Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Rasa yang Aneh


__ADS_3

Ziya berlari kecil mencari tempat persembunyian. Mengintip di balik tembok, melihat sang kakak sudah melenggang pergi. Gadis itu memberanikan diri masuk ke ruangan Reza.


"Dia maafin aku nggak ya? Ah seenggaknya niat aja dulu. Kalaupun nggak dimaafin itu urusan belakangan," gumam Ziya menyentuh daun pintu.


Perlahan Ziya membukanya, mengembuskan napas beratnya lalu menerobos masuk. Nampak Arjuna menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Mata pria itu terpejam, seperri sedang ada beban berat.


Arjuna yang merasa seseorang mulai mendekat, tanpa membuka mata ia berucap, "Ibu Anda akan sadar dalam waktu 2 jam ke depan. Lakukan pemeriksaan setelahnya, jika ada apa-apa, bisa panggil saya lagi," ujar Arjuna.


Ia mengira, Reza yang masuk ke dalam ruangan itu lagi. Karenanya Arjuna berpesan seperti itu. Tak disangka, Ziya mendaratkan tubuhnya di samping Arjuna.


"Terima kasih banyak," ucap Ziya pelan kepalanya menoleh pada Arjuna.


Sontak, Arjuna pun terkejut. Segera ia membuka mata. Tubuhnya terpundur hingga ujung sofa. Juna mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


"Maafin aku ya, Kak. Aku banyak salah sama kamu. Tapi, Kakak malah membantu menyelamatkan nyawa ibu. Sekali lagi terima kasih." Ziya menangkupkan kedua tangannya sembari membungkukkan tubuhnya. Namun Arjuna hanya meliriknya saja.


"Kak, please. Maafin aku," ujar Ziya lagi menggerak-gerakkan kedua kakinya.


"Tuhan lah yang menyelamatkan ibumu. Aku hanya perantara saja," ujar Arjuna setelah diam beberapa saat dengan suara bergetar.


Ziya menegakkan tubuhnya kembali. Ia melihat bulir air mata yang berjatuhan melalui kedua sudut mata Arjuna. Semakin lama semakin deras. Namun pandangannya tetap lurus ke depan.


Ziya merasa terenyuh. Jemarinya mengulur mengusap air mata Juna namun pria itu menjauhkan wajahnya. "Kakak kenapa?" tanya Ziya penasaran dengan tangan masih mengambang. Pasalnya sedari tadi, Ziya melihat Juna menangis sejak keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


"Aku hanya teringat mama. Beliau meninggal ketika keluar dari pintu operasi. Sejak saat itu, aku selalu bertekad ingin menjadi dokter untuk berusaha menyelamatkan orang-orang, agar tidak ada yang merasa kehilangan sepertiku sewaktu kecil." Arjuna menghela napas panjang.


"Ah, sudahlah jangan dibahas lagi. Kamu bisa juga jadi perempuan lembut," imbuhnya mengusap sisa air mata dengan kaos yang dikenakannya.


"Sembarangan. Aslinya emang lembut tauk. Emm ... sabar ya, Kak. Semoga mama ditempatkan di surga-Nya," ucap Ziya segera diaminkan oleh Arjuna. "Oh iya, mulai sekarang kita teman ya," sambung Ziya mencoba mengakrabkan diri. Tangannya mengacungkan jari kelingking sambil menggerak-gerakkannya juga menaik turunkan kedua alisnya.


Arjuna hanya melirik sekilas, "Ck! Kaya anak kecil aja. Lagian bodyguard kamu serem-serem gitu. Aku nggak mau berurusan sama mereka." Arjuna melipat kedua lengannya, pandangannya kembali lurus ke depan.


Ziya menepuk dahinya. Barulah ia tersadar, jika teman-temannya salah sangka pada Arjuna. Ziya beranjak dari duduknya. "Kakak tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!" ujarnya menunjuk Arjuna.


Pria itu hanya menyipitkan kedua matanya sambil mengulas senyum tipis nyaris tak terlihat.


Beberapa saat kemudian, Ziya kembali bersama Catuda Squad. Ruangan Reza pun menjadi riuh. Kelima teman lelakinya itu saling senggol dan tunjuk.


"Kan kamu kompornya," elak Wahyu tidak terima.


"Ssssttt! Kalian ini berisik. Tinggal minta maaf aja apa susahnya sih? Gara-gara kalian, aku jadi salah paham sama dia," sentak Ziya berkacak pinggang.


Akhirnya satu persatu dari mereka maju menjabat tangan Arjuna, lalu meminta maaf. Arjuna terheran melihat lima orang lelaki itu begitu penurut pada Ziya.


...****************...


Sesuai dengan permintaan Reza, malam ini ia mengajak Arjuna menginap di rumahnya. Ziya masih berjaga di rumah sakit. Arjuna mengurungkan niatnya pulang ketika diminta papanya. Karen harus mengontrol kondisi ibu Reza sampai dokter spesialis di klinik tersebut sudah kembali bertugas.

__ADS_1


Dua pria itu kini sedang makan malam bersama. Rio yang baru pulang terkejut dengan kehadiran pria asing di meja makan.


"Ada tamu, siapa, Kak?" tanya Rio mendudukkan tubuhnya di kursi makan.


"Dokter Juna. Dia yang telah menyelamatkan ibu hari ini," jawab Reza.


"Maksudnya?" Rio menautkan kedua alisnya bingung.


Reza pun menceritakan semua kejadian yang menimpa ibunya. Sempat terkejut, Rio buru-buru ia beranjak namun ditahan oleh Reza.


"Mau kemana kamu?" seru Reza.


"Ketemu ibu, Kak." Rio menghentikan langkahnya.


"Makanlah dulu, lalu mandi. Ada Ziya di sana Oiya, satu lagi." Reza meneguk air putih lalu meletakkannya lagi di meja setelah tandas.


Rio mengerutkan keningnya. "Apa, Kak?" tanyanya penasaran.


"Gadis yang tempo hari pernah kamu tolong, sedang dirawat di klinik Kakak. Ternyata dia mengidap penyakit leukimia," terang Reza membuat Rio tersentak kaget. "Apa!" seru Rio tak percaya.


Begitu pun dengan Arjuna yang tiba-tiba merasakan hawa tak enak. Dadanya pun berdenyut tidak stabil.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2