Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Keadaan Membaik


__ADS_3

Klontang!


Sendok yang digenggam Arjuna tetiba terlepas dari tangannya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak baik. Tapi ia sendiri pun tak tahu apa itu.


Rio dan Reza beralih pandang pada pria itu. Pandangannya mendadak kosong. Sebuah senggolan di lengannya membuyarkan lamunannya.


"Ada apa, Jun?" tanya Reza khawatir.


"Eh, enggak apa-apa, Za." Arjuna meneguk segelas air putih dalam 4 kali tegukan besar.


"Kalau gitu, aku mandi dulu, Kak," ucap Rio bergegas meninggalkan ruang makan.


Arjuna nampak sudah tak berselera makan. Ia meletakkan sendoknya. Mengembuskan napas beratnya berulang kali.


"Mungkin kamu lelah, beristirahatlah. Bibi sudah menyiapkan kamar tamu untukmu," terang Reza.


"Iya, terima kasih," balas Arjuna beranjak menuju kamarnya.


Tubuhnya yang memang terasa amat letih, membuat Arjuna cepat terlelap. Melemaskan otot-ototnya yang tegang sedari tadi.


"Maafin Juna, Pa. Meysa, dimanapun kamu berada, semoga selalu dalam lindungan-Nya," gumam Arjuna sebelum terlelap dalam tidurnya.


...****************...

__ADS_1


Malam itu juga, Reza dan Rio bergegas ke rumah sakit. Ia mendapat kabar bahwa ibunya telah sadar. Meski belum bisa bergerak dan masih menggunakan alat bantu pernapasan.


Denting monitor detak jantung, menggema di ruangan Ibu Resi. Ziya terus menggenggam jemari ibunya. Sesekali mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ibu cepet sembuh ya. Ziya udah nggak kerja lagi loh. Nanti Ziya bakal sering nemenin ibu kalau nggak ada jam kuliah," celoteh Ziya menyandarkan kepala di dekat ibunya.


"Ziya mau kuliah?" tanya ibu lemah.


Ziya mengangguk sambil tersenyum manis. Lengannya melingkar di perut sang ibu.


"Bu!" seru Rio dan Reza membuka pintu ruang rawat.


"Kakak! Ibu sudah sadar," ucapnya menatap dua laki-laki terhebatnya.


"Udah diperiksa dokter?" tanya Reza menyentuh lengan ibunya, mengecek denyut nadinya.


"Udah, Kak," sahut Ziya mengangguk.


"Kalau gitu Kakak pergi temui dokter dulu," ucap Reza berbalik. Tidak sabar menanyakan hasil pemeriksaan ibunya.


Rio turut mendekat, tersenyum menatap ibunya. "Apa yang ibu rasakan?" tanyanya di telinga sang ibu.


"Perih, panas, nyeri," jawab Ibu Resi dengan lirih.

__ADS_1


Ruangan itu sudah dilengkapi dengan AC. Namun Ibu Resi masih berkeringat. Rio mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengipasi bekas operasi ibunya.


"Istirahat lagi ya, Bu," pinta Rio.


Setelah beberapa saat, Rio meletakkan kertas yang digunakan untuk mengipasi ibunya. Setelah melihat sang ibu kembali terpulas.


"Dek, sini," ajak Rio duduk di sofa.


Ziya mengikuti kakaknya, "Kenapa, Kak?" tanya Ziya duduk di sebelah Rio.


"Kamu ingat Meysa?"


Ziya mengangguk-anggukkan kepalanya. Fokus mendengarkan kalimat yang hendak diucapkan Rio selanjutnya. "Iya, ingat."


"Dia juga dirawat di rumah sakit ini. Kata Kak Reza, dia mengidap leukimia," terang Rio pada Ziya.


Ziya menutup mulutnya tidak percaya. "Ya Allah, pantesan dia pucet banget ya, Kak. Kasihan banget sih, masih muda padahal," gumam Ziya.


"Iya, dan lebih kasihan lagi, hidupnya nggak lama lagi," ujar Rio dengan tatapan sendu.


"Sembarangan! Hidup dan mati itu cuma Allah yang menentukan, Kak. Di ruangan mana? Kita sekalian jenguk aja. Hibur dia biar nggak tertekan," ucap Ziya mengajukan saran.


"Nanti deh tanya sama Kak Reza." Rio menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Tubuhnya penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya. Begitu pun Ziya, hari ini merupakan hari yang melelahkan baginya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2