Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Mengerikan


__ADS_3

Baru melangkah melalui pintu masuk sebuah wahana rumah hantu, mereka disambut dengan suara burung hantu yang saling bersahutan.


Membuat setiap orang yang masuk terjingkat kaget.


Tak terkecuali Arjuna, belum apa-apa peluh sudah membasahi keningnya. Sesak di dadanya tiba-tiba kian membuncah. Dia sendiri tak tahu, entah itu rasa takut atau apa. Yang pasti Juna merasakan hawa tak mengenakkan


menelusup dalam dirinya.


Berbanding terbalik dengan Ziya yang justru teramat menikmati wahana tersebut. Ia kegirangan sampai melangkah jauh meninggalkan Arjuna yang tiba-tiba bersandar tak jauh dari pintu masuk. Menetralkan degub


jantungnya yang melompat-lompat sedari tadi, juga mengembuskan napas kasar berulang menghilangkan rasa sesak yang mengganjal di dadanya.


Setiap kloter, maksimal hanya boleh dimasuki oleh 10 orang saja. Ziya berbalik badan ketika tidak menemukan Juna di sisi atau di


belakangnya.


“Kak Juna?” seru Ziya membelalak tersadar jika ia terpisah. Segera ia berbalik menerobos arus para pengunjung lainnya.


“Maaf, maaf! Permisi!” ucap Ziya menyibak orang-orang mencari jalan.


“Kalau takut enggak usah masuk atuh!”


“Salah jalur, woy!”


“Sok-sokan mau masuk padahal enggak berani!”


Ziya seakan menutup telinga tak mendengarkan sindiran-sindiran dari orang-orang yang diterobosnya sedari tadi. Ia tak peduli apa pun yang orang katakan. Fokusnya hanya mencari Arjuna.


“Kak Juna! Kak! Kakak di mana?” teriak Ziya berulang di tempat gelap tersebut. Hanya sedikit cahaya lampu yang membias di lorong


tersebut.


Ziya mengembuskan napasnya lega, kala menemukan Arjuna yang tengah berjongkok tak jauh dari pintu masuk. Langkah demi langkah kian mengikis jarak antara keduanya. Tangan Ziya menepuk salah satu bahu Arjuna, lalu turut jongkok di depannya.


“Kak, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Ziya pelan. Pria itu mendongakkan kepala, kedua tangan Ziya menangkup wajah Juna, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.


“A—aku … enggak apa-apa, Zi. Tadi cuma sedikit gugup aja,” jawab Juna perlahan. Mencoba membasahi kerongkongan dengan salivanya, namun sia-sia karena tiba-tiba mulutnya kering.


“Hahaha! Kamu takut, Kak?” ledek Ziya tertawa terbahak.


“Enggak! Mana ada aku takut. Kayaknya tadi kurang minum aja, makanya pusing berkunang-kunang nih,” elak Arjuna menyangkalnya. Malu lah kalau


Ziya tahu yang sebenarnya, jika ia memang takut memasuki ruangan gelap.

__ADS_1


Ziya masih tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai selonjoran dan menekan perutnya yang terasa sakit. “Bilang aja takut! Pake malu


segala. Yaudah ayo kita balik lagi aja,” ajak Ziya beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya, hendak membantu Juna berdiri.


“Lah, ngapain balik? Ayo lanjut!” Juna meraih tangan Ziya, hingga membuat gadis itu justru menghambur pada Juna akibat tarikannya terlalu kuat. Dan mereka pun terjatuh lagi ke lantai, Ziya menindih tubuh Arjuna. Mereka


tertinggal oleh rombongannya.


Selang beberapa detik, Ziya pun tersadar, dengan segera bangkit dan menyingkir dari tubuh Juna. “Ma—maaf, Kak,” ujar Ziya tak berani menatap Juna, ia sibuk menepuk-nepuk pantatnya.


“Makan banyak masih loyo aja, Zi. Dah ayo ah, kita ketinggalan nih.” Arjuna melenggang masuk.


Buru-buru Ziya pun segera menyusul, berjalan bersisian dengan Juna. Semakin memasuki lorong, dentuman musik mengerikan mulai


terdengar. Hanya tinggal mereka berdua, acara jatuh tadi membuat mereka tertinggal jauh dari rombongan.


“Zi, ini satu jalur ‘kan? Kita enggak bakal nyasar ‘kan?” bisik Arjuna panas dingin.


“Krek!”


Tanpa sengaja Arjuna menginjak sesuatu di depannya, kemudian terdengar lengkingan suara kuntilanak memekakkan telinga, dan muncul tiba-tiba di hadapan dua manusia itu.


“Hoooaaaaa! Haaaaa!” teriak Arjuna justru memegang erat kunti buatan yang sangat menyeramkan itu.


