
Ziya baru tersadar ketika masih memegang pancing di tangannya. Ia kembali ke lantai bawah meletakkan alat pancing kakaknya itu setelah berganti pakaian. Karena bajunya tadi masih sedikit basah.
Setelah meletakkan kembali ke tempatnya, rasa haus membuatnya mengayunkan kaki menuju dapur. Diambilnya gelas panjang dan diisi air putih hendak dibawa ke kamar. Tanpa sengaja pandangannya menangkap Rio dan Juna tengah berbincang di taman belakang. Penasaran, Ziya pun mendekat, ingin mendengar percakapan keduanya.
Mata Ziya berkabut, air matanya menggenang siap berjatuhan membasahi kedua pipinya. Gelas di tangannya terlepas, hancur berserakan di lantai, persis seperti hatinya ketika mendengar Arjuna mengatakan dengan mantap, bahwa pria itu hanya ingin mempermainkankannya.
"Ziya!" seru dua pria itu bersamaan kala mendengar suara gelas jatuh ke lantai.
Dengan berurai air mata, Ziya memutar tubuhnya hendak berlari kembali ke kamarnya. Arjuna membelalakkan matanya, tidak menyangka jika Ziya mendengar ucapannya. Buru-buru ia berlari, meraih lengan Ziya.
"Ziya, a--aku tidak bermaksud ...." Genggaman Arjuna cukup erat. Suaranya terbata-bata. Ketakutan tiba-tiba melingkupi hatinya. Namun Ziya meronta menghempaskan lengan Arjuna sekuat-kuatnya.
"Zi, tolong dengerin aku dulu," pinta Arjuna dengan memelas. Gadis itu masih berusaha melepas tangan kekar Arjuna hingga lengannya memerah. Tatapannya nyalang, tenggorokannya tercekat. Tubuhnya sudah bergetar menahan tangis yang siap membludak.
Rio menarik kaos yang dikenakan Arjuna. Lalu memberikan pukulan telak di wajahnya. Tangannya terlepas dari lengan Ziya. Ia tidak membalas sedikitpun. Membiarkan Rio melampiaskan amarahnya.
Kalau biasanya Ziya memohon dan berusaha memisahkan mereka berdua, tidak untuk kali ini. Ia lebih memilih berlari menaiki anak tangga. Menutup pintu dengan keras, tubuhnya beringsut ke lantai. Tangisnya pecah, tanpa bisa dikendalikan laju air matanya.
'Aku pikir hatiku sudah terbalut kuat, namun ternyata masih bisa patah bahkan sampai hancur. Sesakit inikah?' jerit Ziya dalam hati.
"Brengsek! Pergi lo dari sini! Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi! Dan urus pacar lo yang lagi sekarat di rumah sakit itu!" bentak Rio penuh emosi setelah puas memukul Arjuna. Deru napasnya terdengar amat kasar.
Pandangan Arjuna beralih ke wajah Rio seketika. "Apa maksud kamu?" Ia berusaha berdiri. Ibu jarinya menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Meysa koma. Temui dia, dan jangan pernah kembali ke sini lagi," geram Rio dengan tangan terkepal kuat sembari membalikkan tubuh. Ia tak kuasa melihat wajah Juna. Hatinya ikut sakit dengan ucapan Arjuna tadi.
__ADS_1
Emosinya mulai menurun. Namun matanya masih memerah, kepalan di tangannya juga semakin kuat. Napasnya berderu kasar.
Sebagai kakak, Rio peka terhadap perubahan adiknya. Ia terlihat bahagia ketika sedang bersama Arjuna. Belum pernah sebelumnya seperti itu. Dan apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Ia sangat menyesal tidak bisa melindungi adiknya dari cinta yang bisa menghancurkannya kapan saja.
"A--apa yang terjadi dengan Meysa?" tanya Juna. Dadanya berdegub kencang.
"Pergilah ke klinik Kak Reza." Rio menurunkan nada bicaranya. Ia memutar tubuh membelakangi Arjuna yang masih sock mendengar kabar Meysa.
Tubuh Juna melemas, pandangannya mengarah lantai dua. Berharap Ziya keluar. Bagaimanapun, ia juga mengkhawatirkan Ziya. Namun di sisi lain ia juga khawatir akan kondisi Meysa.
'Apa yang terjadi padanya?' batinnya bertanya-tanya.
"Nunggu apa lagi? Cepat tinggalkan rumah ini! Sebelum aku menghajarmu lagi," berang Rio berkacak pinggang tak mau menatap Arjuna. "Pergi!" bentaknya lagi dengan nada tinggi. Sedikit menolehkan kepalanya.
