
"Gila! Gila! Gila!" seru Dika dengan hebohnya setelah mendengar cerita Arjuna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau Juna bahkan bisa move on dari Meysa secepat itu.
"Ya, gue gila karenanya, Dik." Senyum mengembang di bibir Arjuna. Ia terus terbayang oleh gadis itu.
"Gue jadi penasaran, kayak apa sih orangnya? Kok bisa menggeser posisi Meysa dengan mudahnya," seru Dika penasaran.
"Ada tuh di HP. Makanya benerin gih ke counter! Tapi inget, jangan sampe lo naksir. Awas aja kalau berani, gue tendang lo ke pluto," ujar Juna dengan nada perintah.
Dika berdecak kesal. Diraihnya benda pipih itu dari tangan Juna dan memasukkannya ke saku jaketnya.
"Enggak mungkin, selera kita 'kan beda," elak Dika menyandarkan punggungnya, sembari meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Bener ya, awas aja kalau enggak bisa pegang omongan!" ancam Juna.
****
"Assalamualaikum," sapa Gandhi memasuki rumah minimalis yang baru ditempati selama 6 bulan itu. Ia yang memang tidak menyukai sesuatu yang berlebihan dan mewah, selalu memilih segala hal yang simpel dan sederhana. Yang penting nyaman untuk mereka tinggali.
Terdengar jerit tangis dan tawa yang menggema di rumah itu. Gandhi melangkah masuk, karena pintu baru saja dibuka saat sang asisten rumah tangga sedang bersih-bersih.
"Waalaikum salam. Eeh Daddy pulang, Sayang!" pekik Chaca saat pusing dengan kedua anak kembarnya.
"Daddy!" suara nyaring sang putri kecil menggema di telinga.
Senyum lebar menghiasi wajah lelah Gandhi. Sedangkan putra kecilnya sudah berlari menghambur ke pelukan sang ayah. Membuat Ghaitsa menjerit menangis.
Yah, keduanya tengah berusia 18 bulan. Namun, ada perbedaan dengan pertumbuhan mereka. Gasya, sang kakak yang sudah berlarian ke sana ke mari namun belum terlalu lancar berbicara. Sedangkan Ghaitsa atau yang sering dipanggil Gisya itu justru sudah cerewet mengucapkan banyak hal. Namun belum bisa berjalan dengan baik.
"Daddy! Mau peluk jua!" tangis Gisya meronta membenturkan kepalanya di sofa berulang kali.
Chaca justru tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan putri kecil itu. Diraihnya tubuh kecil yang masih membenamkan wajah di sofa empuk.
__ADS_1
"Enggak mau! Mau Daddy! Mau Daddy!" jerit Gisya memukul-mukul sofa.
Gandhi menggeleng dan terkekeh. Ia pun berjongkok, lalu meraihnya di lengan satunya lagi.
"Putri Daddy ngambek? Kangen banget sama Daddy ya? Sama. Sini, sini. Uuhh makin berat aja nih sicantik," gumam Gandhi menggendongnya.
Dua lengan kecil melingkar di leher pria itu. Mencium kening kedua anaknya bergantian. Chaca juga mendekat, tak mau kalah dengan anak-anak, ia melingkarkan lengan di perut sang suami, bersandar di punggung yang paling nyaman baginya.
"Mommy juga," bisiknya manja.
Luruh sudah kantuk dan lelahnya, saat semua bergelayut manja dengannya. Denyut jantung pria itu selalu bertambah setiap mendengar bisikan manja istrinya. Cinta yang semakin hari semakin subur.
"Baru juga semalem," goda Gandhi sambil tersenyum.
"Iiihh, enggak enak tau tidur sendiri," keluh Chaca menjauhkan wajahnya lalu berjalan memutar di depan sang suami. Yang langsung disambut dengan ciuman di kening perempuan itu.
"Maaf ya. Oiya, aku harus ke kantor. Masih ada bangunan yang harus disempurnakan. Kalau enggak diawasi takut enggak selesai tepat waktu sayang," ucapnya menatap sang istri.
Melihat dua anaknya yang bersandar di bahunya, Gandhi mencium kilat bibir itu. "Sabar, memang masih butuh perhatian ekstra, Sayang. Aku enggak mau kecewain papa. Ini 'kan pertama kalinya aku terjun langsung di perusahaan tanpa campur tangan papa. Dukung aku ya, doain juga. Aku janji langsung pulang kalau udah selesai," jelas Gandhi yang hanya dibalas anggukan oleh sang istri.
