
"Hah? Serius, Kak? Kapan?" jerit Ziya karena terkejut.
"Iya, belum lama deh keknya."
Terbesit sedikit rasa bersalah di benaknya. Tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Ada rasa tak tega yang melingkup hatinya.
"Hubungan mereka kayak gimana sih, Kak?" tanya Ziya yang sudah berhasil menenangkan dirinya.
"Gimana apanya nih?" Naya malah balik bertanya.
"Ya, gaya pacarannya, terus sejauh apa gitu."
"Biasa aja sih. Nggak neko-neko. Juna tuh perhatian banget sama Meysa. Meskipun awalnya ditentang sama papanya Juna. Dia juga enggak pernah berpaling sama cewek lain."
Dalam batin Ziya terus menggerutu. 'Apanya yang enggak neko-neko. Aku yang bukan apa-apanya aja disosor. Uuggh nggak perawan nih bibir. Dasar Arjuna sialan! Eh tunggu, papanya enggak setuju?'
__ADS_1
"Kenapa papanya enggak setuju, Kak?" Kekepoannya semakin dalam mengenai hubungan dua insan itu. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk terus menggali informasi sekecil apa pun tentang Arjuna.
"Mereka 'kan beda agama, Dek. Bukan berarti papanya enggak suka sama Meysa. Tapi, papanya hanya takut aja jika suatu hari nanti Juna lebih mengorbankan keyakinannya demi cinta," papar Naya mengganti channel televisi yang sedang ditontonnya.
Naya seakan tersadar sesuatu. Ia menoleh pada Ziya yang menatap layar televisi tapi pikirannya seperti sedang melayang entah ke mana.
"Tunggu! Kamu kenapa tanya-tanya tentang Arjuna? Apa jangan jangan ...."
"Enggak, jangan mikir aneh-aneh deh, Kak," tukas Ziya mengelak.
"Iih ngaku enggak? Kamu suka ya sama Juna? Hayo ngaku," goda Naya sambil menusuk-nusuk perut Ziya dengan telunjuknya. Gadis itu menjengit kegelian.
Sempat terkejut, namun Naya membiarkan Ziya bercerita semuanya tanpa menyela sedikit pun. Ia menjadi pendengar yang baik. Sambil mencerna semua yang masuk indera pendengarannya.
"Menurut Kakak gimana? Aku, terlalu jahat ya, Kak? Dia baru dipecat, dan aku malah menambah beban pikirannya. Kak, aku harus gimana dong?" rengek Ziya menyentuh lengan Naya dengan kedua lengannya.
__ADS_1
"Jujur, Kakak sulit percaya sih awalnya. Dia bisa berpaling dari Meysa. Karena aku tahu banget gimana cintanya dia ama Meysa dulu. Juna bener-bener jaga Meysa kayak jagain gelas yang takut pecah."
Ziya memberengut, hatinya mencelos. Dan beberapa tetes bulir bening pun berjatuhan dari kedua manik matanya. Buru-buru memalingkan muka agar tidak tertangkap oleh Naya.
"Tapi ... waktu itu Meysa memang salah, dia enggak mau jujur tentang penyakitnya. Tiba-tiba dia menghilang pindah ke sini. Juna sampai kayak orang gila waktu itu. Mungkin, Juna terlalu kecewa, sakit hati, hingga bisa menggerogoti rasa cintanya pada Meysa. Dan kamu, berhasil masuk ke hatinya. Mengertilah keadaannya, Juna pernah terpuruk gara-gara Meysa. Apa kamu ingin membuatnya hancur kembali?"
Pertanyaan Naya membuat Ziya membeku. Ia semakin terisak, Naya pun segera memeluknya. "Kakak maklum sih, kamu abege labil. Jadi mudah berspekulasi sendiri. Keras kepala juga nih," sindir Naya menyentil pelipis Ziya.
"Aaaiihh ... Kakak, apa sih?" rengek Ziya manja.
"Jangan sampai kamu menyesal."
"Tapi dia masih prioritasin Kak Mey dari pada aku, Kak," elak Ziya menjauhkan tubuhnya dari dekapan sang kakak.
"Kalau memang prioritasin Meysa, ngapain dia ngejar kamu tadi? Terus kamu bilang dia juga nolongin waktu kamu hampir dilecehkan sama Alvin 'kan?" papar Naya mengingatkan. "Apa yang kamu lihat, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
Lagi-lagi Ziya membeku, membenarkan apa yang dikatakan sang kakak ipar.
Bersambung~