Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Salah Sangka


__ADS_3

Teringat akan ucapan Sofyan, Ziya kembali memanas ketika melihat Arjuna. Tangannya masih terkepal kuat, lalu mendengar penuturan terakhir Arjuna membuatnya berdegub hebat, air matanya mulai bercucuran. Ia sangat takut terjadi sesuatu dengan ibunya.


Pria yang masih berdiri tegap menghadap ruang IGD itu, seolah mangsa yang hendak diterkam oleh Ziya.


"Duduk, Zi," tutur Wahyu menyentuh lengan Ziya membuyarkan lamunan Ziya.


Perempuan itu tak bisa menahan tangisnya. Ia duduk di antara para sahabatnya. Mereka semua berusaha menenangkan Ziya, mengusap bahu, menggenggam jari jemarinya, menepuk-nepuk punggungnya lembut. Mereka berusaha menguatkan Ziya. Saat gadis itu terluka, mereka pun ikut terluka. Persahabatan mereka sudah seperti sudara.


"Beliin minum sana," ucap Wahyu menatap salah satu temannya.


Segera Farid beranjak, dia paling terluka melihat Ziya sesedih itu. Ia pun melenggang pergi membelikan air mineral untuk Ziya.


Di dalam ruangan, Ibu Resi terbaring lemah, dengan kondisi yang semakin menurun. Denyut jantungnya pun semakin lemah.


"Ana, di mana Dokter Kardiologinya?" seru Reza yang sudah gemetaran melihat kondisi sang ibu.


"Maaf, Dok. Dokter Rizal berangkat seminar di luar kota, sedangkan Dokter Fikri mengalami kecelakaan tadi malam," jelas salah satu perawat yang ditanyai oleh Reza.

__ADS_1


"Apa?" Reza menelan salivanya susah payah. Tubuhnya melemas. Reza menghela napas panjang. "Siapkan operasi sekarang juga!" tandas Reza yang melihat ibunya mengalami kejang.


Semua perawat saling pandang. Pasalnya semua tim bedah jantung sedang tidak ada dokternya. Reza memberikan obat untuk menstabilkan kondisi ibunya sementara.


"Apa yang kalian lamunkan? Cepat siapkan operasi!" pekik Reza lagi.


"Ba ... baik, Dok." Para perawat berlarian, menyiapkan tim bedah beserta alat-alatnya, juga ada yang menyiapkan surat persetujuan operasi sesuai prosedure.


Reza keluar dari ruangan. Ia meraih lengan Arjuna yang berdiri tepat di hadapannya hendak membawanya masuk. Ziya segera beranjak menghentikan langkah mereka.


"Diam! Dia justru orang yang menyelamatkan Ibu. Kalau dia tidak memberikan CPR, mungkin ibu tidak akan bertahan sampai sekarang. Jangan asal bicara kalau kamu tidak tahu apa-apa dunia medis. Kamu bisa dituntut atas pencemaran nama baik!" geram Reza pada adiknya yang terus memojokkan Arjuna.


Tanpa mendengar balasan Ziya, Arjuna segera dibawa masuk oleh Reza.


Ziya tersentak mendengar penuturan kakaknya. Ia memang tidak mengerti apa-apa dunia medis. Lalu Ziya mengambil ponselnya. Dia segera mengetik huruf yang disebutkan kakaknya di mesin pencarian pada ponselnya.


Tak butuh waktu lama, ia menemukan jawabannya. Matanya menelisik membaca artikel yang menjelaskan apa itu CPR.

__ADS_1


'CPR adalah upaya pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh.' Ziya bergumam dalam hati.


Terbesit rasa bersalah di hatinya. Hanya mendengar penjelasan dari teman-temannya yang juga tidak mengerti dengan tindakan pertolongan tersebut.


"Apa tadi kalian lihat dia melakukan ini pada ibu?" tanya Ziya menunjukkan beberapa gambar yang muncul di ponselnya.


"Iya bener, tadi dia menekan-nekan dada tante di trotoar," sahut salah satu temannya.


"Kenapa?" tanya teman satunya lagi.


Ziya meremas ponselnya kuat-kuat. Air matanya kembali berjatuhan, bersamaan mendudukkan tubuhnya dengan kasar.


"Ya Allah, apa yang aku lakukan padanya?" ucap Ziya penuh penyesalan. Teman-temannya bingung, melihat perubahan Ziya.


Bersambung~


Mohon maaf mas gandhi belum bisa up ya. ngga enak kalau upnya dikit. 2 Hari ke depan mau ada acara nikahan. kalo sempet nanti aku up. kalo engga mohon maaf ya 😁 thankyou supportnya.

__ADS_1


__ADS_2