
"Mana kutahu." Reza mengendikkan bahunya. Ziya menahan napas sesaat. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Cemas dan khawatir menyeruak dalam dada.
Reza menghela napas panjang, mengusak rambut Ziya hingga terburai berantakan. Jika biasanya ia akan marah, tidak untuk kali ini. Ziya mengabaikan semua kejahilan sang kakak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mentari hampir menenggalamkan diri di peraduan. Reza bersama seluruh keluarga besarnya mengantar kepergian Meysa pada sang pencipta.
Mereka memang tidak mengikuti serangkaian acaranya. Hanya saja, menghormati jasad Meysa sebagai sesama manusia. Apalagi Meysa dekat dengan keluarga Reza. Rio juga tampak hadir di sana. Pria yang sering mendampingi Meysa sebelum collaps. Meski sama-sama dewasa, namun tidak pernah berniat untuk menaikkan status persahabatan.
"Dokter, Terima kasih banyak, karena mau ikut mengantar Meysa. Mohon dimaafkan segala kesalahannya. Terima kasih sudah memberi yang terbaik untuk putri kami," ujar Papa Indra usai acara pemakaman.
"Sama-sama, Pak. Semoga Meysa mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan Bapak sekeluarga diberi kesabaran," sahut Reza menjabat tangan Papa Indra.
Setelah berbela sungkawa, Reza pun berpamitan. Karena Naya sendirian di rumah. Ia sering pusing dan mual saat berpergian. Disusul Rio dan sang ibu pulang dengan mobil masing-masing.
Ziya masih penasaran. Ia bahkan menunggu sampai pemakaman sepi. Keyakinannya kuat, Juna pasti datang. Namun sampai langit mulai menggelap, seruan azan terdengar tak jauh dari tempatnya berpijak menyadarkan Ziya. Laki-laki itu sama sekali tidak menampakkan diri. a
__ADS_1
"Kak, aku pamit ya. Berbahagialah di sana." Ziya menaburkan kelopak mawar di atas pusara Meysa. Lalu meninggalkan lokasi pemakaman menuju rumahnya.
Di tengah perjalanan, Ziya membelokkan motornya di sebuah masjid. Ia menunaikan kewajibannya di sana. Usai salat jama'ah, Ziya mengenakan flat shoes'nya.
Saat beranjak ke parkiran, ia menatap punggung yang familiar di matanya. Berjalan semakin jauh dari jangkauan. Ziya berlari mengejarnya, menyentuh lengan pria itu.
"Kakak!" panggilnya dengan napas terengah-engah.
Pria itu menoleh, Ziya lekas melepaskan genggamannya. Matanya membelalak, dan membuat wajahnya memerah karena malu.
"Ma... maaf, saya pikir orang yang saya kenal," ucap Ziya menunduk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ziya mengembuskan napas beratnya. Ia berjalan pelan menuju motornya terparkir. "Kamu di mana, Kak? Maafin aku," gumamnya diiringi air mata yang menerobos kedua sudut matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah ruangan serba putih terbaring seorang pria di atas brankar. Selang oksigen menempel di hidung mancungnya. Tangan kanannya juga tertancap selang infus sebagai asupan makan, obat dan pengganti cairan.
__ADS_1
Pintu ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian pria paruh baya yang duduk di samping ranjang. Ia tersenyum menyambut kedatangan orang itu.
"Apa kabar, Om?" ucap Dika mencium punggung tangan Andreas yang tak lain adalah Papa Arjuna.
"Baik, kapan berangkat? Kok sudah sampai di sini?" sahut Andreas menepuk bahu Dika.
"Baru dapet cuti, Om. Pas denger Juna dioperasi pengennya langsung loncat ke sini. Tapi berbarengan dengan banyaknya jadwal operasi saya." Dika menumpukan kedua tangannya di tepi ranjang Arjuna.
"Yah, Om mengerti. Duduklah, Om mau keluar sebentar, titip Juna ya," pamit Andreas beranjak berdiri dan berjalan keluar.
Dika mengangguk, menggantikan posisi ayah dari sahabatnya itu. Ia menatap wajah pucat Arjuna dengan iba.
"Lo gimana sih, Bro. Lama enggak ada kabar, tiba-tiba terbaring kek gini? Ck! Dan pengorbanan lo, malah harus kehilangan Meysa selamanya." Dika bergumam sendiri.
Dika sama sekali belum tahu mengenai Ziya. Karena memang Juna belum menceritakan pada siapa pun. Ia bermaksud pulang untuk menjemput papanya dan langsung melamar Ziya secara resmi. Namun belum sempat terjadi, ia malah berakhir di meja operasi sebagai pasien.
"Jun, lo enggak bilang sih kalau cewek di sini bening-bening. Mana mukanya adem gitu dilihat. Tadi gue ketemu bidadari, waktu mampir di masjid. Mukanya duh imut banget. Tapi gue grogi, langsung cabut. Nyesel nggak ngajak kenalan dulu," papar Dika terkikik teringat seorang gadis yang menarik lengannya tadi.
__ADS_1
Bersambung~