Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Lupakan


__ADS_3

“My first kiss!! OMG!” jerit Ziya dalam hati. Namun tak berani diucapkan. Derap langkah petugas kian mendekat.


“Apa Anda baik-baik saja? Kenapa jeda lama sekali keluarnya dengan rombongan?” tanya salah satu petugas mengarahkan cahaya senter tepat di muka Ziya.


“Maaf, Pak. Kami terlalu menikmati suasana, hehe. Mari, Pak! Permisi,” pamit Ziya bergegas menarik lengan Juna mengarah sesuai petunjuk exit.


Mereka melangkah cepat, Juna yang masih sedikit sempoyongan sesekali mencari pegangan. Untung saja perjalanan kali ini lancar tanpa hambatan apa pun. Kalau enggak, Arjuna bisa jadi pingsan yang kedua kalinya.


“Tunggu sini, aku cari minum,” titah Ziya ketika sudah melampaui pintu keluar. Ziya mendudukkan Juna di kursi panjang tak jauh dari mereka berdiri.


Gadis itu pun segera berlari mencari penjual teh hangat dan juga air mineral. Lalu kembali secepat mungkin pada Arjuna. “Minum dulu, Kak.” Ziya menyerahkan teh hangat yang dibungkus dengan plastic bening, disertai


sedotan panjang berwarna merah.


Tanpa banyak tanya, Juna segera menyedot minumannya sampai tak tersisa, lalu melemparkan bungkus plastik di tempat sampah yang disediakan. Tampak Juna masih sock. Ziya mengambil beberapa lembar tissue untuk menyeka keringat di dahi Arjuna.


“Lain kali, kalau Kakak enggak berani jangan dipaksa,” nasehat Ziya masih sibuk menyeka keringat di wajah Juna.


Kedua manik Arjuna memperhatikan wajah manis Ziya dari jarak yang amat dekat. Kedipan lembut matanya, masih tak mengalihkan pandangan dari wajah itu.


“Zi?” ucap Arjuna pelan. Mimik mukanya tidak terlalu pucat seperti awal-awal keluar dari ruangan tadi. Sudah lebih berbinar.


“Hemm?” gumam Ziya melemparkan tissue bekas ke tempat sampah. Ia lalu mendaratkan tubuhnya di samping Arjuna.


“Tadi kenapa ya? Kok aku enggak inget apa-apa. Kenapa kepalaku benjol, Zi?” keluh Arjuna mengusap belakang kepalanya, yang memang terdapat benjolan cukup besar.


Ziya memeriksanya, memastikan sendiri lukanya tidak parah. Tangannya menggerayang di antara celah rambut Arjuna di belakang kepalanya. “Hah?” Mulut Ziya ternganga, tidak menyangka kepalanya kepentok sampai benjol lumayan


besar.


“Kamu jatuh, Kak. Enggak sadar ya? Syukurlah kalau enggak sadar,” ucap Ziya mendesah lega, karena Arjuna tidak sadar dengan tragedi


ciuman itu. Ah napas buatan tepatnya, eh tapi kan sama-sama nempelin bibir. Lupakan, Zi!


“Kok syukur?” Juna menatapnya penuh curiga.

__ADS_1


“Eh, emmm … pulang yuk, Kak. Udah malem nih,” ajak Ziya mengalihkan pembicaraan. Ia segera berdiri dan berjalan menuju area parkir.  Tanpa mengindahkan panggilan Arjuna yang


masih penasaran.


Keadaan rumah sepi, tak ada sanak saudara yang menginap seperti kemarin. Karena saat ini mereka semua menginap di hotel tempat resepsi Reza. Sedangkan Rio masih belum kembali mengantarkan Meysa ke rumah sakit.


Untungnya masih ada dokter jaga yang menangani. Tak lupa Rio segera menghubungi orang tua Meysa melalui ponsel gadis itu. Keluarga Meysa pun panik, dan segera bergegas menuju rumah sakit.


Pandangan Rio kosong, sebelum pingsan Meysa terus merengek memohon agar tidak menceritakan apa pun tentang keadaannya pada Arjuna.


“Rio!” panggil Mama Meysa berjalan cepat menghampirinya. Sang empunya nama menoleh ke sumber suara.


“Bu,” ucap Rio menyalami keluarga Meysa yang datang. Ada papa, mama, juga eyang Meysa. “Meysa tadi pingsan di rumah Rio, terus langsung saya bawa ke sini. Masih ditangani dokter,” jelas Rio sebelum ditanya. Ia mengerti kekhawatiran keluarga Meysa.