"Anak-anak, main lagi yuk. Daddy mau mandi masih bau acem," rayu Chaca pada kedua anak kembarnya.
Disela sarapannya, Gandhi menceritakan segala hal mengenai Arjuna. Ia juga menjelaskan jika Juna sebenarnya adalah dokter jantung. Matanya langsung berbinar.
"Mas! Kita bisa konsultasi tentang kesehatan Gisya," serunya antusias.
"Nanti ya, kalau dia udah sembuh. Doker Juna juga aku minta masuk di klinik perusahaan. Biar nanti urusan klinik sejajarannya aku serahin sama dia. Yaudah, aku pamit ya, Sayang. Baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa langsung telepon aja."
"Tunggu! Kok, Mas percaya aja sama yang baru kenal sih?" seru Chaca menyelidik.
Gandhi mengakhiri sarapannya, meneguk teh yang sudah disediakan sang istri. "Pak Andreas, papanya Dokter Juna itu, tangan kanan Papa di salah satu perusahaan di Bandung. Lalu, apa yang harus aku ragukan? Biasanya, buah jatuh enggak jauh dari pohonnya 'kan?" jelas Gandhi mengusap lembut rambut sang istri.
__ADS_1
Chaca mengangguk sambil membulatkan bibirnya membentuk huruf o. "Yaudah, hati-hati ya, Mas. Cepet pulang, jangan lirik-lirik di jalan!" ucapnya mencium punggung tangan sang suami.
Gandhi mencium keningnya lalu beralih pada kedua kembarnya yang sedang asyik bermain bersama pengasuhnya.
"Anak-anak, nurut sama Mommy ya. Jangan pada berantem. Tos dulu!"
Gandhi berlutut mengangkat kedua tangannya, disambut dua tangan kecil yang menepuk telapak tangan besar sang ayah. Pria itu segera beranjak setelah mencium kedua pipi anak-anaknya.
"Da... da! Daddy," cetus Ghaitsa memamerkan senyum yang sangat manis.
"Aahh. Daddy janji enggak lama!" Dia tidak akan tahan dengan kelucuan anak-anaknya. Maunya akan selalu berada di rumah. Menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Ziya tengah menunggu kedatangan Lily di ambang pintu kelas. Sengaja berangkat lebih pagi agar bisa mengobrol bersama sahabatnya itu. Berulang kali Ziya menilik jam di lengannya. Pandangannya juga mengedar ke segala penjuru. Tubuhnya bersandar di pintu masuk.
Hampir 30 menit berdiri, akhirnya yang dicari tiba juga. Ziya mengembuskan napasnya dengan kasar. Lalu meraih lengan Lily dan menyeretnya duduk di taman tak jauh dari kelasnya.
"Weihh... apaan nih, Zi? Tarik-tarik sembarangan?" seru Lily setelah mendaratkan tubuhnya di kursi panjang.
"Ly, kamu 'kan pernah nemuin aku waktu di club tuh? Sekarang bantu cariin Kak Juna dong," pinta Ziya dengan panik.
Lily mendengkus, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Tangannya menekan kedua pelipisnya. "Kamu udah lama enggak ketemu sama aku, nanya kabar kek, atau bilang kangen kek, lah ini malah langsung ngrepotin."
"Yah, kan aku udah tahu sekarang kalau kamu baik-baik aja, Ly. Lagian kamu pergi kerja. Apa yang harus aku tanyain? Minta oleh-oleh juga pasti enggak ada," sahut Ziya dengan ketus.
Ziya menopang kedua tangan di atas paha. Matanya berkaca-kaca. "Lily, please. Bantuin aku nyari Kak Juna. Aku khawatir sama dia." Air matanya mulai menetes. "Ponselnya enggak bisa dihubungi, Ly. Aku takut dia kenapa-napa," sambungnya menutup kedua muka yang sudah basah dengan air mata.
"Hemm ... nyesel 'kan waktu itu buang cincinnya? Nolak lamarannya? Waktu itu dia sampe nyebur ke kolam buat nyari tuh cincin. Enggak tau deh ketemu apa enggak, soalnya aku tinggal kuliah. Terus abis itu dapet job lagi keluar kota ampe sekarang."
Ziya menoleh, "Yaudah, kalau gitu ayo bantuin nyari Kak Juna, Ly. Kamu pasti bisa 'kan?" serunya memohon. Kedua tangannya meremat tangan Lily.
__ADS_1
Bersambung~