
Angin yang berembus memporak-porandakan rambut Ziya yang tidak terlalu panjang itu. Tatanannya sudah tidak serapi pagi tadi. Namun, Ziya bukan tipe perempuan yang selalu jaim alias jaga image seperti perempuan pada
umumnya.
Ia tengah menikmati hidangan aneka bakar-bakaran bersama Arjuna. Ikan bakar, ayam bakar, ubi bakar, semua makanan berat dilahap keduanya dengan penuh kenikmatan.
Ziya tahu, meski Arjuna terus tersenyum, namun sorot mata kekecewaan dan kesedihan tak bias ditutupinya. Namun ia berusaha cuek, tak mau menyinggungnya lagi. Takut semakin membuat pria itu semakin terluka.
“Ah … kenyang banget.” Arjuna meneguk es jeruk hingga tandas menyisakan batu es beberapa balok kecil dalam gelas.
“Galau aja terus, Kak,” celetuk Ziya tanpa mengalihkan pandangan dari piring di hadapannya. Tangannya sibuk memilah daging ikan bakar, memisahkannya dari durinya.
Arjuna mengernyitkan kening, ia menopang dagunya dengan kedua tangan. “Kok gitu?” tanyanya heran.
“Makanmu jadi kalap. Satu bakul ludes tuh nasi,” ledek Ziya melirik sebentar, mengalihkan pandangan lagi.
“Weyy, itu kan sama kamu kelles, aku Cuma dua piring doang. Sisanya kamu yang bersihin tuh bakul,” elak Arjuna tak terima.
Ziya menelan makanannya diiringi minuman dingin dalam gelas. Lalu meletakkannya lagi di meja dengan keras, tatapannya awalnya serius,
kemudian berubah dengan senyum sambil garuk-garuk kepala, “Iya juga sih, hehe.”
“Dasar!” Arjuna mengacak rambut Ziya, semakin berantakan. “Kamu
tuh cewek, enggak ada jaim-jaimnya dikit makan sama cowok. Oiya, maaf ya, Zi.
Tanganku enggak sengaja lukain kamu,” ucap Arjuna menyentuh sudut bibir Ziya.
Tatapan keduanya tengah beradu. Ziya seperti mendapat serangan dadakan yang membuatnya terpaku seketika. Dirinya seolah hanyut dalam lamunan yang indah.
“Sakit banget ya?” sambung Juna lagi.
“Ah, enggak kok,” elak Ziya membersihkan tangannya. “Pulang yuk, dibayarin kan?” ajaknya kemudian.
“Iya, aku yang bayar,” balas Arjuna beranjak dari duduknya membayar semua makanannya.
Ziya menunggunya, menatap punggung kekar Arjuna yang terlihat sexy di matanya. Desiran angin kencang menyadarkannya, tubuhnya pun
semakin merasa kedinginan apalagi ia mengenakan burkat yang lengannya
transparan.
Perempuan itu menggesek-gesek lengan dengan telapak tangannya sendiri, sembari membuang pandangan ke laut lepas yang tengah pasang.
“Nih pake,” ucap Arjuna mengejutkan ketika menyampirkan jasnya di bahu Ziya.
Semerbak aroma parfum Arjuna menyeruak ke indera penciuman Ziya, yang semakin membuat desiran darah dan degub jantungnya semakin antah berantah.
__ADS_1
‘Berasa dipeluk, eh mikir apasih, Zi. Sadar woy, sadar. Jangan sampai terjatuh semakin dalam,’ gerutunya dalam hati. “Makasih,” ucap Ziya tersenyum cantik.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, membelah damainya Kota Yogya di malam hari. Juna memang mengendarai motor tidak terlalu cepat, sehingga Ziya tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana ia mencari pegangan.
“Zi, itu apaan rame-rame gitu?” tanya Arjuna menunjuk dengan tangan kirinya.
“Emm … itu pasar malam. Mau mampir?” tanya Ziya balik melihat ketertarikan Arjuna.
“Bolehlah, mumpung masih di sini.” Ziya hanya
mengangguk-angguk, lalu Arjuna mencari lahan parkir di sekitarnya.
Setelah sedikit berputar, akhirnya masih menemukan lahan yang kosong. Segera menghentikan motornya menitipkan pada tukang parkir yang bertugas.
“Titip ya, Pak,” ucap Ziya setelah melepas helmya bersamaan dengan Juna.
“Siap,” sahut Kang Parkir bersemangat.
Ziya dan Arjuna berjalan bersisihan, sesekali Juna menarik lengan Ziya ketika gadis itu semakin menjauh darinya. Apalagi di tengah hiruk pikuk ramainya pasar malam tersebut.
“Jangan jauh-jauh! Bahaya, anak perempuan jalan sendiri,” tegur Arjuna di telinga Ziya karena suara sekitar yang amat bising.