"Rio, izinkan aku bertemu Ziya sebentar," pinta Arjuna menahan sakit di pipinya.
"Tidak!" tegas Rio.
Bukan jawaban yang diberikan namun, tatapan nyalang dengan geraham yang mengetat. Arjuna seolah tak gentar. "Jangan pernah temui Ziya lagi!" tandas Rio dengan tegas.
"Maaf," ucap Juna menunduk lalu melangkah pelan menuju kamarnya. Entah kenapa hatinya berkecamuk tidak karuan.
Pandangannya nanar menatap sekeliling kamar. Kenangan-kenangan mulai ia menginjakkan kaki di rumah ini pertama kali, pertemuannya dengan keluarga ini, hingga hubungan yang semakin erat seperti sekarang. Ingatan-ingatan kebersamaan Ziya juga turut berputar di kepalanya.
"Maaf, Zi," gumamnya membereskan semua pakaian ke dalam tasnya.
Berat sekali kakinya melangkah, Rio sudah tidak terlihat lagi. Juna terus melangkah keluar. Tepat saat membuka pintu, rombongan ibu Ziya beserta keluarganya telah sampai di rumah.
"Loh, Nak Juna mau ke mana?" tanya Ibu heran. "Ini kenapa?" pekik Ibu meraba wajah Arjuna. Raut wajah terkejut tak bisa disembunyikan.
__ADS_1
Arjuna memejamkan mata, merasakan hangatnya belaian seorang ibu yang lama ia damba. Ia meraih tangan ibu dan menciumnya lama. Lalu memeluknya seperti memeluk ibunya sendiri. Tenang dan damai.
"Bu, tolong maafin semua kesalahan Juna. Terima kasih banyak untuk semua. Ibu jaga kesehatan. Ingat, jangan makan makanan yang terlalu asin dan mengandung banyak kolesterol. Juna pamit dulu, Juna janji pasti kembali lagi. Assalamu'alaikum," ucapnya melepas pelukan, mencium tangan Ibu Resi lalu melenggang pergi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati, Nak. Ibu tunggu ya," teriak Ibu Resi melambaikan tangan. Ia pikir, Juna pulang seperti biasa.
Arjuna mengangguk, mulai menyalakan motornya. Perlahan ia jalankan, menekan klakson berlalu pergi. Setelah lumayan jauh dari kediaman Ziya, Juna melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Hanya sekitar 10 menit ia sudah sampai di pelataran Klinik Husada, milik Reza. Buru-buru ia turun meletakkan helm dan berlari menuju bagian informasi.
"Pasien atas nama Meysa Adriana!" Tanpa basa-basi, Arjuna mengatakan dengan menggebu.
"Sebentar ya, Mas," ujar seorang perawat mulai membuka komputernya. "Pasien atas nama Meysa Adriana ada di Kamar Bougenvile, Mas. Lorong VIP lantai 5," jelas perawat tersebutm
Arjuna berlari menuju lift, lekas masuk ketika pintu terbuka. Setelah berhenti tepat di lantai 5, Juna menunduk, tak berani mengangkat kepalanya. Ia tak siap mendengar sesuatu yang buruk terjadi pada Meysa.
Dadanya mulai bergemuruh, perlahan kepalanya terangkat. Kedua kakinya memaksa melangkah keluar. Dilema antara penasaran dan takut.
Sampailah ia di ruangan yang dituju. Tampak seluruh keluarga Meysa sedang menangis meratap. Juna mulai berkaca-kaca. Tapi tak berkedip sedikitpun.
"Om ... Tan," sapa Juna yang merasakan sakit di tenggorokannya. Matanya yang memerah, memandang kedua orang tua Meysa yang menangis, saling berpelukan dan saling menguatkan.
Keduanya menoleh bersamaan, terkejut dengan kehadiran Arjuna. Ditambah dengan penampilannya yang acak-acakan dibubuhi beberapa luka di wajah tampannya. Pasalnya, mereka berusaha keras untuk pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun sesuai permintaan Meysa.
"Ju--Juna? Ba--bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Mama Indah--Mamanya Meysa dengan gugup.
"Apa yang terjadi dengan Meysa, Tante?" ucap Juna penuh penekanan namun berusaha menekan emosi.
Lagi-lagi wanita paruh baya itu menangis, sang suami kembali memeluknya, mengusap-usap punggung sang istri untuk menenangkannya. Juna mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" pekiknya memukul tembok yang ada di depannya.
Bersaambung~