
Di sisi lain, Meysa yang sudah sadarkan diri sejak semalam. Ia meminta sang mama untuk membantunya keluar ruangan. Meski mamanya kekeh tidak mengizinkannya. Namun pada akhirnya, Meysa menang karena terus merengek.
"Yasudah, tapi sebentar saja. Tunggu di sini." Mama Indah keluar ruangan. Beberapa menit kemudian, beliau datang dengan sebuah kursi roda.
Dibantu dengan sang papa, Meysa didudukkan di kursi roda dan didorongnya dengan perlahan. Sebelum keluar, Meysa meminta alat-alat lukisnya terlebih dahulu.
Meysa mengedarkan pandangan, ia melihat sebuah taman yang tak jauh dari ruangannya. "Ma, kita ke sana ya," pintanya menunjuk ke arah taman.
"Iya, Nak," sahut Mama Indah mendorongnya.
Di sana, jemari Meysa mulai sibuk menggambar di buku berukuran A3 itu. Sesekali menyeka air matanya yang terjatuh. Meski bibirnya memaksa untuk tersenyum.
"Mey, apa kamu merindukan Juna?" tanya sang mama melesat jauh ke jantungnya. Hingga membuatnya berdegub tidak karuan.
"Tentu saja, Ma. Aku sangat merindukannya. Namun aku harus melakukannya. Aku yakin, Juna bisa dengan mudah melupakanku jika Juna membenciku. Aku hanya tidak mau Juna merasa sakit saat aku benar-benar pergi untuk selamanya, Ma." Meysa menatap mamanya dengan berkaca-kaca.
Mama Indah tercekat, ia menunduk dalam. Rasa sakit dan tidak sanggup menyusup dalam sanubarinya. Meysa kembali menyibukkan diri, walau tangannya bergetar ketika menyapu buku gambarnya. Ia tidak mau melihat kesedihan sang mama.
...****************...
"Baik, fokuslah pada alat vitalnya." Juna menatap dokter anestesi. "Jika melihat perdarahan segera beritahu saya," ucapnya menoleh pada asistennya.
"Baik, Dok."
Arjuna memejamkan matanya, menghela naps panjang, berdoa dalam hati lalu mengembuskan napasnya dengan kasar. Matanya kembali terbuka, fokus dengan keselamatan nyawa di depannya.
"Pisau bedah!" Tangan Arjuna mengulur, seorang suster memberikannya tepat di telapak tangan Arjuna.
__ADS_1
Dokter itu mulai membuka sayatan untuk memulai operasi. Seorang suster membantu mengusap darah yang mulai mengalir.
"Forcep!"
"Penjepit!"
"Hisap!"
Perintah-perintah Arjuna selama menangani operasi. Suster menyeka bulir keringat Arjuna yang mulai bercucuran.
Hampir dua jam berjalan, perhatian semua orang teralihkan pada denting monitor yang tiba-tiba berbunyi nyaring.
"Tensinya menurun, Dok!" seru dokter anestesi.
Arjuna masih fokus dengan organ yang dipegangnya. Asisten yang membantunya merasa gugup mendengarnya, tanpa sengaja gunting yang dipegangnya merobek sesuatu karena terkejut.
"Fokus! Konsentrasi! Segera jahit!" perintah Arjuna setengah berteriak.
Asisten dokter itu bertambah panik, suster meletakkan alat untuk menjahitnya. Namun tangannya gemetar hingga terjatuh.
"Alat vitalnya semakin menurun!" seru dokter anestesi lagi.
Arjuna melayangkan tatapan tajam pada asistennya yang berjenis kelamin laki-laki itu.
"Ma ... maaf, Dok," seru asisten tersebut dengan tubuh masih bergetar hebat.
"Tidak ada waktu lagi, Dokter yang harus menjahitnya," seru seorang suster memperingatkan.
__ADS_1
"Siapkan kantung darah!" pekik Arjuna.
Reza mengeratkan gerahamnya. Satu tangannya mengepal kuat. Jantungnya pun berdegub hebat melihat kecerobohan salah satu dokternya. Matanya sudah memerah.
Jemari Arjuna meraba nadi yang robek tadi. Dengan feelingnya, ia menekan sumber perdarahan yang terus mengalir dengan deras.
"Penyedot!" seru Arjuna.
Segera suster menyedot lautan darah itu menggunakan alat. Kantung darah segera dialirkan pada pasien.
Lalu Arjuna segera menjahit luka yang telah robek tadi. Setelahnya ia kembali fokus melanjutkan operasi. Tak henti-hentinya suster membantu menyeka keringat Arjuna di dahinya.
"Bagaimana?" Arjuna menaikkan dagu ditujukan pada Dokter anestesi.
"Normal, Dok," sambungnya menganggukkan kepala.
Akhirnya Arjuna bisa melanjutkan operasinya dengan tenang. Tanpa mempedulikan asisten maupun yang lainnya. Ia terus fokus dan berkonsentrasi mengeluarkan semua kemampuannya. Sumpahnya hanya satu, "Tidak boleh ada yang mati di meja operasiku. Sekalipun dia musuh terbesarku," serunya dalam hati.
Hampir lima jam Arjuna berkutat dengan alat-alat bedahnya. Sampai di fase terakhir tubuhnya sudah melemah.
"Biar saya yang melanjutkan, Dok," pinta asistennya tadi.
"Bisa dipercaya?" ujarnya menatap tajam.
Asisten tersebut mengangguk mantap lalu mengambil alih menjahit pasien. Arjuna lalu memundurkan langkah. Ia keluar dari ruang operasi. Melepas masker dan jubah operasinya. Tubuhnya terduduk lemas di tembok, air matanya luruh seketika.
"Ba ... bagaimana keadaan ibu? A ... apa yang terjadi?" Ziya menghampiri Arjuna, turut duduk di lantai. Tangannya memberanikan diri menyentuh lengan Arjuna.
__ADS_1
Bersambung~