“Duh, berasa dijagain nih,” cetus Ziya dengan wajah bersemu sedekat itu dengan Juna.
Arjuna semakin mendekatkan tubuhnya, melingkarkan lengan di leher Ziya, berjalan santai sambil mengedarkan pandangan ke
‘Jantungku sakit banget rasanya, enggak normal nih detaknya aja enggak beraturan gini. Eh dia kan dokter jantung. Apa besok suruh periksa aja ya,’ gumam Ziya dalam hati. Tubuhnya menghindar namun Juna semakin
menariknya membuat Ziya tak berkutik.
Pasrah dengan membuang napas kasar berulang kali, berharap napasnya yang sesak bisa normal kembali. Melihat gula-gula, mata Ziya berbinar, ia berlari mendekat ke outlet tersebut ikut mengantri. Berjubal dengan
anak-anak kecil.
Hampir Juna melarangnya, namun akhirnya dibiarkan ketika tahu Ziya hanya ingin membeli gula-gula. Kedua tangannya berkacak pinggang
sambil menggelengkan kepalanya. “Bener-bener bocah,” ucapnya tersenyum.
Setelah menunggu beberapa saat, Ziya kembali menghampiri Arjuna dengan membawa 2 gula-gula di tangan. Satu sudah dibuka dan dimakannya. Satu lagi diserahkan pada Juna.
“Ke pasar malam enggak afdhal kalau enggak beli gula-gula,” ujar Ziya mengulurkan tangannya.
“Ck, makanan enggak sehat gini apa enaknya coba?” ucap Juna menatap tak suka, masih berkacak pinggang.
Ziya berhenti menggigit gula-gula, menatap makanan yang seperti kapas berwarna pink itu, memutarnya sampai kembali bertemu dengan
porosnya. “Enggak mau? Yaudah aku abisin sendiri,” celetuk Ziya berjalan melewati
__ADS_1
Arjuna.
“Hei, siapa bilang? Sini!” Arjuna mengejarnya dan menahan lengan ZIya.
“Katanya makanan enggak sehat?” sindir Ziya mencebikkan bibirnya.
Bukan jawaban yang didapat Ziya, melainkan tangannya dipaksa melepas gula-gulanya. Arjuna membukanya dan mulai memakannya. Merasakan sebentar di lidahnya, barulah ia telan makanan tersebut.
“Lumayan, enggak seburuk yang aku pikirkan,” ucap Arjuna melanjutkan jalannya di tengah kerumunan.
“Cih! Dimakan juga,” decih Ziya menggigit lagi gula-gulanya.
Mereka menikmati malam yang panjang, mencoba seluruh wahana yang ada di sana. Mulai dari yang memacu adrenalin, seperti kora-kora, ombak banyu, sampai naik kuda-kudaan yang berputar pelan.
Tak lupa mereka juga naik kincir angin, yang mana ketika mereka berhenti tepat di puncak teratas, pemandangan seluruh penjuru kota
tertangkap netra mereka. Kerlap-kerlip lampu, lalu lalang kendaraan yang terlihat amat indah.
“Abis ini ke rumah hantu, Kak. Pasti seru banget,” ajak Ziya setelah permainan mereka berakhir. Arjuna diam saja. “Kenapa? Takut?” ledek Ziya.
“Eng—enggak, siapa takut!” elak Arjuna.
“Let’s go!” Ziya berlari menuju wahana rumah hantu.
Langkah Arjuna melambat, namun gengsi. Ia berdiri di depan rumah hantu, sambil mengumpulkan segenap keberaniannya. “Huuuft! Masa kalah sama anak-anak!” gumamnya melihat beberapa anak yang mengantri masuk.
“Ayo!” Ziya menarik lengan Arjuna bersemangat setelah menggerakkan 2 tiket di tangannya.
‘Rasanya lebih memacu adrenalin ini deh dari pada naik kora-kora tadi,’ desahnya dalam hati.
Cahaya mulai gelap, raut wajahnya tak dapat terlihat jelas. Tak ada yang tahu jika saat ini Arjuna tengah berkeringat dingin. Ziya memimpin jalan di depan hingga mereka mulai memasuki wahana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Rio, aku harus pulang, udah malem nih.” Meysa melihat jam yang melingkar di lengannya.
“Kamu pucat banget, Mey,” balas Rio menatap wajah Meysa.
“Aku enggak apa-apa. Aku pulang dulu ya,” ucap Meysa beranjak dari duduknya.
“Bentar, aku ambil kunci mobil.” Rio bergegas mengambil kunci mobil dan dompetnya. Namun saat kembali ia terkejut, menemukan Meysa pingsan di lantai bersimbah darah dari hidungnya.
“Mey!” pekik Rio berjongkok memangku kepala Meysa.
“Mey, Meysa! Bangun, Mey!” sambung Rio panik menepuk-nepuk pipi Meysa.
Bersambung~
__ADS_1