Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Licik


__ADS_3

Sunyi, tak ada kebisingan apa pun, hingga membuat denting monitor detak jantung menggaung di seluruh penjuru ruangan. Arjuna terseok-seok mengantarkan kakinya mendekati ranjang kesakitan kekasihnya.


Tubuhnya gemetar hebat saat manik matanya menangkap tubuh yang terbaring di ranjang. Lengkap dengan segala alat penunjang kehidupan.


Air mata mulai menyeruak dari kedua sudut matanya. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi samping ranjang. Dibelainya puncak kepala Meysa dengan perlahan.


Tenggorokannya tercekat saat mau berucap, sebuah kecupan mendarat di kening gadis itu. Bahkan air mata Arjuna menetes mengenai wajah Meysa.


"Sayang, bangun. Aku minta maaf," lirihnya di telinga Meysa.


Satu lengannya melingkar di tubuh Meysa, dibenamkan wajahnya di ceruk leher Meysa. Juna menumpahkan seluruh tangis di sana. Berharap Meysa bangun mendengar semua sesalnya.


"Kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa melawannya. Bangunlah, Sayang," ucap Arjuna lagi dengan suara bergetar.


Tampak, air mata mengalir dari kedua sudut mata Meysa yang masih terpejam. Juna melihatnya, ia membelalak lalu bergegas kelur mencari dokter.


"Ada apa, Nak?" tanya Mama Meysa yang melihat Juna berlarian dari dalam ruangan.


"Mey ... Meysa menangis, aku melihatnya meneteskan air mata, Bu." Arjuna berlari lagi. Padahal di ruangan ada tombol emergency. Bisa-bisanya dia melupakan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mau ngomong apa, Al? Sebentar lagi masuk," tanya Ziya lagi melirik jam tangan yang menempel di tangannya.


"Nanti malam kita nonton, yuk," ajak Alvin dengan senyum yang lebar.


Ziya terdiam sesaat, lalu berbalik hendak berjalan ke kelas. Namun lengannya ditahan oleh Alvin. Ziya menilik genggaman tangan yang semakin lama semakin mengerat.


"Lepasin, sakit, Al," ucap Ziya pelan tak mau membuat keributan.


Alvin melangkah mendekat, tubuhnya hampir menempel di tubuh Ziya. Tangannya masih mencengkeram kuat lengan Ziya. Gadis itu mendongak, menatap mata Alvin yang memancarkan amarah.


"Aku nggak bisa keluar rumah dengan laki-laki lain selain kakak dan sahabatku," tolak Ziya masih menatap pria itu. Meski matanya mulai memerah, ketakutan melanda di hatinya.

__ADS_1


Tangan Alvin terangkat, membelai lembut pipi Ziya. Gadis itu menegang, takut Alvin berbuat nekat melebihi batas. "Kamu lupa? Aku pernah menolongmu. Kalau saja nggak ada aku, mungkin kamu sudah hancur sekarang. Atau bahkan bunuh diri," ucap Alvin dengan tegas.


Ziya menelan salivanya susah payah. Tenggorokannya tiba-tiba mengering. "Oh, jadi kamu pamrih bantuin aku?" Ziya berusaha agar suaranya tidak bergetar. Menunjukan pada pria itu bahwa dirinya tidak takut dengan ancaman apa pun.


"Tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini cantik." Lagi-lagi Alvin menggerakkan jemarinya di pipi Ziya. Gadis itu menoleh, seketika rasa benci membuncah di hatinya.


"Oke, nonton doang? Nanti malam tunggu aja di taman deket rumah aku. Aku anggap itu sebagai ucapan terima kasih, dan setelah itu selesai. Kita enggak ada hubungan apa-apa lagi. Enggak ada balas budi lagi," terang Ziya meronta melepaskan tangannya.


Dosen sudah terlihat memasuki kelasnya. Ziya berlari segera, tak lama kemudian diikuti oleh Lily yang sedari tadi mengawasi dari jauh sesuai titah dari Ziya.


"Zi, kamu diapain? Ada yang luka? Iih ini tadi dipegang-pegang sama pria brengsek itu." Lily mengambil tisu basah antiseptic dari tasnya yang memang selalu dibawa. Disapukan tissu itu di pipi Ziya, tepatnya bekas sentuhan Alvin tadi.


