Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Secercah Harapan


__ADS_3

Setelah membaca deretan tinta hitam di kertas itu, Arjuna meremas kertas tersebut, mengepalkannya hingga membentuk bola kertas lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Hei hei hei! Itu surat peringatan. Kamu abaikan begitu saja? Bisa-bisa dipecat kamu!" cetus Dika kembali meradang melihat Juna acuh tak acuh.


"Bodo!" gumam Arjuna tak peduli.


Pria itu menekuk kedua lututnya. Kembali menghisap rokok yang baru saja dinyalakannya. Kepalanya mendongak, mengepulkan asap rokok ke udara.


Dika mengembuskan napasnya kasar. Turut mendaratkan tubuhnya di lantai tersebut. Dia menepuk bahu Arjuna sampai pria itu terjingkat karena melamun.


"Kamu nggak kasihan sama bokap? Udah kerja keras banting tulang buat jadiin kamu dokter. Setelah lulus pun masih dikuliahin lagi ke spesialis. Dan sekarang? Apa balasan kamu? Melepaskan tanggung jawab begitu saja?" geram Dika mengguruinya.


Arjuna menelan kasar salivanya. Tersadar, selama ini dirinya belum bisa memberikan apa-apa pada papanya. Pria yang selama 19 tahun mendidiknya seorang diri setelah mamanya meninggal.


"Aku nggak akan bisa konsentrasi jika memaksa bekerja. Bukankah pekerjaan kita bersangkutan dengan nyawa? Aku tidak mau bermain-main dengan nyawa orang," aku Arjuna melirik sang sahabat.


Dika menyentuh bahu Arjuna, "Sob, ini bukan kamu banget. Selama ini ketika kamu berada di meja operasi, kamu selalu fokus, melemparkan semua masalah dan kegundahan hati kamu. Mengenyampingkan egomu demi menyelamatkan nyawa di hadapanmu. Tapi apa sekarang?" Masih mencoba membujuk.

__ADS_1


Arjuna menyunggingkan seringai tawa. Lalu sedetik kemudian menangis. Ia matikan puntung rokok, menggerusnya di asbak bersamaan dengan beberapa puntung lainnya.


"Kali ini beda, aku kehilangan separuh jiwaku, Dika." Arjuna meraih sesuatu dari kantung celananya.


Sebuah kotak bludru berwarna merah, Arjuna membukanya, menatapnya dengan seksama. "Aku bahkan hendak melamarnya. Tapi tiba-tiba dia menghilang bagai ditelan bumi," gumamnya menyapu cincin bermata satu berlian yang indah dengan kedua ibu jarinya.


"Aku mengerti," sahut Dika pelan.


Arjuna kembali menutupnya, menyimpannya kembali di saku. "Kamu tidak akan mengerti. Karena kamu tidak mengalaminya!" cibir Arjuna menatapnya remeh.


Lagi-lagi Dika mendengus. "Kenapa kamu nggak nanya HRD aja? Siapa tahu bisa melacak keberadaan Meysa dari identitas lengkapnya.


...****************...


Ziya Talia, gadis belia yang supel, pekerja keras, berusia 20 tahun. Ia tinggal bersama ibu dan kakaknya. Orang tuanya bercerai sejak dia masih kecil.


Semenjak lulus SMA, Ziya bersikeras ingin membantu ibunya mencari uang. Meski sang ibu melarang. Kakaknya, Rio bekerja di salah satu perusahaan swasta. Pria lajang berusia 27 tahun itu, enggan menikah karena masih ingin membahagiakan sang mama. Sedang kakak pertamanya, Reza berusia 33 tahun. Masih betah juga dengan kejombloannya. Namun ia pria mapan, membuka praktik klinik mandiri.

__ADS_1


"Baru keliatan dari mana, Zii?" tanya Farid rekan seprofesinya.


"Biasa, anter nyokap ke pasar dulu," sahut Ziya setelah memarkirkan motornya.


Ziya satu-satunya perempuan yang menjadi pengemudi ojek yang ber-icon hijau itu. Ia hanya akan menerima penumpang perempuan saja.


Meskipun begitu semua rekan-rekannya sangat menyayanginya dan melindunginya. Tak terkecuali Farid, yang sedari dulu menyimpan perasaan lebih padanya. Namun Ziya tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman saja.


"Zii, nanti malam keluar yuk." Farid merangkul bahu Ziya yang segera ditangkis oleh gadis itu.


"Ke mana?" tanyanya.


"Kencan!" cetusnya mendapat pelototan tajam dari Ziya.


Wahyu, Edi, Eko dan Sofyan turut membelalak mendengar perkataan Farid. Mereka melayangkan tatapan intimidasi pada Farid.


Farid pun mengangkat kedua tangannya. "Woy, santai dong. Bercanda," ucapnya cepat takut teman-temannya salah paham. Meski sebenarnya itu ungkapan hatinya yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Tidak boleh ada cinta yang bersemi dalam persahabatan kita. Karena hanya akan menghancurkan hubungan yang telah kita bangun bertahun-tahun!" tandas Wahyu memperingatkan janji mereka sejak persahabatan awal mereka.


Bersambung~


__ADS_2