
Derap langkah penuh semangat catuda squad turut menggema di dalam ballroom yang telah didekorasi oleh WO ternama. Sesekali saling meledek karena sifat kampungan mereka, menghadiri pesta yang teramat megah itu.
Dokter sekaligus pemilik rumah sakit swasta tersebut, memang menyelenggarakan acara yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya bersama sang istri. Binar kebahagiaan kian terpancar dari rona wajah keduanya. Mereka telah duduk di pelaminan, menyaksikan acara demi acara yang disusun sedemikian rupa.
Ziya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, ia menggelengkan kepala melihat para teman-temannya sudah mengantri di beberapa stand makanan yang bisa membuat air liur mereka hampir menetes.
"Satu, dua, tiga, em ... pat. Loh Kak Juna mana?" gumam Ziya menghitung rombongan Catuda Squad.
Pandangannya pun mengedar, menilik satu per satu tamu yang mulai berjubal masuk. Semua rekan kakak dan kakak iparnya lumayan banyak.
"Apa enggak berani masuk? Tadi dia bilang malu. Atau nyasar? Atau ...," pikir Ziya melipat satu lengannya, sedang telunjuk lengan lainnya diletakkan di dagu sambil berpikir berbagai macam atau lainnya.
Ziya memutuskan kembali keluar, takut jika apa yang dipikirkannya benar adanya. Langkahnya pelan sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Sampailah ia kembali di pelataran hotel. Ia tersenyum hendak berteriak sambil melambaikan tangan, namun diurungkan karena ia menangkap sesuatu yang lain di matanya.
Bulir bening menetes dari kedua sudut mata Arjuna. Antara bahagia, haru, terkejut membaur menjadi satu. Ia maju selangkah lebih dekat dengan Meysa. Kedua tangan yang gemetar meraih pundak Meysa, menyentuh lalu meremasnya perlahan tanpa menyakiti Meysa.
"Mey ... sayang!" Arjuna menarik Meysa ke pelukannya mendekapnya dengan erat.
"**D**EG!"
Ziya terhuyung mencari pegangan. Langkahnya terpundur melihat Arjuna memeluk wanita yang belum ia ketahui siapa karena posisi yang membelakanginya. Dadanya seperti dihimpit beban yang sangat berat.
Apa ... apa dia sudah menemukan kekasihnya? Kenapa sesakit ini rasanya.
Ziya menahan air matanya agar tidak keluar, namun justru yang terjadi sebaliknya. Begitu deras air mata yang mengalir di pipinya.
Begitupun dengan Rio yang tercengang, tidak mengerti dengan apa yang ada di hadapannya. Ia hanya terdiam tanpa bersuara.
Meysa memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan selama ini. Merasakan kembali kehangatan dekapan sang arjuna. Ingin rasanya membalas pelukan tersebut, namun tiba-tiba Meysa membuka matanya.
__ADS_1
Kedua tangannya mendorong dada Arjuna dengan kuat. Matanya memerah, namun sama sekali tak menyunggingkan senyum sedikit pun.
"Meysa, aku sangat merindukanmu. Tahukah kamu? Aku hampir gila mencarimu," ucap Arjuna menggebu mengguncang bahu Meysa hendak menarik lagi dalam pelukannya. Namun ditepis oleh Meysa.
"Maafin aku, Juna. Mulai sekarang lupakan aku, kita udah enggak ada hubungan apa-apa lagi," ujar Meysa mengalihkan pandangan hendak berlalu meninggalkan Juna.
Secepat kilat Juna menyambar lengan Meysa, gerahamnya sudah mengetat dengan gigi bergemelatuk. Namun ia mencoba menahan amarah.
"Apa maksud kamu, Sayang? Aku bahkan sudah membeli cincin untuk melamarmu," tanya Juna dengan suara memelas.
"Aku ... aku udah enggak cinta sama kamu. Lalu buat apa kita terus bertahan? Pergilah, lupakan aku. Carilah wanita yang lebih baik dari aku." Sedikit bergetar suara Meysa saat menyampaikannya.
Arjuna tertawa terbahak-bahak, "Ck! Lelucon macam apa ini?"
Meysa berbalik badan menatap Arjuna dengan tajam. "Aku enggak bercanda! Mulai detik ini juga, aku mau kita putus. Jangan pernah cari aku lagi, jangan pernah kejar aku lagi dan berhenti mencintaiku. Karena percuma! Aku tidak akan membalas cintamu itu. Maaf, aku harus masuk," ucap Meysa dengan tegas.