"Ly, udah aku enggak apa-apa. Dia cuma mau ngajakin nonton," elak Ziya menahan tangan Lily. "Duduklah di tempatmu, kelas udah mau mulai," imbuhnya menunjuk tempat duduk lain dengan dagunya.


"Sini pinjam HPmu," todong Lily masih belum beranjak.


"Buat apa?"


"Udah bawa sini, cepet!" tegas Lily memaksa.


Hari cepat berlalu. Lily masih saja berkutat dengan ponsel Ziya. Bahkan hingga mata kuliah terakhir hari ini. Gadis itu tidak memperhatikan dosen sama sekali. Ziya menggelengkan kepala, tidak tahu apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Nih!" Lily menyodorkan ponsel di hadapan Ziya setelah kelas berakhir.


"Kamu ngapain sih?" tanya Ziya penasaran membuka ponselnya.


Lily hanya mengendikkan bahu. Banyak pesan belum terbuka, tandanya Lily sama sekali tidak membuka privasinya. Lalu dia pun tak peduli dan bersiap untuk pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari, Arjuna merasa sangat lapar, seharian belum makan sama sekali. Dalam hatinya, ia harus terus sehat agar bisa menjaga Meysa. Hasil pemeriksaan tadi, masih belum menunjukkan kemajuan apa pun. Itu hal wajar dari kondisi seseorang yang koma. Padahal ia juga dokter, tapi entah mengapa pikirannya blank saat ini.


Disinilah Arjuna sekarang. Menikmati makanan di sebuah kafe tongkrongan anak muda, tak jauh dari rumah sakit. Dia makan dengan lahap, namun sayup-sayup telinganya mendengar nama Ziya disebut.

__ADS_1


Segera ia meletakkan sendoknya. Buru-buru mengedarkan pandangan mencari sumber suara. Tubuhnya berputar, hingga menemukan segerombol pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Lu yakin, Ziya mau datang malam ini?" tanya seorang pemuda.


"Yakinlah. Gue gitu loh! Ternyata ide lo manjur juga. Tadinya dia nolak. Terus gue bilang, kalau gue enggak nolongin dia waktu itu, pasti sekarang udah hancur bahkan bunuh diri. Eh langsung berubah pikiran! Ha ha ha!" tawa pemuda lain diiringi tawa menggelegar. Diikuti teman-temannya.


Arjuna terdiam, makanan yang terasa lezat tadi teronggok di tenggorokan. Diambilnya air putih yang ada di hadapannya, diteguknya hingga tandas.


"Cewek yang sok sokan gitu emang harus dikasih pelajaran," celetuk teman lainnya.


'Apakah Ziya yang dimaksud sama dengan Ziyaku?' batin Arjuna berkecamuk.


"Yah paling enggak, sekarang bisa gue jadiin senjata buat deketin dia."


Obrolan panjang lebar para pemuda itu tertangkap telinga Arjuna. Tak sedikit pun yang terlewatkan. Ucapan-ucapan mereka terus terngiang di telinga Arjuna. Ia memutuskan beranjak dari sana, membayar makanannya dan meninggalkan kafe tersebut.


Arjuna kembali ke rumah sakit. Di satu sisi ia terus kepikiran Ziya. Dia takut terjadi sesuatu dengan gadis itu. Meski saat ini duduk di samping Meysa terbaring, pikirannya kacau dan terpecah. Tangannya terus memutar-mutar ponselnya.


"Apa dia udah maafin aku?" gumamnya hendak menekan tombol call pada kontak Ziya.


"Ah, aku takut. Lagian enggak etis kalau minta maaf melalui telepon. Gimana ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Kedua kaki Juna terus bergerak. Hatinya tak nyaman, jemarinya mengetuk-ngetuk pahanya seiring dengan gerakan kakinya. Sesekali ia menggigit ponsel, mengacak rambut dengan dua tangannya.


"Aaah!" desisnya berdiri.


"Tunggu yah, nanti aku ke sini lagi," ucapnya mengecup kening Meysa lalu bergegas meninggalkannya.


Juna pamit dengan kedua orang tua Meysa. Ia mengatakan ada urusan mendadak malam ini. Dan akan segera kembali setelah usai.


"Hati-hati, Nak," ucap Mama dan Papa Meysa.


Juna mengangguk, lalu berlari menuju parkiran dan bergegas memacu motornya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2