
Wanita baya itu menoleh sangat pelan, bibinya bergetar ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa terucap. Sampai pada akhirnya ibu itu pingsan. Dengan sigap Arjuna menopangnya.
Lalu Arjuna beranjak dan merebahkan tubuhnya perlahan untuk memosisikan agar nyaman. Bukan di kursi, melainkan di trotoar. Karena letaknya yang datar dan keras. Ia berlutut sejajar dengan kepala dan bahu ibu tersebut.
Sampai beberapa saat, Catuda Squad berbondong-bondong hendak berangkat ke pangkalan ojek, minus Ziya.
"Gengs, itu laki-laki yang kita tolong bukan?" Edi menunjuk ke arah Arjuna yang menghadap ke jalan raya.
"Iya betul. Eh eh, ngapain tuh orang. Gila mau bunuh orang di keramaian," cetus Sofyan menimpali.
Mereka segera menghampiri Arjuna. Lalu segera turun dan memiting tangan Arjuna ke belakang.
"Mau ngapain kamu?" sembur Wahyu.
"Apaan sih, tolong ibu itu. Bawa ke rumah sakit," ujar Arjuna sambil meringis kesakitan.
"Tante!" seru mereka bersamaan sambil membelalakkan mata, ketika tahu itu adalah ibunya Ziya.
Mereka segera membawanya ke rumah sakit. Namun sama sekali tidak melepaskan Arjuna. Sofyan menggiringnya masuk ke dalam taksi. Melemparkannya di jok samping kemudi.
__ADS_1
"Ikut! Lo harus bertanggung jawab!" tandas Sofyan turut duduk di samping Arjuna.
"Aku nggak salah," elak Arjuna membela diri menoleh pada Sofyan.
"Diem! Maling mana ada yang mau mengaku. Kalau terjadi sesuatu dengan Tante Resi, Lo harus masuk penjara!" tegas Sofyan lagi.
Arjuna berdecak malas, ia pun menatap lurus ke depan. Sementara Sofyan menghubungi Ziya mengabarkan bahwa ibunya pingsan di jalan. Ia juga menceritakan kronologi yang dilihat oleh gengs mereka.
Ziya yang awalnya masih memejamkan mata dengan malas, terkejut mendengar penuturan Sofyan. Segera ia melompat dari ranjang. Menyambar sling bagnya, lalu berlari menuruni anak tangga.
Langkahnya terhenti ketika melihat mobil Reza terparkir di halaman rumahnya. Ziya kembali berlari masuk menuju kamar Reza.
Pria itu baru tidur beberapa menit yang lalu. Kepalanya terasa berat. Reza beranjak dari tidurnya. Saat membuka pintu, Reza bersungut karena marah. Melihat tatapan tajam sang kakak, Ziya meraih lengan Reza.
"Kak, marahnya nanti dulu. Kita ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Ziya dengan panik.
Reza bergeming, tidak bergerak sedikitpun. Ia melipat kedua lengannya dan bersandar di pintu. Kedua alisnya terangkat, meminta penjelasan lebih. Sedangkan Ziya sudah seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam.
"Kak Reza, ibu di rumah sakit! Kita harus ke sana sekarang juga!" pekik Ziya tidak sabar karena kakaknya masih cuek.
__ADS_1
Barulah Reza nampak terkejut, "Kenapa nggak bilang dari tadi sih!" gerutunya berlari menuruni anak tangga bergandengan dengan Ziya.
"Kak! Ganti baju! Masa ke rumah sakit cuma pake kolor?" seru Ziya baru menyadari penampilan sang kakak saat mencapai anak tangga terakhir.
Reza menepuk jidatnya. Kembali lagi ke kamar berganti pakaian yang sopan. Lalu dengan kilat bergegas keluar. Ziya sudah menunggunya di mobil.
Sesampainya di rumah sakit, Reza berlari mengambil jas kedokteran di ruangannya. Sedang Ziya menghampiri teman-temannya di depan ruang IGD.
Lalu, Ziya melangkah cepat. Emosinya tersulut ketika melihat Arjuna duduk di antara teman-temannya. Langkah panjangnya telah mengantar Ziya sampai di depan Arjuna.
Pria itu mendongak, kedua matanya saling bersirobok. Geraham Ziya mengetat, matanya sudah memerah.
"Apa yang kamu lakukan pada ibuku?" pekik Ziya lalu menampar kedua pipi Arjuna dengan keras. Arjuna meringis menahan perih di kedua pipinya. Saat hendak memukulnya lagi, Reza menahan tangan Ziya.
"Jangan melakukan kekerasan!" tegas Reza memperingatkan lalu menghempaskan tangan Ziya.
"Dia yang ...."
"Ibu itu harus segera dioperasi. Terjadi penyumbatan pembuluh darah arteri, menyebabkan oksigen tidak mampu mencapai jantung," tukas Arjuna menatap Reza. Mengabaikan Ziya yang menatapnya tajam. Reza segera masuk memeriksa keadaan ibunya.
__ADS_1
Bersambung~