
Maafkan daku yang teramat menggantungkan hubungan ini🙏🏻🤧 eh maksudnya kisah ini😅 thankyou banget yg slalu support dan nungguin yah😘 peluk tiom dari Jepara🤗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Weii, kalem dong!" Ziya menegakkan duduknya yang sempat terpundur karena terkejut dengan teriakan teman-temannya. "Dan lu, Edi. Kalau mau nginjek kaki tuh bilang-bilang dulu kek, biar persiapan, sakit tau!" gerutu Ziya mengerucutkan bibirnya sembari mengusap air matanya.
Sontak, semua pandangan tertuju pada kaki Ziya. Edi yang tersadar cepat-cepat mengangkat kakinya yang bertumpu pad kaki Ziya. "Yah, maap Zi. Nggak sengaja," sesal Edi berjongkok hendak memeriksa kaki Ziya.
Segera gadis itu menarik kakinya dengan cepat. "Isshh mau ngapain? Berdiri lagi!" perintah Ziya melototkan matanya.
"Huuuuh! Dasar cungkring!" teriak teman-temannya yang lain sambil memukul berbagai anggota tubuh Edi yang bisa dijangkau oleh mereka. Ada yang menjitak, menonjok, menempeleng. Edi hanya pasrah sambil mengaduh dan meringis kesakitan.
"Ada yang mau macem-macem sama kamu lagi? Maksudnya apa? Siapa yang pernah ganggu kamu?" cecar Farid yang dari tadi fokus menunggu jawaban tersebut.
Farid memalingkan pandangannya pada Wahyu. Pria itu gelagapan, takut Ziya marah padanya karena keceplosan. Tatapan matanya seolah memohon ampun pada Ziya. Sudah tertangkap basah, berenang sekalian, pikir Wahyu.
Suara deheman Wahyu menyadarkan keempat pria itu. Mereka menajamkan mata serta telinga untuk mendengarkan penjelasan dari pria itu.
Dan, akhirnya Wahyu pun menceritakan peristiwa naas yang hampir mencelakai Ziya. Sontak mereka menggeram marah, gigi mereka sampai bergemelatuk tidak bisa terima dengan apa yang dialami Ziya.
"Lu kenapa diem aja? Hah?!" bentak Farid mendorong dada Wahyu dengan kuat. Matanya menyalang merah menahan amarah membayangkan hal buruk itu tejadi pada Ziya, sendirian.
Tak hanya Farid, ketika teman lainnya juga sama menatap nyalang pada Wahyu. Seperti tikus yang kejebur got, begitulah Wahyu saat ini. Ia akui, memang salah tak menceritakan pada teman-temannya waktu itu.
"Sudah, sudah. Wahyu nggak salah. Aku yang memintanya, biar kalian nggak terlalu khawatir. Please jangan marah sama Wahyu. Kalau mau marah, marahin aku aja," lerai Ziya beranjak dan berdiri di depan Wahyu. Menatap teman-temannya dengan mata berkaca-kaca.
Mereka semua mengembuskan napas berat. Kepalanya menunduk serentak, menahan emosi yang menyeruak dalam diri mereka masing-masing. Mana bisa mereka marah dengan Ziya? Gadis yang selalu mereka jaga sejak masih sekolah dasar.
"Lu anggep kita apa, Zi?" Sofyan yang sedari tadi diam melempar pertanyaan tajam pada Ziya.
"Sekali lagi maaf, aku nggak bermksud nyembunyiin apapun dari kalian. Aku pikir masalahnya sudah clear sekarang. Nggak ada yang perlu kalian khawatirkan lagi. Makasih ya, kalian selalu ada buat aku." Ziya berucap dengan suara bergetar. Tangannya sibuk menyeka air matanya yang menerobos keluar dari dua bola matanya. Ia terharu dengan perhatian teman-temannya.
__ADS_1
Namun, satu hal yang ia sembunyikan. Tentang Arjuna. Tak ada niat sedikit pun untuk menceritakan pria itu pada teman-temannya. Membayangkan saja, membuatnya bergidik ngeri. Takut hal buruk akan menimpa pria tersebut. Biarlah ia simpan dalam lubuk hatinya terdalam, sendirian.
Mereka saling berpelukan, melingkari tubuh Ziya yang tenggelam di antara tautan lengan para sahabatnya itu.
"Kalau ada apa-apa lagi, lo harus cerita, Zi. Jangan diem aja. Kita temen lo, sahabat sekaligus saudara lo. Jangan anggap kita orang lain," terang Edi diangguki yang lainnya.
Senyum mulai tercetak di bibir Ziya, "Makasih ya," ucapnya menatap temannya satu persatu.
