
Dalam keadaan masih basah kuyup, Arjuna segera mengambil motor dan melajukannya ke rumah Ziya, setelah berhasil menemukan cincinnya.
Tak peduli dingin menembus kulitnya, ia memacu dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, kecewa saat ia tidak menemukan gadis itu di sana. Sang asisten rumah tangga mengatakan, Ziya berangkat kuliah.
Baru teringat akan ponselnya, Juna merogoh di saku belakang celana. Matanya terpejam sesaat sambil mengembuskan napas berat. "Sial! Kecelup air," rutuknya pada diri sendiri.
Sementara itu, Ziya masih asyik menghabiskan waktu di rumah kakaknya. Naya bahkan mengajaknya memasak bersama. Setelah mendapat siraman rohani dari sang kakak ipar, hatinya sedikit membaik.
"Mau nginep sini, Zi?" tawar Naya ketika hari sudah beranjak sore.
"Enggak deh, Kak. Nanti ibu nyariin. Aku pulang sekarang aja ya. Makasih buat semuanya, Kak. Sehat-sehat ya bumil," pesan Ziya menyentuh perut sang kakak ipar.
"Hati-hati ya, Zi, salam buat ibu," pesan Naya mengantarkannya hingga ambang pintu.
Setelah melihatnya menghilang dari pandangan, Naya menggeleng-gelengkan kepala. "Hemm ... manja, kurang pergaulan, terlalu banyak kekangan, alhasil seperti ini nih. Enggak bisa memutuskan sesuatu dari berbagai sudut pandang. Hanya kekeuh dengan keras kepalanya sendiri. Harus sering-sering di kasih siraman rohani nih." Naya menghela napas panjang.
Ia teringat akan percakapannya dengan Reza, jika memang selama ini ia terlalu keras pada Ziya. Masih memperlakukannya seperti anak kecil. Melarang ini dan itu. Meski ia tahu, semua demi kebaikan sang adik. Namun berimbas pada sikap Ziya juga akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ziya sampai di rumah ketika hampir malam. Memang, jarak rumah Reza dengan ibunya tidak terlalu jauh. Segera ia membersihkan diri setelahnya memainkan ponsel di ranjang besarnya.
Sesaat, ia ragu saat menscroll nama-nama kontak dan berhenti di sebuah nama yang membuatnya berdebar.
"Telepon nggak ya?" Maju mundur beberapa waktu, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghubungi Arjuna.
Kerutan di kening Ziya semakin dalam saat hanya operator yang menjawab teleponnya berulang-ulang. Menandakan bahwa ponsel Juna tidak aktif.
Jantungnya semakin berdetak tak terkendali. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Pikirannya mulai berkelana kemana-mana.
"Ziya, makan dulu, Nak!" Suara sang ibu membuyarkan Ziya di depan pintu.
Di meja makan, sudah berkumpul ibu dan Rio. Juga ada ART yang tengah menyiapkan makan malam. Ziya mendongak, memberanikan diri untuk bertanya.
"Eemmm, Bu." Sang ibu pun menatapnya, "Ya?"
Ziya memainkan sendok di piringnya, "Tadi, Kak Juna ke sini enggak?" tanyanya pelan dan meragu.
"Engg...."
__ADS_1
"Iya, Neng. Tadi Dek Juna datang. Pakaiannya basah kuyup nyari Eneng," tukas ART menyerobot jawaban majikannya. Ziya membelalak, diikuti ibu dan kakaknya yang terkejut.
"Terus Bibi suruh masuk enggak? Jam berapa, Bi? Dia bilang apa?" cecar Ziya bertubi-tubi.
"Tidak bilang apa-apa, Neng. Cuma nanyain si Eneng ada di rumah apa enggak? Terus langsung pergi lagi.
Rio menatapnya dengan curiga. Sedangkan raut wajah Ziya menunjukkan benar-benar khawatir. Ia bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu gelisah gitu?" tanya sang ibu. Sedangkan Rio masih bergeming menatap Ziya.
"Eumm ...."
Duh gimana ya? Cerita enggak nih? Tapi aku takut.
"Apa yang terjadi?" Rio menyelidik.
"Itu ... tadi, Kak Juna me--melamar aku." Ziya bahkan menunduk, tangannya saling bertaut di atas meja. Ia menelan salivanya dengan berat.
"Apa?" seru ibu dan Rio bersamaan.
__ADS_1
Bersambung~