
"Pada ributin apa sih?" tanya Ziya memutar topinya ke belakang. Gadis itu mengenakan inner kaos pendek berlapis hem panjang kedodoran dengan celana jeans sobek-sobek.
"Kamu!" seru mereka semua bersamaan.
Ziya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dua telunjuknya mengarah pada wajahnya. "Aku kenapa?" gumamnya.
Pertemanan yang terjalin sejak mereka duduk di bangku SMP, hingga lulus SMA, sampai kini kompak bekerja sebagai pengemudi ojol, membuat mereka semua begitu akrab. Berkumpul dengan para lelaki sama sekali tidak membuat Ziya khawatir.
Mereka tulus dan baik. Jika ada yang mendekati Ziya atau ada yang mengerjai gadis itu, para sahabatnya akan menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Namun karenanya, Ziya tidak pernah bisa berpenampilan feminim.
"Nggak apa, lupain aja. Ntar malem nongki-nongki yuk. Ada kafe baru buka loh di persimpangan jalan sana," sanggah Farid yang tak mau semakin tersudutkan.
"Hemm ... kakakku biasanya nggak kasih izin. Ibu juga," desah Ziya mengerucutkan bibir.
"Kan ada kita Zii? Kita yang bakal minta izin. Ayolah," rayu Farid lagi.
"Kita? Lo aja kali, gue enggak! Tau sendiri Abang Reza galaknya minta ampun." Wahyu bergidik mengingat kemarahan Reza, kakak Ziya. Sewaktu mengantar pulang gadis itu larut malam saat acara kelulusan.
Ziya menyunggingkan tawa kecil. "Cemen! Kak Reza tu baik tauk," belanya.
"Baek apanya, gue pernah kena bogem karena kemaleman nganter lo." Sofyan menimpali.
__ADS_1
"Yee ... itumah karena si abang sayang sama adeknya. Tenang aja, sekarang udah jinak dia. Kayaknya sih karena mau nikah," cetus Ziya memainkan ponselnya.
"Eitt! Cabut dulu ya. Ada penumpang nih," pamit Ziya mengangkat tangannya lalu melambai.
Segera Ziya mengenakan jaket dan helmnya menjemput penumpangnya.
*****
Dika terbengong melihat Arjuna melompat kegirangan. Seperti anak kecil yang diiming-imingi es krim. Ia turut beranjak dari duduknya.
"Jun, mandi dulu wei! Gila mau keluar dengan wajah kusut awut-awutan gitu," cibir Dika.
"Wait, 5 menit." Arjuna segera menyimpan kotak cincinnya di laci nakas. Lalu bergegas mandi.
"Cih! 5 menit? Mandi apa cuci muka?" gumam Dika mendaratkan tubuhnya di sofa.
Benar saja 5 menit kemudian, Arjuna sudah rapi dan terlihat lebih segar. Dika mengangkat sebelah alisnya.
"Lu mandi, Jun?" Dika memastikan.
"Iyalah," sahutnya sembari merapikan rambutnya lalu menyemprotkan parfum kesukaan Meysa.
__ADS_1
"Serah lu lah. Ayo," ajak Dika melenggang pergi dari kamar sahabatnya itu.
Mereka lalu melaju dengan mobil Dika. "Dik, nanti kalau aku dapetin alamatnya dan benar di Yogya, aku mau cuti sebulan," ucap Arjuna.
"Cuti sebulan Palamu! Lu pikir rumah sakit milik Mbahmu apa?" geram Dika dengan sejuta kekesalannya menempeleng kepala Arjuna. Sedang satu tangannya masih fokus menyetir.
'Cinta emang bikin orang gila dan nggak bisa berpikir logis,' gerutu Dika dalam hati.
"Yaelah, aku kan mau nyari Meysa, terus berdua-duaan dulu melepas rindu. Makanya jangan jadi perjaka tua. Biar tahu rasanya jatuh cinta," ucap Arjuna melemparkan tatapan remeh.
"Berisik! Gue nggak mau jatuh cinta. Cinta cuma bisa bikin orang jadi gila. Kayak lu gini," elak Dika.
"Awas aja, nelen ludah yang udah dikeluarin," seringai Arjuna.
Beberapa menit kemudian, mobil telah sampai di pelataran rumah sakit tempat mereka mengabdi. Arjuna segera keluar dari mobil dan berlari menuju HRD.
Dika menggelengkan kepalanya, "Cih! Emang gila!" cibirnya lalu keluar mengikuti Arjuna.
Setelah sampai, Arjuna segera meminta data-data Meysa termasuk surat resign wanita itu. Telunjuknya terus bergeser membantu matanya untuk membaca lebih cepat. Hingga jarinya terhenti, kedua matanya membelalak.
Bersambung~
__ADS_1