Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Mencarimu


__ADS_3

"Ziya, yang sopan kamu sama tamu!" tegur Rio pada adiknya dengan tatapan tak suka. Ia takut akan menimbulkan ketidaknyamanan pada gadis di sebelahnya.


"Iih, aku 'kan cuma nanya. Kenalin, Kak, aku Ziya. Adeknya Rio yang paling imut manis seantero desa ini," cetus Ziya mengulurkan tangannya.


Belum sampai dibalas, Rio segera menepis tangan Ziya. Pria itu menatapnya tajam, membuat Ziya bergidik dan mengapit kedua bibirnya. Menandakan dia akan berhenti berbicara.


"Ziya, kamu mandi dulu, Nak. Keburu habis waktu maghribnya." Ibu Resi memperingatkan dengan lembut.


Akhirnya Ziya beranjak dari duduknya. Bersungut kesal pada sang kakak yang suka bersikap semena-mena dan pemaksa. Saat melangkah melalui wanita yang dianggap asing itu, tiba-tiba lengannya disergap.


"Aku Meysa," tuturnya lembut tersenyum manis.


"Ah, cantik sekali. Senang bisa kenal sama Kakak yang lembut dan baik hati," celetuk Ziya tertawa kecil.


"Ehm!" Deheman Rio membuyarkan tatapan kedua wanita itu.


Seketika Ziya lari terbirit-birit, takut jika kakaknya murka. Meysa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf ya, Mey. Adikku terlalu banyak bicara," ujar Rio merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Nggak apa, dia lucu," sahut Meysa.


Tak lama, Ziya kembali duduk di meja makan. Ikut bergabung dengan keluarganya. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya mandi ala bebek.


"Pake sabun nggak kamu mandinya? Cepet amat!" cibir Rio memicingkan mata.


"Pake lah. Eh ya, Bu, Kak. Nanti diajak temen-temen makan di luar boleh nggak?" ujar Ziya memohon.


Ibu Resi mengambilkan putri bawelnya itu nasi beserta lauk pauknya. Lalu meletakkannya di hadapan Ziya.


"Makasih, ibuku Sayang." Ziya memeluk sang ibu.


"Heleh, modus!" sindir Rio.


Meysa hanya terkekeh melihat dua saudara itu saling sindir. Meski begitu terpancar kasih sayang antar keduanya.


"Sudah, sudah ayo makan. Meysa, jangan dengerin mereka, Nak. Mereka emang gitu. Suka kaya kucing sama tikus kalau ketemu," celetuk Ibu Resi setelah meneguk air putih.


"Iya, Bu," sahut Meysa tersenyum.

__ADS_1


Sesudah santap malam, Meysa berpamitan pulang diantar oleh Rio. Sedang Ziya bersama ibunya masih duduk di depan TV sambil memakan keripik kentang favoritnya.


"Bu, siapa Meysa itu? Di mana rumahnya? Kenapa bisa ada di sini? Apa dia calon kakak iparku?" tanya Ziya beruntun bersandar manja pada bahu ibunya.


...****************...


Di sisi lain, Arjuna sedang mengepak baju-bajunya ke dalam tas ransel miliknya. Emosi yang masih bergelayut, membakar hatinya membulatkan tekad untuk mencari Meysa hari itu juga. Tak sabar menunggu hari esok.


"Mas Juna mau ke mana?" tanya Bibi yang menyiapkan makan malam.


"Pergi. Bibi, tolong sampein ke Papa kalau sudah pulang. Aku ke luar kota beberapa hari ke depan. Mau ngabarin sekarang takut ganggu," jelas Arjuna. "Titip rumah ya, Bi," imbuhnya lagi melangkah panjang keluar rumah.


"Iya, Mas. Eh tapi luar kotanya di mana ya, Mas?" tanya Bibi setengah berlari mengejarnya.


"Mau ke Yogja, Bi," ujar Arjuna singkat.


Tanpa memedulikan pertanyaan ARTnya lagi, Arjuna dengan cepat menuju garasi. Merapatkan jaketnya, memakai atribut jalan raya, seperti helm, masker juga sarung tangan. Ia lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Aku harus memastikannya sendiri. Aku yakin kamu nggak akan sejahat itu, Mey," gumam Arjuna.

__ADS_1


"Tunggu aku Meysa Adriana," imbuhnya lagi menambah laju kecepatan motornya.


Bersambung~


__ADS_2