Hosh … hosh … hosh ….


Napas Juna tersengal-sengal, ia membungkuk memegang lututnya yang tiba-tiba melemas. Ziya menepuk-nepuk bahu Juna sambil menahan tawa. ‘Pasti lucu deh mukanya, sayangnya gelap,’ gumam Ziya dalam hati.


“Apaan itu tadi, Zi. Hiiih! Astaga!” gerutu Arjuna bergidik membayangkan makhluk buatan yang amat mengerikan. Jantungnya masih berpacu


kuat.


“Hati-hati, itu tadi Kakak injak sensor makanya munculnya tepat di depan  kita,” jawab Ziya santai tidak ada rasa takut sedikit pun. Juna bahkan heran, bisa-bisanya tuh anak


sesantai itu. Enggak ada takut-takutnya sama sekali.


“Haiss, gila. Musiknya aja bikin deg-degan gini, Zi.” Masih menggerutu, Juna lalu melakukan streeching mengangkat kedua tangannya,


melemaskan otot-ototnya yang tegang. Ziya masih mencoba menahan tawanya. Lengan


Juna yang terus digerakkan kembali menyenggol sensor yang tergantung di


atasnya.

__ADS_1


Kali ini seperti suara hantu cowok yang menggelegar, dan muncul pocong buatan dengan balutan kain putih compang-camping, lusuh, dua bola matanya menyala merah. Teramat menyeramkan. Lagi-lagi Juna menjerit ketakutan.


Ziya hanya terkejut saja, namun tidak sampai berteriak dan kalang kabut seperti Juna yang segera lari terbirit-birit. Ia hanya menyibak


benda di depannya itu dan berjalan santai.


Juna sampai terjongkok, kesulitan mengatur napas. Tenggorokannya semakin terasa kering. Keringat sudah membasahi seluruh


tubuhnya. Bahkan kemeja putihnya pun sudah basah.


“Kak,” panggil Ziya khawatir. Kali ini Ziya menduduki kursi yang ada di samping Juna. Ternyata ada tombol sensornya juga. Sementara Ziya sibuk menenangkan Juna, terdengar suara gesekan-gesekan lantai. Tentunya musik serem masih diputar mengiringi perjalanan mereka.


Juna menoleh ke sumber suara, tampak seorang wanita berbaju putih lengkap dengan aksesoris di kepalanya seperti seorang suster yang beringsut di lantai. Wajahnya dirias seperti banyak memiliki luka dan noda


merah seperti darah. Di belakangnya ada makhluk bertubuh besar yang berwarna


hitam seluruh muka dan tubuhnya.


Telunjuk Juna menunjuk ke belakang Ziya, di mana hantu wanita itu memelototinya dengan amat tajam. “Ssu … su … suster!” Belum selesai


berbicara akhirnya tumbang juga pria tersebut.


Ya, Arjuna pingsan setelah bergelut dengan ketakutannya sedari tadi. Ziya pun menjadi panik, bukan karena hantu-hantunya melainkan pria yang bertubuh tak ringan itu pingsan di depannya.


“Aduh, Kak. Bangun dong, jangan pingsan di sini. Gimana aku bawanya coba?” ucap Ziya menepuk kedua pipi Arjuna.


“Gimana dong nih? Ah gara-gara kalian nih. Dia jadi pingsan gini!” sentak Ziya pada hantu-hantu di depannya. Bukannya takut malah diomeli. Namun para hantu itu bergeming, sama sekali tak membantu Ziya. “Apa? Pergi enggak?” serunya lagi melepas sepatunya bersiap melempar ketika suster ngesot memelototinya.


“Kak, bangun dong.” Ziya menghela napas panjang sambil melepas dasi dan dua kancing kemeja Arjuna.


Sebuah ide terbesit di pikiran Ziya. “Huuuhhh,


bismillahirrohmanirrahim,” ucapnya mendekatkan bibirnya pada bibir Arjuna.


Semakin dekat, semakin dekat dan … Ziya pun memberikan napas buatan untuk Arjuna. Hingga ketiga kalinya, Arjuna terbatuk lalu tersadar. Ziya segera memundurkan tubuhnya. Mereka saling pandang dalam kegelapan lorong rumah hantu itu.


Sampai suara petugas terdengar menggema sembari mengarahkan senter ke segala arah. Sudah lebih dari 15 menit ia tertinggal dari rombongan yang sudah keluar area. Hingga akhirnya petugas pun memutuskan mencari


keduanya.


“Bisa berdiri?” tanya Ziya kemudian. Arjuna masih belum tersadar sepenuhnya. Kepalanya masih terasa berat dan serasa berputar. Ia


mencoba mengingat apa yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2