
Arjuna melepas selang infus di tangannya. Ia berjalan menuju administrasi, untuk melunasi biaya pengobatannya. Namun ia terkejut, ketika suster itu mengatakan bahwa semua biaya pengobatannya sudah lunas.
"Siapa yang membayar tagihannya, Sus?" tanya Arjuna penasaran.
"Atas nama Bapak sendiri," terang perawat tersebut.
Kening Arjuna berkerut dalam, nampak ia sedang berpikir keras. "Baiklah, terima kasih," ujarnya lalu meninggalkan tempat pembayaran.
Langkahnya pelan menuju parkiran untuk menemukan motornya. Teringat akan dompet, Arjuna memeriksanya ketika sudah bersandar di motor miliknya.
Saat membuka lipatan dompet, Arjuna terkejut ketika melihat uang cashnya hanya tinggal beberapa lembar saja.
"Kirain beneran dibayarin. Taunya pake uangku sendiri. Ckckck!" gumamnya tertawa sumbang.
Jalan raya begitu padat pagi itu. Arjuna mengikuti petunjuk jalan dari google maps untuk menemukan lokasi kemarin. Tak berapa lama, ia pun menemukannya.
Tepat di tempat Meysa berdiri kemarin, di sanalah Arjuna sekarang. Duduk di kursi besi yang panjang menghadap jalan raya yang begitu besar. Berharap, hari itu Meysa datang kembali. Pandangan Arjuna terus mengedar, namun hanya ramainya kendaraan yang berlalu lalang melintas di matanya.
Sesekali Arjuna berdiri, membeli minuman juga rokok pada penjual keliling yang lewat di depannya. Ia sampai mengabaikan rasa laparnya.
__ADS_1
"Mey, apa kamu nggak datang ke sini lagi?" gumamnya menyangga kedua lengan di atas pahanya. Jemarinya terkepal menopang dagu. Matanya bahkan enggan berkedip, takut jika Meysa lewat namun tidak tahu.
Dering ponsel Arjuna membuyarkan lamunannya. Segera merogoh kantong celana dan meraih benda pipih itu. Matanya membulat, ketika melihat ID pemanggil. Buru-buru ia menggeser slide hijau. Baru mau meletakkan di daun telinga, langsung dijauhkan ketika mendengar teriakan menggelegar di seberang telepon.
"ARJUNA MOLLARY! Kamu di mana? Dengan siapa? Lagi apa?" berondong Dika berteriak.
"Woilah. Kira-kira dong kalau ngomong. Itu mulut abis dikasih toa apa? Rusak nih gendang telinga," sahut Arjuna kesal.
"Abisnya lu tiba-tiba pergi tanpa alasan. Kan gue yang kena imbasnya, alhasil gue ngarang alur hidup lo biar nggak dipecat," sambung Dika tak kalah kesal.
"Hahaha! Awas aja kalau dibuat sad ending! Btw thanks ya, Bro. Aku mau lurusin jalan hidup dulu biar nggak nyasar. Aku percaya kamu bisa mengatasinya. Bye!" Arjuna segera mematikan sambungan teleponnya. Kembali fokus pada tujuan awalnya ke sana.
Tak lama berselang, ponsel Arjuna kembali berdering. Tanpa melihat ID pemanggil, ia mengangkat panggilan tersebut.
"Apa lagi sih? Pokoknya kamu atur ajalah suka-suka kamu! Jangan ganggu aku dulu!" tandas Arjuna hendak mematikan ponselnya lagi. Namun diurungkan ketika mendengar pekikan suara yang amat dikenalnya.
"Arjuna!"
"I ... iya, Pa. Hadir," sahut Arjuna terbata.
__ADS_1
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" seru Papa.
"Eee ... maaf, Pa. Juna pikir tadi Dika yang telepon," ujar Arjuna menggaruk tengkuknya.
"Di mana kamu? Kata Bibi udah pergi sejak tiga hari yang lalu?" tanya Papa dengan suara lantang.
"Di Yogja, Pa," jawab Arjuna pelan.
"Ngapain kamu di Yogja? Jadi kamu mangkir kerja selama beberapa hari? Pulang sekarang! Kebiasaan kalau Papa lagi dinas semaunya sendiri. Tuman! " Klik!
"Tap ... tapi, Pa. Aaarggh!" kesal Arjuna menarik rambutnya. Belum sempat menjawab sambungan telepon sudah terputus.
Helaan napas panjang terdengar dari mulut Arjuna. Ia melipat kedua lengannya. Dilema, pulang atau lanjut. Sudah kepalang tanggung, dan hampir menemukan jejak Meysa.
Seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya, mengalihkan perhatian Arjuna. Ia nampak kesulitan bernapas, peluhnya membanjir di wajah wanita itu. Bibirnya pucat, tangannya terus menekan dadanya sembari meringis kesakitan.
"Bu, Anda kenapa?" tanya Arjuna menyentuh lengan wanita itu.
Bersambung~
__ADS_1