Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Mencari Jejak


__ADS_3

Entah perasaan apa yang kini dirasakan Arjuna. Yang jelas, ia sangat khawatir sesuatu terjadi pada Ziya. Motor yang dikendarainya sangat lamban. Kemacetan tengah melanda kota tersebut. Pikirannya semakin kalut.


Hampir satu jam lamanya, Arjuna baru sampai di pelataran rumah Ziya. Namun terlambat, ibunya mengatakan bahwa Ziya sudah keluar 30 menit yang lalu. Khawatir kian menyergapnya, namun Juna tidak menceritakan apa pun pada sang ibu. Ia tidak mau wanita itu banyak pikiran.


"Kalau begitu Juna pamit ya, Bu. Assalamu'alaikum," ucapnya mencium tangan Ibu Resi.


"Waalaikumsalam, kok buru-buru? Enggak makan malam dulu, Nak Juna?" teriak ibu yang dibalas lambaian tangan Arjuna. "Next time ya, Bu," balas Arjuna sama berteriaknya.


Setengah berlari Juna menutup pintu rumah Ziya. Menuruni anak tangga yang tersusun di teras. Langkah yang terburu-buru, membuatnya menabrak seorang gadis berambut pendek yang hendak masuk bertamu.


"Aww! Jalan pake mata dong!" pekik gadis itu meringis memegang bahunya yang terbentur tubuh Juna.


Pria itu mendekatkan wajahnya, otomatis membuat gadis itu terpundur dengan mata mendelik, "Jalan itu pake kaki bukan pake mata!" balas Arjuna sinis.


Gadis itu menarik jaket yang melapisi kaos Arjuna. "Eitt tunggu! Tunggu! Ini bener rumah Ziya 'kan? Dia ada di rumah?" tanya gadis itu bertubi.

__ADS_1


"Kamu siapa? Setahuku Ziya nggak punya temen perempuan," celetuk Arjuna mengerutkan dahi.


"Jadi bener ini rumahnya? Ziya di rumah 'kan? Enggak jadi keluar 'kan?" pekiknya menarik jaket dengan dua tangannya.


"Dia keluar!" jawab Arjuna singkat.


Sontak, Lily membulatkan kedua matanya. Ia menarik lengan Arjuna memaksanya masuk ke mobilnya. "Gawat! Ziya dalam bahaya," cetus Lily memasang sabuk pengaman.


Arjuna masih terbengong, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud gadis itu. "Maksudnya? Dalam bahaya?"


Segera ia melajukan mobil sedan berwarna silver itu menuju taman tak jauh dari kediaman Ziya. Mereka tak saling bicara. Pandangannya fokus ke depan semua.


Sampai di sana, buru-buru keduanya keluar. Mereka berlarian menghambur ke taman. Sesekali berhenti memutar tubuhnya mengedarkan pandangan ke seluruh area taman.


"Ziya! Ziya!" teriak Arjuna di keheningan malam. Tak peduli sorot mata beberapa orang yang berlalu lalang tengah menuju ke arahnya.

__ADS_1


Mereka berlarian, berpencar mencari keberadaan Ziya. "Kita ketemu lagi di mobil setelah lima belas menit!" tegas Arjuna memerintah.


"Siap!" sahut Lily mantap bergegas menjalankan perintah.


Sudut hingga sudut telah mereka sambangi. Namun tidak ada jejak Ziya di sana. Lima belas menit berlalu, mereka pun bertemu di mobil Lily.


"Gimana?" tanya Juna dengan bulir keringat yang bermunculan di keningnya. Berbeda dengan Lily yang tak merasa kelelahan sama sekali.


Lily menggeleng. Ia menepuk dahinya, mulutnya terbuka, seperti mengingat sesuatu. "Cepat masuk, Pak!" cetus Lily menduduki kursi penumpang di sebelah kemudi.


Arjuna membelalak, ia membuka pintu mobil, duduk dan menutup pintu dengan kasar, "Pak? Hello, masih muda fresh begini kamu panggil Pak?" Arjuna tak terima. Namun Lily mengabaikannya. Ia fokus mengotak atik ponselnya.


"Cepat ikuti ini! Kita nggak punya banyak waktu! Jangan berdebat dengan masalah yang nggak penting! Nanti kita bahas lagi," terang Lily menjelaskan.


Masih melongo, Lily pun menepuk lengan Arjuna. "Cepetan! Ikuti petunjuk di ponsel itu!" Lily menunjuk ke arah ponselnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2