Kini saatnya ia menata hidupnya. Membuka lembaran baru, fokus dengan pendidikan dan juga cita-citanya. Satu hal yang pasti, trauma tengah menggerogoti hatinya. Ziya bertekad, tidak akan memikirkan lagi makhluk berjenis laki-laki. Cukup dengan kedua kakak posesifnya juga teman-teman yang begitu menjaganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hati telah berganti. Mentari yang mentereng menyinari bumi sangat bersemangat, sama seperti semangat Ziya yang tengah berlari menuruni anak tangga.
"Ziya, pelan-pelan dong!" tegur wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bu, Ziya ada kuliah pagi nih. Mau nyalin catatan dulu, jadi Ziya langsung berangkat ya, assalamu'alaikum," cerocos Ziya menarik tangan ibunya lalu menciumnya dilanjut dengan mencium kedua pipi sang ibu.
"Waalaikumsalam," sahutnya terbengong.
Bingung dengan sikap Ziya yang berubah 180°. Kemarin menangis sebegitunya, eh paginya secerah maentari pagi. Ia hanya menggelengkan kepala sambil mengunyah makanannya lagi.
Sebenarnya tidak semudah itu, Ziya sengaja berangkat pagi-pagi takut dicecar pertanyaan oleh ibu atau kakaknya. Apalagi keadaan matanya yang masih sembab, masih teringat kenangan manis dan pahit yang diberikan Arjuna. Begitu membekas sampai menyesakkan dada. Ia berusaha melampiaskan amarahnya dengan belajar.
Baru saja ia memarkirkan motornya, seseorang menepuk bahunya. Hingga membuat tubuh mungil itu terlonjak kaget. Tubuhnya menoleh, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum lebar.
"Lily," sapa Ziya melepas helm lalu bergegas turun memeluk teman sebangkunya itu.
"Kangen," sahut Lily juga membalas pelukannya.
"Yuk masuk, eh ngantin dulu ya. Laper nih," ajak Ziya menarik tangan gadis sebayanya itu.
__ADS_1
Lily mengangguk, mereka melangkah bersemangat menuju kantin. Saat tengah menikmati sarapan, seseorang ikut bergabung di mejanya. Menghentikan tawa keduanya yang menggelegar sedari tadi, karena keduanya saling bersenda gurau.
"Hai, Zi. Gimana kabar kamu?" tanya Alvin menopang dagu di depan Ziya.
"Buta lo ya? Basi!" sentak Lily yang tidak suka dengan keberadaan Alvin.
Ziya menggenggam tangan Lily, menggelengkan kepaĺa memberi isyarat agar tidak membuat keributan. Lily baru sembuh dari sakitnya, ia baru masuk beberapa hari yang lalu.
Meski begitu, Lily mendengar desas desus tentang Alvin yang selalu mengejar Ziya dari grup di kelasnya, teman-temannya selalu meledek Ziya meski tak ditanggapi. Ziya memang tidak begitu dekat, ia malas bercerita dengan sesama wanita.
Sedangkan Lily, sangat antusias ingin dekat dengan Ziya. Lily tidak suka dengan cara Alvin yang terang-terangan mengejar Ziya. Padahal sudah ditolak mentah-mentah.
"Berisik! Gue nggak ada urusan sama lo. Zi, bisa kita bicara empat mata?" Tatapan Alvin memancarkan keseriusan.
"Eemm ...." Ziya menyentuh tengkuknya. Tidak enak mengusir Lily, tapi bagaimana pun pria itu pernah menolongnya.
"Pergi lo!" usir Alvin sinis pada Lily.
Perempuan itu mendelik. Ia melipat kedua lengannya. Baru mau membuka mulut, Ziya beralih menatapnya, "Ly, tolong," ucapnya memohon.
Lily membuka mulutnya tak percaya, "Kalau kamu diapa-apain sama dia gimana? Dia tuh cowok nggak bener, Zi!" pekik Lily mengundang perhatian seluruh penghuni kantin.
Ziya menutup mulut Lily, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Lily. "Tenang aja. Awasi dari kejauhan saja, jangan bikin keributan, okay?" Lily menatap tajam pada Alvin yang tersenyum smirk, merasa menang dari wanita itu.
"Awas lo berani sentuh dia, gue patahin tangan lo!" ancam Lily melotot tajam pada Alvin beranjak dari duduknya.
Merasa tak nyaman, Ziya mengajak pria itu berpindah tempat. Karena di sana banyak pasang mata yang menatap mereka berdua.
"Mau ngomong apa?" tanya Ziya saat hanya ada mereka di taman kampus.
Bersambung~
__ADS_1