mereka tanpa sepengetahuannya. Bahkan ia sempat berpikiran negatif.
Sewaktu Ziya meninggalkan rumah sakit itu, Juna berbincang dengan papanya hingga tahu keluarga Ziya, dan ibunya merupakan perempuan di masa lalunya sewaktu mereka kuliah.
Setelah itu, Juna mendesak papanya agar segera meresmikan hubungan mereka secepatnya. Itupun berkomunikasi dengan Ibu Resi yang membantu menyiapkan dokumen yang diperlukan, sekaligus membahas mengenai rencana pernikahan tanpa melibatkan Ziya.
Air matanya tiba-tiba menyeruak, lalu menghambur ke pelukan pria yang akan menjadi suaminya.
"Makasih, Kak." Tak banyak yang terucap di sela isakannya, namun hanya menyurukkan kepalanya di dada Arjuna dan memeluknya semakin erat.
"Hei! Belum sah, enggak boleh pelukan lama-lama!" cibir Andreas di sela makannya.
__ADS_1
"Iissh, ganggu aja kamu. Biarin napa," tepis Resi memperingatkan.
"Semalam lagi, tahan, tahan. Besok baru halal diapa-apain. Ayo lepas! Lepas!" sembur Andreas.
Ziya pun tersipu malu, menjauhkan tubuhnya dari Arjuna. Sedangkan pria itu tidak mempan dengan sindiran apa pun yang dilontarkan sang papa. Ia justru mengusap puncak kepala Ziya yang tampak lucu ketika malu seperti itu.
"Juna! Tangannya!" sembur Andreas melotot tajam.
"Iya, iya, Pa!" sahut Juna.
Usai makan malam, Ziya dan keluarganya pulang ke rumah. Sedangkan rombongan Arjuna menginap di hotel terdekat yang memang sudah direservasi sebelumnya.
"Li, nginep di rumah aku aja," pinta Ziya saat berjalan menuju parkiran.
"Hah?" Lily menatap Rio yang tersenyum menyeringai sembari menaik turunkan alisnya.
"Enggak deh, tapi aku janji besok dateng pagi-pagi banget."
"Yaah." Ziya nampak kecewa, namun Rio tiba-tiba membisikkan sesuatu di telinganya hingga membuat gadis itu membelalakkan kedua matanya.
"Serius?" ucap Ziya terkejut pada sang kakak.
"Duluan ya! Hati-hati!" Rio melenggang sembari berucap pelan di hadapan Lily.
"Bye Lily, tidur yang nyenyak! Jangan lupa datang besok pagi-pagi banget!" seru Ziya membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya.
"Mau pulang?" Suara bariton memembuyarkan lamunan Lily. Ia menoleh dengan cepat. "Ck! Bisa nggak sih jangan ngagetin orang? Untung nggak punya riwayat sakit jantung. Iih amit-amit." Lily mencebik kesal mengalihkan pandangannya ke depan.
Dika terkekeh, "Tenang aja, aku 'kan dokter jantung. Nanti aku obatin," celetuk Dika.
"Heh! Kamu doain aku?" sentak Lily mendelikkan mata sembari berkacak pinggang. "Kurang ajar! Rasakan nih!" Lily memukuli lengan Dika dengan sling bag di tangannya.
"Aduh! Aduh! Ampun! Sumpah ya baru kali ini ketemu cewek yang unik kayak kamu!" cetus Dika meraih kedua pergelangan tangannya.
Keduanya saling menatap, hanyut dalam sorot mata masing-masing. Menimbulkan getaran-getaran aneh di dada mereka masing-masing.
__ADS_1
"Woy!" teriak catuda squad bersamaan mengejutkan mereka berdua.
Dika sontak melepas cengkeraman tangannya. Lily membuang pandangannya ke depan. Mereka pun salah tingkah.
"Perempuan, laki, nggak boleh berduaan aja. Nanti yang ketiganya setan!" Wahyu merangkul bahu kedua orang tersebut.
"Kamu lah setannya!" cebik Lily menghempaskan lengan itu.
"Eitts, nggak bisa! Aku berlima. Setan biasanya sendiri-sendiri nggak rombongan kayak kita. Ya nggak guys!" elak Wahyu meminta persetujuan teman-temannya.
"Hayo, kalian ketahuan, ngapain hayo! Aku laporin Ziya nih!" ancam Edi yang berdiri di belakang mereka.
"Jangan dong! Apaan sih, kita nggak ngapa-ngapain juga!" Kesal Lily menghentakkan kakinya, menghampiri Edi yang sudah mengarahkan ponsel pada Lily.
Gadis itu merebutnya dan melihatnya ternyata mati. Hal itu justru semakin membuat Lily geram, namun menjadi bahan tertawaan catuda squad.
"Iihh ngeselin kalian semua!" Lily berlari menuju mobilnya, memacu dengan kecepatan tinggi.
"Yah, marah. Padahal bercanda," ucap Edi merasa bersalah.
"Ah elu sih, Ed!" Dika menambahi, ia pun bergegas ke hotel yang sama dengan Arjuna untuk beristirahat.
"Udah yok bubar-bubar. Besok hari spesialnya Ziya. Kita nggak boleh terlambat. Apalagi kita 'kan jadi pagar bagus." Eko mengingatkan.
"Oiya!" seru mereka bersamaan dan bergegas menuju rumah masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi sekali, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya. Kediaman Ziya sudah ramai dengan persiapan wedding organizer. Ah, tepatnya sejak tengah malam tadi. Mereka telah menyulap ruang tamu menjadi ruangan indah dengan berbagai rangkaian bunga.
Catering juga mulai berdatangan dan menyiapkan prasmanan di meja yang cukup besar dan panjang. Ziya pun sudah mulai dirias oleh MUA pilihan Arjuna.
Begitupun Catuda Squad sudah hadir pula di pagi itu. Mereka tengah berebut pakaian yang akan dikenakanan nanti, di kamar tamu. Pakaian yang memang sudah disiapkan oleh Arjuna sesuai dengan ukuran tubuh mereka masing-masing.
"Zi! Jangan lupa ya." Rio yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar pengantin saat Ziya sedang di make up.
__ADS_1
Ziya tidak menoleh, hanya menatap bayangan sang kakak dari pantulan cermin di depannya. Ia mengangkat ibu jarinya ke atas tanpa berucap. Takut mengganggu make upnya.
Bersambung~