Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Impas!


__ADS_3

Merasakan alarm tanda bahaya, Ziya bergegas menarik lengan Juna segera menaiki sepeda motornya. Namun pria itu masih bergeming menatap Rio dengan tajam.


“Kak Rio, mundurin dikit mobilnya. Enggak bisa keluar nih motornya,” seru Ziya.


Rio memundurkan mobilnya sekitar setengah meter, ia lalu turun dan mendekati mereka. Ziya terbelalak dalam hatinya, was-was. Takut


kejadian jontok-jontokan kembali terjadi.


“Mau ke mana?” tanya Rio menyelidik.


“Ke danau, mau mancing, Kak. Mau ikut? Eh enggak muat motornya. Kakak kerja aja, ya,” celetuk Ziya mengenakan helm dan buru-buru naik ke motor yang belum dinyalakan.


“Buruan!” Ziya menarik jaket Arjuna yang membalut tubuh kekarnya.


Tanpa berucap sepatah kata, Juna bergegas menjalankan motornya. Ziya mengembuskan napas lega, setelah semakin jauh dari rumahnya meninggalkan Rio yang masih mematung di halaman. Ia mengusap-usap dadanya yang berdegub kencang dari tadi.


Ziya memberikan arahan jalan, hingga mereka sampai di tempat tujuan. Suasana masih sangat sepi, untungnya sudah buka. Mungkin karena hari kerja, jadi tak banyak yang berkunjung.


Mereka bergegas mencari lokasi yang paling nyaman setelah memarkirkan motor. “Wow, seger banget di sini, Zi,” ucap Juna menghirup


dalam-dalam oksigen, mengembuskannya perlahan. Dilakukannya berulang-ulang,


cukup membuatnya merasa sedikit fresh.


Beberapa kali anggukan dilakukan Ziya, meskipun Juna tidak melihatnya. Ia sibuk menyiapkan tempat, menggelar tikar yang disewanya sewaktu di pintu masuk tadi. Lalu mengeluarkan segala perlengkapan yang dibutuhkan.


“Kamu bisa mancing?” tanya Arjuna duduk di samping Ziya.


“Eh, itu sepatu lepas dulu. Nanti kotor tikarnya,” gerutu Ziya yang justru tidak membalas ucapan Juna.


“Males.”


“Iih, lepas!” sentak Ziya mendelikkan mata. Melihat Juna masih bergeming duduk santai menekuk kedua lututnya, Ziya menarik kaki Juna, melepas paksa sepatu yang dikenakan Arjuna. “Nah, gini ‘kan bersih jadinya,” lanjutnya lalu beralih pada pancing dan memasang umpan.


Juna tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Ampun, Nyai,” selorohnya turut memegang pancing satunya. Ziya menoleh sebentar namun segera beralih pandang ke depan melemparkan mata pancing ke danau yang berwarna hijau itu. Tak lama, Arjuna melakukan hal yang sama.


“Eh, Kak. Aku penasaran nih.” Ziya duduk bersila sembari menunggu kailnya ditarik oleh ikan.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Arjuna menoleh.


“Kok Kakak bisa kenal Kak Naya sih? Setahuku dia seumuran sama Kak Reza.” Pertanyaan yang dipendamnya sejak hari pernikahan kakaknya.


“Oh, dia ‘kan dinasnya di rumah sakit Bandung. Dia senior aku, termasuk salah satu dokter anastesi terbaik,” jelas Arjuna menatap hamparan hijau di depannya. Air yang tenang, pepohonan di sekitar danau sungguh


menyejukkan hati.


Ziya manggut-manggut mendengarnya, “Wow, keren. Kok bisa kenal sama Kak Reza, ya. Mereka tuh enggak pacaran setahu aku. Kak Reza tiba-tiba aja minta izin ibu untuk melamarnya, terus langsung nikah,” cerita


Ziya.


“Yah, mungkin sering ketemu waktu seminar. Apalagi Kak Reza kepala dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit swasta di sini,” tebak Arjuna. Ia berdiri melihat pancingnya bergerak-gerak, segera menarik senarnya dan sebuah tangkapan ikan nila yang cukup besar.


“Woaahh! Kok udah dapat sih,” cebik Ziya kagum turut mendekat. Juna meraih ikan itu meletakkan pada ember yang sudah disediakan.


Arjuna tersenyum bangga, “Iya dong, kecil ini mah.”


Ziya kembali duduk di atas tikar, menopang dagu dengan kedua tangannya. Kesal karena sudah lama tapi pancingnya sama sekali tak bergerak sedari tadi. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ziya tertawa terbahak-bahak. Sampai merebahkan tubuhnya di tikar dan memegang perutnya.


Sontak, Arjuna pun terkejut. Bulu kuduknya bergidik, ia menatap ke sekelilingnya. “Sepi, nih anak kenapa? Waduh, kesambet nih keknya,”


Dengan ragu-ragu, Arjuna mendekat dan memegang kening Ziya, “Enggak panas. Zi sadar, Zi. Jangan nakutin gini dong.” Jantungnya sudah berdegub hebat, pikirannya melayang ke mana-mana.


