Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
One Step Closer


__ADS_3

Sepasang mata tajam dengan alis tebal, semakin mengintimidasi Ziya. Setelah beberapa saat, ia membalas uluran tangan Ziya.


"Hemm ... hati-hati," sahut Andreas singkat dengan suara beratnya.


Ziya mengangguk, tidak berani menatap ke arah mata sang calon mertua. Ia beralih pada Juna dan juga berpamitan. "Aku pamit dulu ya, Kak. Cepet sembuh," ucapnya tersenyum canggung.


Tangan Juna hampir mengusap pucuk kepala Ziya, namun keburu melenggang pergi. Melirik ke arah Lily, dan memberi kode melalui mata untuk mengikutinya.


"Eeee... kalau gitu, saya pamit dulu," ucap Lily beranjak. "Permisi," sambungnya membungkukkan setengah badannya.


"Zi, tunggu!" teriak Lily mengejar Ziya yang sudah jauh melangkah.


"Iiih kenapa sih?" tanya Lily meraih lengannya.


Ziya pun berhenti, "Kamu ngerasa nggak sih kalau Om Andreas kaya nggak suka sama aku? Apa jangan-jangan beliau nggak setuju anaknya nikah sama aku?" ucapnya khawatir. Duduk di kursi tunggu tak jauh dari tempat ia berdiri.


Lily pun mengikutinya, ia menepuk bahu Ziya, "Jangan suudzon dulu. Mungkin beliau lagi capek kali." Mencoba menghibur meski ia juga merasakan hal yang sama, tapi tidak mungkin dia akan mengatakan hal yang semakin menjatuhkan mental sahabatnya itu.


Ziya menopang dagu, berbagai pikiran buruk bergelayut di kepalanya. Entahlah, perasaannya jadi kacau balau setelah pertemuannya dengan Andreas.


"Atau, bisa jadi emang sifatnya kaya gitu, Zi. Udah jangan berpikir yang macem-macem. Mau pulang? Apa ke mana? Aku temenin," ajak Lily.


"Pulang aja deh, mau istirahat, Thanks ya, Ly."


Dan keduanya berpisah menuju rumah masing-masing. Meski Lily memaksa ingin mengantarnya, Ziya kekeh pulang sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga satu bulan kemudian ....


Ziya melempar ponselnya ke tempat tidur. Ia pun membanting tubuhnya di kasur yang empuk itu. Menutup wajahnya sejenak, menampik segala pikiran-pikiran buruk yang menerpa.


Sejak pertemuannya di rumah sakit terakhir kalinya, Juna selalu memberi kabar untuk tidak menemuinya sementara. Bahkan saat pria itu sudah dinyatakan sembuh pun, tidak menemui Ziya sama sekali. Mereka hanya berkomunikasi melalui chat atau telepon saja.


Lama kelamaan, gadis itu terisak. Apalagi sudah seminggu terakhir, Juna mengatakan sedang berada di kampung halamannya. Dan sejak saat itu sulit dihubungi.


"Jangan-jangan dia dijodohin sama papanya, gara-gara nggak suka sama aku? Huaaa...."

__ADS_1


Ziya semakin parno, akhir-akhir ini sering membaca novel online untuk mengusir kejenuhannya. Dan ia sering menemukan alur yang sama. Ketika sang pria sulit dihubungi, tiba-tiba dinikahkan dengan wanita lain karena orang tua yang tidak setuju dengan pilihannya. Hampir sama keadaan dengannya. Dan pikiran buruk semakin menelusup jauh ke sanubarinya.


"Aaaaa!" jerit Ziya menutupi wajahnya dengan bantal. Kedua kakinya terus bergerak-gerak di kasur empuknya. Tangisannys semakin pecah membayangkannya.


"Tok! Tok!"


"Ziya!" panggil sang ibu membuka pintu setelah lama tidak ada jawaban. "Ibu masuk, Nak," sambungnya lagi.


Ziya panik menghapus air matanya. Ia gak mau membuat ibunya khawatir. Dengan cepat merapikan rambut yang berantakan seperti hatinya.


"Nak, ibu sama abangmu mau ada acara di luar. Kamu nanti makan malam sendiri dulu ya," pamit Resi pada putri bungsunya.


Ziya tidak berbalik, membelakangi ibunya dan hanya mengangguk. "Iya," sahutnya singkat. Suaranya mulai serak.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya sang ibu khawatir.


