
GREP!
Tiba-tiba Lily memiting lengan Dika ke belakang, dan menendang tulang kering pria itu hingga bersimpuh di lantai sambil mengerang kesakitan.
"Aaarrgh! Apa-apaan nih? Gila lu cewek kek samson tenaganya," pekik Dika meringis sembari melirik dengan ekor matanya.
"Katakan! Dimana pemilik HP ini? Kamu rampok ya? Atau jangan-jangan begal? Ayo ngaku!" Lily tak peduli dengan umpatan pria di hadapannya. Justru semakin mengeratkan pitingan itu, mengunci pergerakan Dika.
Jarak yang hanya beberapa centi, membuat Lily mampu menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Dika. Seketika jantungnya ingin meletup-letup. Namun, detik berikutnya ia menggelengkan kepala mengembalikan kesadarannya.
"Siapa yang kalian maksud? Aaarrghh! Sakit, brengsek!" umpat Dika emosi. Entah mimpi apa semalam hingga kesialan menimpanya siang ini.
Ziya menunduk, mata bulatnya menatap dengan penuh intimidasi. "Kak Dika kenal sama Kak Juna?" tanya Ziya memelankan suaranya namun penuh penekanan.
Dika mengembuskan napasnya kasar. "Iya jelaslah. Dia sahabat aku dari orok. Lagian kalian kenapa sih? Lepas dong, kamu jadi cewek, sadis amat sih! Awas loh susah dapet jodoh!" kesal Dika melirik Lily sinis.
"Iihh amit-amit!" balas Lily menghempaskan lengan Dika sedikit kasar hingga pria itu terjerembab. Lalu ia menyibak rambut panjangnya ke belakang. Mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Kedua tangan Ziya mengulur, membantu pria itu berdiri dan mendudukkannya di kursi yang tersedia. Sedangkan Dika meregangkan lengannya dan memutar bahunya yang terasa ngilu.
"Kak Dika, kenapa HPnya bisa di tangan Kakak? Lalu di mana Kak Juna sekarang?" tanya Ziya beruntun dengan tatapan penuh harap.
"Juna di rumah sakit. Kamu kenal?" tanya Dika balik.
Tanpa diminta air mata Ziya menyeruak, menyembur hingga membasahi kedua pipinya. "Apa yang terjadi? Rumah sakit mana? Kak Juna sakit apa?" pekik Ziya berderai air mata.
Lily segera menghampiri, diusapnya kedua bahu Ziya yang bergetar. Menariknya dalam dekapan. "Tenang dulu, Zi," bisik Lily masih mengusap lembut bahu Ziya.
"Rumah Sakit Umum, dia habis menjalani operasi ...."
Belum selesai menjelaskan, Ziya beranjak lalu berlari ke jalan raya meninggalkan Dika dan Lily. Kepalanya menoleh kiri dan kanan mencari taksi.
"Zi, sama aku aja!" seru Lily menghampiri.
__ADS_1
Dika juga ikut beranjak. Namun sebuah suara menghentikannya.
"Mas, Mas. Belum bayar biaya servisnya!" teriak sang penjaga counter.
Pria itu pun menepuk keningnya, membayar biaya servis sambil menunggu dibuatkan nota. Namun kepalanya terus mengamati Lily dan Ziya yang tengah memasuki mobil hingga mobil itu menghilang dari pandangan.
'Siapa mereka?' gumamnya dalam hati.
Selesai dengan urusannya, Dika mencari ojol untuk kembali ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Dika teringat ucapan Arjuna, kalau kekasihnya ada diponsel yang kini ada di genggamannya.
Jemarinya memberanikan diri untuk bergerak di layar benda pipih itu. Entah kenapa debaran jantungnya meningkat. Takut jika perkiraannya benar.
Tenggorokannya tercekat, kedua netranya membulat. Hatinya seperti diremat. Tulang belulangnya serasa terlepas. Banyak sekali foto Ziya yang diabadikan dalam memory ponsel itu. Entah candid, maupun welfie bersama Juna.
Apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Baru saja ada angin segar bertemu lagi dengan Ziya, perempuan bagai bidadari di hatinya, saat itu pula ia harus mematikan tunas yang baru akan tumbuh.
"Bang! Udah sampe!" Ucapan pengemudi ojol membuyarkan lamunan Dika.
"Ahh, iya." Dika memasukkan kembali Juna. Lalu turun dari kendaraan roda dua itu, sambil menyerahkan helm. "Udah aku bayar ya." Tunjuk Dika pada layar ponselnya sendiri.