Ziya terbangun, menatap Arjuna dan mengangkat telunjuknya mengarahkan pada pria itu. Lalu kembali tertawa terbahak-bahak melihat Arjuna yang pucat seketika.


“Ziya, please lah. Jangan bercanda! Enggak lucu tau,” geram Arjuna mengerutkan dahinya.


“Buahaha! Oke serius,” jawab Ziya mencoba menahan tawanya.


“Apasih! Enggak jelas kamu,” dengus Arjuna menatap lurus lagi.


“Akutuh keinget kemarin waktu di rumah hantu,” ucap Ziya meledakkan tawa lagi.


Perutnya sampai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. Sedang Arjuna menekuk muka, sebal karena Ziya mengungkit kelemahannya.


“Udah dong, jangan ungkit lagi. Ah enggak asyik,” gerutu Arjuna.

__ADS_1


“Yah, enggak bisa berhenti ketawa, gimana dong?” Ziya sampai menyeka air matanya yang menetes karena tawanya. “Abisnya sama hantu


jadi-jadian aja takut. Terus lagi tuh, masa liat suster langsung pingsan. Padahal tiap hari bergaulnya sama suster. Dan pasti sering liat orang mati, ‘kan?” ledek Ziya menekan mulutnya agar berhenti tertawa. Tapi sia-sia, ia tak dapat menahan tawanya.


“Susternya tuh cantik-cantik, kelles enggak serem kek kemarin. Lagian orang mati mah diem aja, enggak gerak-gerak. Kemarin udah serem banget, suaranya nyeremin tambah gerak-gerak pula. Berasa mau copot nih


jantung,” elak Juna mencari pembelaan.


Lagi-lagi Ziya tergelak mendengar penuturan Arjuna. Tak menyangka pria kekar yang bertubuh tinggi itu takut pada hal-hal mistis walau hanya buatan.


Pria itu menatap tajam hingga mampu mengunci bibir Ziya seketika. Juna mengambil pancingnya lagi yang ternyata kembali menangkap ikan. Hal itu membuat Ziya iri, “Kok dapet terus sih? Punyaku enggak ada yang


nyantol!” marahnya menghentakkan kaki.


“Hahaha!” Giliran Arjuna menertawakannya. “Udah kamu belah aja tuh ikan terus bakar. Mancing mania mah urusan laki-laki,” ucap Arjuna mendorong Ziya mendekati hasil tangkapannya.


Ziya menelan ludah, maju mundur ia mendekat dan mengintip ikan-ikan yang melompat-lompat itu. Ia mengambil pisau dari tasnya, memandang benda tajam tersebut sembari berkata, “Huft, mari kita berjuang bersama,” ucapnya mengembuskan napas berat.


Arjuna tak kuasa menahan tawanya, “Lu mau perang, Zi?” ledeknya mendaratkan tubuhnya di atas rerumputan.


“Ssssttt! Diem! Biarkan aku fokus,” ucapnya melangkah ragu mendekati ember dengan menodongkan pisau di tangan kanannya.


“Hiyaaaa!” pekiknya mencelupkan tangan memberanikan diri mengambil ikan berukuran cukup besar itu. Karena licin dan terus bergerak-gerak Ziya berteriak menggenggam erat ikan itu di depan mukanya dengan menodongkan pisau pada ikan tersebut.


Namun endingnya tragis, kopat-kopit ekor ikan membuatnya hampir terlepas dari genggaman tangan Ziya. Gadis itu terus memekik seperti sedang berdemo. Sayangnya, takut ikan melompat justru ia yang berjingkat dan terlonjak hingga terjebur di danau.


Ikan pun terlepas, tubuhnya basah kuyup. “Aaaa … tolong, aku enggak bisa berenang!” teriak Ziya panik memejamkan matanya erat. Orang-orang di sekitarnya hanya menatap aneh pada dua orang itu.


“Ziya!” seru Arjuna berlari mengejar Ziya.


Dan ia pun mendengus kesal saat berdiri menjajak di dasar danau yang tinggi airnya hanya sebatas pahanya. Ziya masih menggerakkan tangannya berteriak ketakutan.


‘Pantas aja orang-orang menatap aneh gitu, eh ada yang ketawa. Yaampun pinjem mukanya bentar dong,’ ucap Arjuna dalam hati.


Ditariknya kaos Ziya dari leher hingga gadis itu kembali berdiri, “Buka mata kamu,” perintah Juna memegang bahu Ziya.


Perlahan, Ziya membuka matanya satu persatu. Arjuna meletakkan kedua tangannya di pinggang. Kesal sekali raut wajahnya, ditambah

__ADS_1


hembusan napas kasarnya.


Bersambung 😂


__ADS_2