Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Will You Marry Me?


__ADS_3

Ziya menggulingkan tubuhnya hingga telungkup. Matanya mengerjap berulang, seolah masih tak percaya orang yang sedang ada dalam pikirannya, kini menghubunginya.


Beberapa kali Ziya menghela napas panjang, meredakan dadanya yang seolah meledak-ledak di sana. Ibu jarinya perlahan mengusap layar ponsel, menggeser icon berwarna hijau.


Namun terlambat. Panggilan tersebut terhenti karena kelamaan. "Iiih kok mati sih!" gerutunya memarahi benda pipih itu.


Padahal salah dia sendiri terlalu banyak tingkah. Kecewa, namun gengsi jika harus menghubunginya duluan.


"Ayo dong, telpon lagi." Ia masih bergumam sendiri sambil memainkan ponsel di tangannya.


Dan tak berapa lama, kembali berdering dengan nama Arjuna sebagai pemanggil. Ziya terperanjat, ia duduk seketika karena kegirangan.


"Ha ... halo," sapa Ziya sedikit gugup.


"Hai, belum tidur?" Sebuah pertanyaan basa basi dari Arjuna. Cukup membuat Ziya berjingkrak.


"Kalau tidur mana bisa angkat telepon!" dengkus Ziya kesal.


Tanpa diketahui oleh Ziya, Juna tersenyum. Ternyata apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Ziya masih mau mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Kalau enggak ada yang dibicarakan lagi akuaku matiin nih," ancam Ziya setelah mereka saling diam cukup lama. Seketika ia menepuk bibirnya. Takut jika Juna masih tak bersuara dan harus memutuskan sambungan teleponnya.


Juna tersentak dari lamunannya. "Eh, jangan! Jangan!"


Ziya pun tertawa puas. Untung saja bukan video call. Sehingga Arjuna tidak melihat tawa tertahan dari gadis itu. Rasanya ingin berteriak juga, tapi sebisa mungkin ditahan. Ia lalu berdehem menetralkan perasaannya.


"Kamu lagi apa, Zi?" tanya Juna basa basi.


"Tiduran aja." Pura-pura jutek.


"Ziya!" panggil Arjuna pelan.


"I love you," ucap Arjuna pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Ziya.


Ziya melebarkan senyumnya, namun telapak tangannya membungkam mulutnya sendiri. Takut terdengar oleh Arjuna. Hatinya menjerit kegirangan. Kakinya bahkan terayun-ayun.


"Kak Meysa?" Ziya memberanikan diri menyebut nama itu. Ia tidak mau dijadikan yang kedua atau bahkan hanya pelampiasan saja.


"Meysa pernah pergi tanpa memberi penjelasan apa pun. Aku seperti orang gila mencarinya. Saat bertemu, dengan tegas dia memutuskan hubungan kami. Meskipun kini aku tahu alasannya, namun aku sudah terlanjur kecewa. Kamu tahu? Sebuah hubungan itu seperti sebuah kaca. Sekali pecah, tidak akan bisa kembali seperti sedia kala."

__ADS_1


"Kamu berhasil menyusup ke hatiku. Menggeser nama itu dan menggerus perasaanku padanya. Menyebut namamu saja sudah membuatku berdebar dan senyum-senyum sendiri. Kamu sangat istimewa, Zi. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan rasa ini tumbuh. Satu hal yang pasti, aku sangat takut kehilanganmu," aku Arjuna bersandar pada dinding di kursi tunggu depan ruangan Meysa.


Pria itu mendongak sembari memejamkan mata. Di tengah sapuan angin malam yang menembus kulitnya.


"Aku, tidak percaya!" jawab Ziya dengan tegas.


Yah walaupun berbanding terbalik dengan hatinya yang seperti ada ribuan bunga bermekaran. Ia juga butuh bukti. Bukan sekedar kata-kata.


"Aku akan segera melamarmu. Setelah urusanku dengan Meysa selesai. Tolong sabar sebentar yah," balas Arjuna dengan lembut.


Mata bulat Ziya semakin melebar, sungguh ingin rasanya melompat-lompat saat itu juga. Arjuna memang sudah dewasa, ia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sedangkan Ziya terlampau bahagia karena pria itu cinta pertamanya.


"Hah?" Hanya kata itu yang terucap.


"Will you marry me, Zi?" tanya Arjuna memastikan.


"Tidak!" kata Ziya menolaknya dengan tegas. Membuat Arjuna seketika melemas, darahnya berdesir dengan begitu kuat. Dadanya juga terasa sesak. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2