Sementara itu, Ziya turun dari mobil ketika berhenti di belakang parkir. Ia segera berlari menuju bagian informasi. Tanpa menunggu Lily yang bergerak mencari lahan untuk parkir mobilnya.
"Ck! Dasar bucin," decak Lily menggeleng melihat Ziya yang masih menangis sedari tadi.
Ziya terus berlari menyusuri koridor rumah sakit setelah mengetahui ruangan Juna. Napasnya terengah-engah. Ia meneliti nama yang tertera di depan ruangan. Hanya ada satu nama, Arjuna Mollarry. Karena Juna dirawat di ruang VIP.
Tangannya mengusap pipinya dengan kasar, menghapus air mata yang berjatuhan. Dengan gemetar, ia meraih handle pintu dan membukanya dengan perlahan.
Napasnya terasa sesak, melihat pria itu tengah kesulitan mengambil air minum di atas nakas. Tangan kekar Juna tak sampai untuk meraih gelas berisi air itu. Mencoba bangun, tapi perutnya masih terasa ngilu dan nyeri.
"Aaarggh!" desisnya kesakitan.
Ziya berlari mengambilkan gelas itu dan menyerahkannya pada Juna. Pria itu terkejut, Ziya masih tak mengucapkan sepatah kata pun. Dua tangannya gemetar masih menggantung di hadapan Juna yang masih bengong.
__ADS_1
"Ziya," panggil Juna dengan pelan. "Ba... bagaimana bisa kamu ada di sini?" lanjutnya lagi.
Di satu sisi hatinya tentu sangat bahagia. Seperti biasa, detak jantungnya pun begitu berpacu begitu kuat.
Ziya masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tenggorokannya tercekat. Hatinya hancur melihat orang terkasihnya terbaring sakit. Isakannya semakin kencang. Kepalanya juga menunduk, tak sanggup menatap Arjuna.
Pria itu menguatkan diri untuk bangun. Mengambil gelas dari tangan Ziya dan meletakkannya kembali di nakas. Ditariknya tubuh Ziya dalam dekapannya.
"Sssttt... jangan nangis," ucap Juna menekan rasa sakitnya demi bisa menenangkan kekasihnya.
"Maaf," ucap Ziya ditengah isakan tangisnya.
"Maafin aku, Kak...." Tangisnya semakin pecah dan semakin mengeratkan pelukannya. Rasa hangat, bahagia, nyaman menyatu di sanubarinya.
"Kenapa minta maaf? Kamu enggak salah. Sudah ya," ucap Juna lagi mencoba menenangkan. Jemarinya berpindah mengusap lembut puncak kepala Ziya.
Keduanya saling mendekap erat, melebur kerinduan selama beberapa hari. Tanpa tahu kabar satu sama lain. Sedang Ziya merasa rapuh, lama tidak berkabar namun harus bertemu di rumah sakit dalam keadaan seperi itu.
Sementara itu Lily mendesah kesal karena ditinggal oleh Ziya. Ia menggerutu setengah berlari memasuki area rumah sakit. Tanpa sengaja, ia menubruk lengan seorang pria yang tengah memperhatikan sebuah ponsel lamat-lamat.
"Aaaw!" Lily justru berteriak. Ia melihat ponsel yang hendak terjatuh ke lantai. Dengan sigap, segera menangkap ponsel itu sampai tubuhnya terhuyung ke depan.
Lily akan terjatuh ke lantai, jika saja sebuah lengan kekar tidak membelit di perutnya. Lalu menarik gadis itu hingga menubruk dada bidangnya.
Dunia seolah berhenti. Mata Lily membelalak dengan jantung yang berdebar-debar. Apalagi saat mencium aroma parfum yang terasa familiar di hidungnya.
"Bodoh! Bisa enggak sih kalau jalan pakai mata!" bisik pria itu di telinga Lily.
Gadis itu tersadar dari lamunannya. Matanya menunduk, melihat tangan pria itu, Lily menyiku perutnya dengan kuat. Sehingga lilitan lengan di perut Lily otomatis terlepas.
"Aaarrgghh! Sialan!" pekik pria itu mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.
"Heh! Kamu yang bodoh! Mana ada jalan pake mata? Yang ada jalan tuh pake kaki. Lagian kamu jalan juga malah fokus sama HP. Bukan salahku, dong!" seru Lily tak mau kalah. Ia memberengut kesal karena terus dicaci.
__ADS_1
Bersambung~