Mama Indah mencoba menguatkan hatinya. Ia terus berpikir positif jika putrinya baik-baik saja. Rio tidak menjelaskan keadaan Meysa, takut menambah rasa khawatir mereka.


Tak berapa lama, dokter keluar dari ruangan. Ia melepas masker yang dikenakannya. Pandangannya nampak lesu, ditatapnya satu persatu keluarga Meysa.


“Dokter, bagaimana?” Papa Meysa akhirnya bersuara, memecah kesunyian dan ketegangan di antara mereka.


“Mohon maaf, putri ibu dan bapak ….” Dokter menjeda ucapannya, mengembuskan napasnya kasar lalu melanjutkannya, “Mengalami koma.”


tunggu.


“Kemoterapi yang sudah tidak dilanjutkan, mengakibatkan pertumbuhan sel kanker semakin meningkat. Kami akan melakukan CT-Scan, takut terjadi pendarahan pada organ lainnya,” ucap sang dokter yang memang pernah menangani Meysa bersama Reza.


Tidak ada yang bersuara. Mereka menunduk semakin dalam. Isak tangis saling bersahutan, Rio juga sama terpukul mendengarnya. Meysa sama sekali tidak mau menjalani pengobatan apa pun. Segala bujuk rayu tak dapat menggoyahkan penolakannya.


Keesokan paginya, Rio terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit. Ia berpamitan pulang terlebih dahulu karena harus pergi


bekerja. Sebelumnya sudah mengirim pesan pada Reza, memberitahukan keadaan


Meysa. Yah, pengantin baru terganggu.


Reza pun bergegas ke rumah sakit meninggalkan sanak saudaranya termasuk sang ibu di hotel. Namun ia mengajak Naya yang notabene juga seorang dokter.

__ADS_1


“Sayang, maaf ya. Aku ada panggilan darurat. Nanti tungguin di ruangan aku, bentar aja paling kok,” ucap Reza mengusap puncak kepala istrinya merasa bersalah.


“Iya, enggak apa-apa, aku ngerti kok,” jawab Naya dengan seulas senyum.


...****************...


Ziya sudah terbangun pagi-pagi sekali. Ia langsung membantu bibi yang sedang menyiapkan sarapan. Setelahnya segera membangunkan Arjuna


mengajaknya sarapan.


“Zi, suntuk nih. Mau nemenin jalan enggak? Aku ‘kan enggak hapal daerah sini,” ajak Arjuna di sela makannya.


“Emmm … mau ke mana?” tanya Ziya. Sebenarnya ia masih malu mengingat kejadian semalam, jantungnya pun berdegub hebat kala mengingatnya. Tapi Ziya tidak mau mengungkitnya. Cukup ia pendam sendiri, apalagi Arjuna tidak ingat. Semakin membuatnya ingin menyimpan rapat-rapat.


Arjuna berpikir sejenak, memikirkan tujuan yang ingin ia kunjungi. Sesekali sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Kamu ada ide enggak? Tumben banget sih kamu diem mulu dari tadi. Biasanya nyerocos terus enggak ada jeda,” tanya Arjuna mengalihkan pandangan pada mata Ziya.


Gelagapan, ia ditatap Arjuna seperti itu. “Emm … enggak apa-apa, Kak. Gimana kalau kita mancing di danau?” usul Ziya menyunggingkan


senyum.


“Boleh tuh. Sekalian bawa perlengkapan bakar-bakar, Zi. Seru pasti,” sahut Arjuna bersemangat.


“Oke deh, aku siapin dulu, Kakak mandi dulu sana!” perintah Ziya segera menyiapkan perlengkapan bakarannya. Dimasukkannya ke dalam kantong plastik besar lalu dimasukkan ke tas ransel miliknya. Dua buah pancing milik kedua kakaknya pun sudah di tangan.


Arjuna yang sudah siap dengan kaos putih polos, senada dengan Ziya pagi itu tersenyum cerah. Lalu membawakan pancing dan ransel yang digendong Ziya. “Siniin, Zi.” Juna menarik tas tersebut namun ditahan oleh Ziya


hingga terjadi aksi tarik menarik.


“Enggak apa-apa, aku aja yang bawa ih,” seru Ziya.


“Kamu bawa pancingnya aja. Berat ini, aku aja yang gendong,” ucap Juna lembut. Alhasil, Ziya mengalah menyerahkannya pada Arjuna. “Nah, gitu dong,” sambungnya mengacak rambut Ziya.


Keduanya kini bersiap naik motor milik Arjuna, sudah siap distarter hendak jalan, terhalang oleh mobil Rio. Tatapan nyalang kini

__ADS_1


dilayangkan Arjuna pada pria yang duduk di balik kemudi.


Bersambung~


__ADS_2