"Apa salahku, Mey? Bicaralah, apa kekuranganku? Aku akan berusaha memperbaikinya. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Mey. Semudah itu kamu mengatakan hilang rasa cintamu?" desis Arjuna tertawa sumbang dengan setitik air bening yang menetes dari sudut matanya.
Ia menggelengkan kepalanya, "Kamu pikir aku percaya?!" sentak Arjuna tepat di depan Meysa menaikkan dagu Meysa. Membuatnya berdegub hebat, dan memejamkan matanya diiringi air mata yang berjatuhan.
"Kenapa tidak? Aku sudah mempunyai penggantimu!" tantang Meysa membuka kelopak matanya. Tatapannya beralih pada Rio yang sedari tadi terbengong menjadi penonton saja. Ia masih shock dengan kenyataan di depannya.
Kedua mata Meysa menyiratkan permohonan. Rio lalu menarik lengan Meysa, mendekatkan tubuh mereka. "Sorry, Bro," ucapnya menepuk bahu Arjuna dengan satu tangan.
Kedua tangan Arjuna terkepal kuat, ia tak kuasa menahan amarahnya. Bogem mentah kini dilayangkan pada Rio, hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Aaargh!" teriak Meysa ketakutan berusaha membantu Rio. "Kamu enggak apa-apa?" tanyanya pelan menyentuh lebam di pipi Rio yang semakin mematik amarah Arjuna.
"Brengsek! Aku udah anggep kamu saudara! Tapi ... tapi kamu ...." Arjuna malas berkata-kata lagi, ia mencengkeram kerah Rio dan membabi buta memukuli wajahnya.
__ADS_1
Rio tak mau diam saja, ia pun menendang Arjuna hingga terjengkang ke belakang. Lalu membalas pukulan Arjuna. Keduanya terlibat baku hantam. Meysa panik, ia bingung harus berbuat apa. Sedangkan Ziya segera berlari mendekati zona berbahaya, mencoba memisahkan keduanya.
"Kakak! Stop! Apa yang kalian lakukan?!" pekik Ziya namun tak dihiraukan keduanya.
Saling pukul, saling serang, saling membalas dan saling mencengkeram kerah lawan masing-masing hingga baju mereka berantakan.
Mereka kini sudah kembali pada posisi berdiri, Ziya memeluk punggung Arjuna, menariknya sekuat tenaga, sedangkan Meysa menghalangi Rio dari depan. Ia menangis begitu deras, memohon pada Rio agar menghentikannya.
"Cukup, Kak!" pekik Ziya beralih ke hadapan Arjuna. Ia menatap keduanya bergantian dengan napas menderu. Tangannya menahan dada Arjuna.
"Apa kalian mau membuat malu Kak Reza? Ini acara besarnya? Tapi kalian malah membuat keributan bak anak TK?" imbuhnya lagi berteriak.
Arjuna dan Rio mengatur napasnya. Bahu mereka naik turun mengikuti helaan napas kasarnya.
"Jangan memaksa perasaan seseorang. Jika kamu mencintainya, lepaskan untuk kebahagiaannya!" seru Rio menyindir Arjuna.
"Tahu apa kamu tentang perasaan Meysa? Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun! Aku tentu tahu bagaimana Meysa!" sanggah Arjuna tidak terima.
"Cukup! Biarkan Kak Meysa menentukan pilihannya!" Ziya mengangkat telunjuknya menatap kedua pria itu dengan tajam. "Katakan, Kak!" sambung Ziya mengangguk pada Meysa.
Mata sendunya menatap manik Arjuna, ada rasa sakit menelusup hatinya. Namun ia tetap kekeuh pada keputusannya. "Maaf, Juna. Kita harus berpisah." Meysa melingkarkan lengannya pada Rio.
Arjuna kembali mengepalkan tangannya. Menghambur pada pasangan di depannya, mendorong Rio penuh emosi. Ia kembali hendak menghajar Rio yang sudah terjatuh di lantai.
"Kakak!" teriak Ziya menahan lengan Arjuna. Namun, Arjuna menghempaskan dengan kuat tubuh mungil Ziya. Tangannya tanpa sengaja mengenai wajah Ziya hingga darah mengalir dari sudut bibir gadis itu.
"Ziya!" pekik Rio dan Meysa bersamaan.
Bersambung~
__ADS_1