
"Ka... kamu nggak mau nikah sama aku, Zi?" tanya Arjuna tergagap.
"Lamaran model apa lewat telepon begini? Iss nggak romantis sama sekali," cetus Ziya dengan jutek.
Dalam bayangannya itu dilamar seorang pria dengan cara romantis, minimal dinner romantis atau apa gitu. Lah ini cuma lewat telepon doang. Mana mau nerima?
Juna mengembuskan napas kasar. "Maaf ya. Tapi aku harus jagain Meysa dulu. Mamanya drop karena beberapa hari nggak makan, kepikiran dia terus. Jadi aku minta mereka pulang dulu. Besok pagi aku ke rumah ya," rayu Juna mencoba menjelaskan.
"Enggak perlu. Emm ... aku ngantuk, Kak. Udah dulu ya." Tanpa menunggu balasan, Ziya mematikan ponselnya melemparkannya begitu saja.
Juna mengusap wajahnya dengan kasar. "Tenang, kalem, jalani semua dengan kepala dingin. Huuft, sepertinya terlalu terburu-buru. Tapi aku takut nanti diduluin orang. Pasti makin lucu deh wajahnya kalau lagi ngambek," gumam Arjuna menatap wajah Ziya yang menjadi wallpapernya.
...****************...
Pagi-pagi sekali, Ziya sudah berkutat di dapur membantu ibu dan ARTnya. Ia sangat bersemangat memasak pagi itu. Rencananya akan membuat kejutan untuk pujaan hatinya. Karena rasa bersalahnya semalam.
Ia sadar, tidak seharusnya marah. Meski memang hati kecilnya tercubit kala pria itu mengutamakan Meysa. Perempuan yang pernah mengisi hatinya sekian lama. Bohong jika rasa itu hilang sepenuhnya. Atau memang Ziya yang tidak mudah percaya begitu saja.
__ADS_1
"Kamu semangat sekali, Zi? Biasanya paling malas bangun pagi," tegur ibunya sembari mencicipi capcay buatannya.
"Hehe. Nanti boleh ke rumah sakit nggak, Bu? Mau jenguk Kak Meysa."
"Nggak kuliah?" tanya ibu memicingkan matanya.
"Ada jam siang, Bu. Terus boleh bungkusin makanan juga nggak?" pinta Ziya ragu.
Kening sang ibu mengerut. "Bukannya di rumah sakit udah dikasih jatah makan? Dia kan nggak boleh makan sembarangan," selidik Ibu Resi.
"Bukan buat Kak Mey. Tapi buat Kak Juna," gumamnya pelan sambil menyengir.
Dengan semangat 45 Ziya beringsut dari duduknya lalu berlari ke kamar untuk bersiap. Tak butuh waktu lama, ia sudah turun dengan celana jeans dan blouse putih yang membalut tubuhnya. Tak lupa menghubungi salah satu temannya untuk mengantarnya.
"Berangkat ya, Bu. Assalamualaikum." Ziya mencium tangan ibunya yang terbengong. Pasalnya ia bahkan belum sarapan tapi langsung keluar begitu saja dengan berlari kecil.
"Waalaikumsalam," sahut sang ibu menggelengkan kepala. Heran dengan tingkah putrinya itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Ziya membuka pintu perlahan. Ia melongokkan kepala, mengintip ke dalam kamar inap Meysa.
"Loh, kosong. Kemana mereka?" gumam Ziya bertanya-tanya.
Ia melangkah masuk, samar-samar mendengar gemericik di kamar mandi. Lalu matanya membelalak disertai mulut terbuka ketika melihat Meysa berada di gendongan Arjuna, melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu.
Seperti ditusuk ribuan jarum, jantungnya terasa nyeri melihat pemandangan itu. Ia meneguk salivanya membasahi kerongkongan yang tiba-tiba mengering.
Meysa yang memang masih lemas, hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada Arjuna. Matanya pun terpejam. Namun tidak dengan Juna yang mendongak saat ekor matanya menangkap seseorang di ambang pintu.
Deg!
Pandangan mereka saling bertemu. Juna terpaku masih menggendong tubuh ringkih Meysa. Langkahnya terasa amat berat. Tubuhnya gemetar ketakutan. Seperti kepergok sedang selingkuh saja.
Ziya tersenyum getir, matanya nanar bersiap menumpahkan air mata yang sudah menggenangi kedua netranya. Tanpa suara ia berbalik keluar ruangan. Juna segera meletakkan Meysa perlahan, menyelimutinya dan berpamitan keluar sebentar.
"Jangan pergi!" lirih Meysa menahan lengan Arjuna yang sudah bersiap berlari.
__ADS_1
Bersambung~