
"Anak ibu kok jadi kepo gini?" ujar Ibu membelai rambut Ziya.
Seketika Ziya menjauhkan diri dari ibunya. Kedua alisnya saling bertaut. Bibirnya tertawa kecil. "Ibu tau kata kepo dari mana? Gaul amat, Bu," sindir Ziya pada ibunya kembali bersandar.
"Ibu 'kan belajar dari kamu," cetus Ibu mencubit hidung putrinya gemas.
"Jadi?"
"Jadi apa?" sahut ibu.
"Iiih ibu! Meysa itu siapa?" ulang Ziya dengan gemas.
"Mmm ... kata abangmu sih temen. Tadi Meysa pingsan di jalan, terus ditolongin sama Rio, abis diperiksa mampir dulu ke rumah karena udah magrib," jelas ibu yang masih membuat Ziya tidak puas dengan jawaban itu.
Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu dari luar. Ziya beranjak dari duduknya, bergegas membukanya. Tampak kelima sohib yang kesemuanya laki-laki itu meringis melihatkan deretan gigi putih mereka.
"Kok belum siap sih Zi?" protes Farid yang melihat Ziya masih mengenakan baju rumahan. Kaos kedodoran dan celana kombrong selutut.
__ADS_1
"Lah, aku mah siap aja. Tinggal nunggu izin dari ibu. Buru sana! Tuh ibu lagi nonton tv." Ziya menggerakkan dagu tepat dimana sang ibu berada.
Semuanya serempak masuk menemui ibu. Satu per satu mencium punggung tangan beliau. Mereka memang sudah dekat sejak lama. Kelima pria tampan itu, sering berhadapan dengan Ibu Resi juga Rio, abangnya. Kalau dua orang itu sih masih bisa teratasi. Tapi jika berhadapan dengan Reza, kakak pertama Ziya, mengkeret dah semuanya.
Farid pun memulai pembicaraan, meminta izin agar Ziya diperbolehkan keluar bersama mereka.
"Mau ngapain sih? Bukannya sehari-hari kalian itu udah kumpul. Masih kurang apa?" Ibu melipat kedua lengannya. Menilik satu persatu teman-teman Ziya.
"Eeem ... beda, Bu, kalau sehari-hari 'kan kita kerja. Tapi kalau malam 'kan kita santai, Bu," sahut Wahyu takut-takut.
"Yaudah! Kembalikan Ziya sebelum jam 9 malam. Dan jangan sampai kurang satu apa pun. Kalau ada yang lecet dikit aja, ibu sunat kalian semua!" ancam Ibu Resi tegas.
"Biar abis sekalian. Ibu percayakan sama kalian. Jangan pernah sekalipun mengajak Ziya ke jalan yang nggak bener!" tegasnya lagi.
"Siap, Bu!" jawab mereka serempak.
Karena memang sudah lama mengenal, ibu percaya dengan mereka. Ibu pun mengenal orang tua mereka semua. Kelima pemuda itu memang baik dan tidak neko-neko.
__ADS_1
"Makasih ibuku tayang," ujar Ziya memeluk ibunya.
"1 jam 45 menit!" Ibu memperingati sambil menunjuk jam dinding di atas TV yang ditontonnya.
Mereka segera beranjak dari duduknya dan berpamitan. Baru semangat melangkah keluar, sebuah mobil BMW hitam berhenti di depan rumah. Hawa dingin seketika menelusup pada kelima orang itu.
"Eh Bang Reza."
"Malem, Bang."
"Apa kabar, Bang."
Sapa mereka ketika langkah Reza sampai di depannya. Kakak pertama Ziya itu, memiliki sebuah klinik tak jauh dari rumahnya. Seringainya tajam ketika melihat adik perempuannya keluar rumah malam-malam.
Mereka tertunduk, tanpa mendengar satu patah kata pun sudah mengerti bahwa pria itu sedang marah.
"Kak, Ziya udah izin sama Ibu. Cuma sekedar ke kafe ujung jalan sono. Ibu bilang boleh asal nggak lebih dari jam 9 malam pulangnya." Ziya merangkul lengan kakaknya yang masih berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan, menatap segerombolan rekan-rekan Ziya.
__ADS_1
"Kakak jangan gitu, dong lihatnya." Ziya menggigit bibir bawahnya. Takut-takut Abang posesifnya itu bakal kasar sama teman-temannya.
Bersambung~