
"Halo," sapa Ziya dengan suara seraknya masih sedikit terisak.
"Eh, nangis, Zi? Kenapa kamu?" tanya perempuan yang tak lain adalah Lily di seberang telepon.
"Nggak apa-apa, lagi nangisin jodoh yang dipinjem orang," celetuk Ziya asal.
"Hah? Ahahaha!" Terdengar tawa menggelegar membuat Ziya mencebik kesal. Lily tertawa terbahak-bahak bahkan sampai menyita perhatian banyak orang di sana. Termasuk catuda squad yang berjalan di belakang gadis itu. Mereka saling pandang dan mengendikkan bahu pertanda tidak mengerti apa yang terjadi.
Urusan Alvin and the gengs sudah beres. Karena mereka memang buronan polisi selama ini. Sudah banyak tindakan kriminal yang mereka lakukan. Sehingga tak butuh waktu lama untuk memprosesnya.
"Heh, kesambet apa ya?" Edi bergidik meraba tengkuknya.
"Entahlah." Keempat kawannya menjawab bersamaan.
"Ada-ada aja. Siapa emang jodohmu? Ketemu aja belom," sindir Lily masih dengan tawanya.
"Emmm... Ada deh. Oh iya, Lily ceritain dong tadi kejadiannya gimana? Kok kalian bisa nemuin aku. Terus tiba-tiba aku di kamar kamu. Dan lagi kamu tahu motorku di mana nggak?" Ziya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memberondong berbagai pertanyaan.
Lily kembali berjalan santai menuju mobilnya. Sedangkan Catuda Squad masih mengekori Lily tanpa gadis itu sadari. Hingga ia duduk di kursi kemudi kelima lelaki yang bertubuh kurus itu menahan pintu mobilnya.
"Eh! Kenapa kalian? Aku mau pulang," ucap Lily pada pandawa itu.
"Ziya gimana?" tanya mereka kompak.
__ADS_1
"Haiss! wait aku ubah jadi video call dulu," ucapnya mengubah mode panggilan.
Tak berapa lama tampak wajah Ziya memenuhi layar ponsel Lily. Dan kelima sahabatnya itu berebut ingin terpampang pula di depan layar. Bahkan Lily sampai harus mencondongkan tubuhnya sedikit menjauh.
"Ziya kamu di mana?"
"Di rumah ya?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Enggak ada yang luka 'kan!, Zi?"
Sederet pertanyaan bertubi-tubi dari lima sekawannya membuat Ziya terkekeh.
"Iya iya aku baik kok. Ini udah di rumah. Makasih ya, besok aku traktir mie ayam Pak Tarmin deh," ucap Ziya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Yeeey makan gratis!" seru mereka kompak.
"Eh, tunggu! Mie ayam doang, Zi?" Sofyan yang tersadar segera melayangkan protes. Diikuti teman-teman yang lain.
"Ahahaa... Besok sore ya aku traktir sepuas kalian di foodcourt deket alun-alun. Pilih aja semua yang kalian mau. Udah pulang sana. Aku mau bocan dulu. Hati-hati ya guys!" Ziya memasang senyum terbaiknya lalu mematikan sambungan telepon. Seketika ia lupa akan kegalauannya.
__ADS_1
"Ckckck, makin sayang deh ama Ziya. Yok pulang. Kamu berani sendiri 'kan, Ly? Perlu kawalan nggak nih?" gumam Wahyu dilanjutkan bertanya pada Lily.
"Ogah ah entar suruh traktir, haha."
Lily memasang sabuk pengamannya lalu menyalakan mesin mobil, bersiap melajukan kendaraannya.
"Yeee... tau aja ni bocah," seru Sofyan.
"Taulah. Kalian 'kan muka-muka gratisan. Hahaa," seru Lily lagi. "Udah ya, aku duluan masih ada urusan. Thanks semuanya." Lily melambaikan tangan lalu mulai menginjak pedal gas. Meninggalkan kawan-kawan yang baru dikenalnya.
Menurutnya kelima sahabat Ziya itu lucu. Polos dan blak-blakan. Humble juga, jadi ia pun mudah berbaur dengan mereka.
Sementara itu Ziya menepuk jidatnya sambil merebahkan tubuh. "Duh gimana sih? Kan mau nanyain kronologi kejadian tadi. Kok bisa ada Kak Juna sama Lily. Iiss gara-gara mie ayam nih jadi lupa 'kan," gerutu Ziya kembali mengotak-atik ponselnya sambil tiduran.
Saat hendak mendial kembali nomor Lily, ponselnya berdering. Hampir saja dilempar karena terkejut. Apalagi di layar tampak nama Arjuna sedang memanggilnya.
"Huuuh, jantung. Masih aman 'kan yak?" desah Ziya beranjak duduk sambil menekan dadanyayang kembali berdegub hebat.
"Angkat nggak ya? Duh kalau ada apa-apa sama ni jantung harus minta pertanggung jawaban sama dia nih, bikin degubannya nggak pernah normal," omel Ziya pada HPnya.
Bersambung~
__ADS_1
Makasih ya semuanya😚