"Enggak, Bu. Pergilah, hati-hati," ucapnya merebahkan tubuh lagi dan menyelimuti dirinya hingga leher.


.


Setelah mengintip pintu sudah tertutup kembali, Ziya melanjutkan tangisnya. "Gimana kalau ternyata Kak Juna dinikahin sama wanita lain? Udah seminggu pulang dan enggak ada kabar sama sekali. Terus aku gimana? Huaaa...."


Tidak ada orang di rumah Ziya menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian terdengar notif pesan di ponselnya.


Buru-buru Ziya mencarinya karena tadi dilemparkan ke sembarang arah. Ia yakin itu dari Arjuna. Namun kecewa saat membukanya, ternyata nomor baru.


"Restoran Cempaka di bukit duri. Pakai gaun yang ada di depan pintu! Aku tunggu sekarang juga jika kamu ingin bertemu Arjuna!"


DEG!


Matanya membelalak. Dadanya berdegub kencang saat membaca kata terakhir yang menyebutkan nama kekasihnya.


"Ada apa?" balas Ziya namun tidak terkirim. Ia mencoba menelepon, malah tidak aktif. Perasaannya campur aduk. Kepalanya pun tiba tiba berdenyut nyeri.


"Tenang Ziya, tarik napas panjang, buang, tarik lagi, buang." Ziya mencoba menenangkan pikirannya. Lalu bergegas mencuci muka dan pergi ke tempat yang dikirim oleh nomor misterius itu.


Saat di depan pintu, kakinya menendang sebuah kado. Diraihnya kotak tersebut, dan membaca tulisan tangan yang ada di atasnya.

__ADS_1


"Harus dipakai! Jika tidak, jangan harap bisa bertemu Arjuna!"


"Aduuh ... apalagi sih ini!" serunya frustasi.


Dibukanya kotak itu, lalu ia raih gaun berwarna putih dan mengeluarkannya dari sana. Tanpa berpikir panjang, Ziya bergegas kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya.


Tak butuh waktu lama, ia sudah siap dengan sebuah gaun berlengan dengan tinggi selutut berwarna putih, sederhana tidak ada aksen payet atau apa pun.


Seumur-umur ini pertama kali ia mengenakan gaun. Tak peduli apa pun lagi, ia segera mengenakan helm dan tancap gas motor maticnya menuju ke sana.


Lima belas menit perjalanan yang ditempuh. Ia lepaskan pengait helm dengan tergesa dan meletakkannya sembarangan. Kemudian berlari masuk ke dalam restoran itu.


Sepi, bahkan tak ada siapa pun di sana. Padahal lahan parkir penuh. Langkahnya terhenti, pandangannya mengedar, ketakutan yang tadi sempat menguap kini hadir kembali menghampiri.


"Kak Juna di mana?" Air matanya mulai menyeruak. Kepalanya menunduk. Namun tiba-tiba, ada seorang anak kecil berlari dan berhenti di depannya. Tangannya mengulurkan buket bunga.


"Buat Kakak!" ucap anak itu dengan memamerkan deretan giginya.


Ziya meraih buket bunga itu, "Buat aku?" tanyanya memastikan.


"Huum!" anak itu mengangguk lalu berlari lagi.


"Dari siap...."


Belum selesai pertanyaannya. Seorang gadis remaja berlari menghampirinya. Meletakkan mahkota kecil di kepala Ziya.


"Hai, apa ini?" tanya Ziya kebingungan. Namun gadis itu hanya tertawa dan berlari meninggalkannya. Ziya semakin bingung.


Dan terakhir, Kakaknya mendekat, memasangkan aksen kain putih di kepalanya. Ziya membelalakkan mata. "Kak Rio? Katanya pergi sama ibu? Dan, apa ini?" pekik Ziya menyentuh kain tipis yang menjuntai dari kepalanya. Rio hanya tersenyum dan menjauh dari Ziya.


Sebuah karpet merah membentang hingga kaki Ziya, pandangannya menunduk. Tiba-tiba terdengar denting piano, dipadukan dengan biola yang sangat indah. Ia kembali menegakkan pandangan.


Disekilingnya yang tadinya sepi, kini datang berbondong-bondong membawa balon, kembang api, juga kelopak bunga mawar. Ziya dibuat terperangah seketika.


Bersambung~


Hiyaa detik detik..,

__ADS_1


__ADS_2