
Hampir-hampir Arjuna meremas kertas-kertas di hadapannya. Kalau saja Dika tidak mencegahnya. Bagaimana tidak? Tertulis di surat resign bahwa alasan Meysa adalah hendak menikah di kampung halaman neneknya.
Jantung Arjuna serasa ditusuk ribuan jarum. Rasa sesak pun menggumpal di dadanya. Darahnya berdesir hebat. Kakinya gatal hendak menendang meja apa saja yang ada di hadapannya.
"Tenangin diri lo. Nggak inget apa rengekan kita dapetin ini semua?" bisik Dika mengingatkan sembari menggenggam erat lengan Arjuna yang mengeras karena mengepal.
Ya, itu adalah privasi. Pihak HRD tidak bisa memberikannya sembarangan. Namun karena banyak alasan, dan segala bujuk rayu Arjuna juga Dika akhirnya bisa mendapatkan dokumen-dokumen milik Meysa.
Geraham Arjuna mengetat, tatapannya nyalang penuh amarah. Dika turut mengamati berkas-berkas itu. Lalu mengambil ponselnya, membidik kamera di salah satu lembaran kertas itu.
Takut Arjuna tidak bisa menahan amarah lebih lama lagi, Dika pun segera membereskan satu bandel berkas milik Meysa. Lalu mengembalikannya pada HRD.
"Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Dika meletakkan di atas meja.
"Saya harap ini pertama dan yang terakhir kalinya," balas salah satu HRD itu.
Dika mengangguk lalu melenggang pergi. Ia kembali menghampiri Arjuna yang masih memanas.
"Ayo," ajak Diķa menarik lengan Arjuna.
Pria itu masih bergeming, tak mau beranjak dari duduknya. "Gue udah dapet alamatnya," terang Dika.
__ADS_1
Mendengarnya, Arjuna berdiri seketika. Pikirannya kalut tak dapat berpikir jernih. Hanya emosi yang menguasai dirinya saat ini.
Sesampainya di mobil, Dika mengirimkan hasil jepretannya ke nomor Arjuna. "Udah gue kirim alamatnya. Gue mau pulang, nanti masuk jam 2," gumam Dika kesal menyalakan mesin mobilnya.
Arjuna masih bungkam, perjalanan pun berbanding terbalik saat berangkat tadi. Akhirnya Dika memilih untuk memutar musik di mobilnya.
...****************...
Langit kini menggelap. Matahari kembali terbenam di peraduannya. Ziya diperbolehkan bekerja namun tak boleh melebihi waktu maghrib. Jika melanggar, ibunya akan berceramah sehari semalam penuh.
"Balik dulu ya semua, nanti emak marah," pamit Ziya pada semua teman-temannya.
"Zii, tunggu!" Teriakan Farid membuatnya menghentikan langkah.
Ziya menaikkan kedua alisnya. Seolah bertanya, "Ada apa?"
Farid pun setengah berlari menghampirinya. "Nanti malam gimana?" tanyanya. Ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tadi.
"Yang lain? Aku ngikut aja. Asal nanti ada yang jemput. Dah ya, nanti kabarin aja. Aku balik dulu. Assalamualaikum!" seru Ziya melenggang cepat.
"Waalaikumsalam," sahut Farid pelan.
__ADS_1
Ziya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sampai di pelataran rumah, Ziya memarkirkan motornya dan melenggang masuk.
Di ruang tengah, ia menemukan keluarganya sudah memulai makan malam tanpa dirinya. Pandangannya mengarah pada jam di dinding. Masih menunjukkan pukul 18.30.
"Kok tumben mereka makan malam tanpa aku? Eh eh siapa tuh?" gumam Ziya pelan.
Karena penasaran, ia pun bergegas masuk. Menyambar ayam goreng dan melahapnya sambil berdiri.
"Ziya! Nggak ada salam nggak ada suara main nyelonong aja!" seru Ibu marah.
"Hehe ... maafkan anakmu yang cantik ini, Bu. Assalamualaikum," ucap Ziya pelan menarik tangan kanan ibunya.
"Waalaikumsalam," sahut mereka bersamaan. Kecuali wanita yang duduk di samping Rio. Hanya mengulum senyum dan mengangguk ketika melihat Ziya.
"Zi! Jorok banget. Mandi dulu sana! Salat terus baru makan. Banyak kuman tuh tanganmu!" gerutu Rio.
Ziya hanya menyengir. Bukannya menuruti ucapan si abang, malah mendaratkan tubuh di samping ibunya. Berhadapan dengan wanita asing yang baru dilihatnya.
"Kakak pacarnya Kak Rio, ya?" tembak Ziya menaik turunkan alisnya menatap perempuan itu dengan seulas senyum.
Bersambung~
__ADS_1