Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Help me, Please


__ADS_3

Suara dentingan panjang dari mesin monitor detak jantung membuat Ziya lekas menoleh. Dilihatnya garis lurus di sana. Pandangannya beralih pada Meysa, tubuh Ziya menegang seketika. Kedua kelopak mata Meysa sudah terpejam sempurna. Air matanya luruh, semakin deras membanjiri pipinya.


"Kak Meysa!" jerit Ziya seorang diri di ruangan itu.


Diseretnya kedua kaki yang gemetar mendekat ranjang Meysa, kepalanya menunduk bersandar di ranjang sambil menangis sesenggukan. Tangannya memegang kedua tangan Meysa yang sudah diposisikan di atas perut.


Pintu terbuka dengan kasar, Ziya mendongak. "Kak Reza," rengek Ziya berderai air mata.


Reza menyentuh bahu Ziya sejenak, lalu beralih memeriksa Meysa. Menghela napas sejenak lalu menatap jam di lengannya, "Pasien atas nama Meysa Adriana, hari Jum'at 15 Oktober 2021, pukul 10:32 WIB dinyatakan meninggal dunia," papar Reza. "Silahkan lepas semua alat bantunya, Sus!" perintah Reza.


Mama Indah yang sedari tadi di ambang pintu bersamaan dengan Reza, menangis dalam dekapan sang suami. Di satu sisi ia sedih kehilangan putri satu-satunya yang ia rawat sedari bayi. Namun di sisi lain, ia lega karena sekarang Meysa sudah tidak kesakitan lagi. Mengingat betapa menderitanya Meysa selama ini. Berjuang melawan penyakitnya hingga berada di titik menyerah.


Sedangkan Ziya semakin tersedu-sedu. Reza memapahnya menuju ruangannya. Didudukkan sang adik manjanya itu di sofa. Pria berjas putih itu mengambilkan segelas air putih dan menyodorkannya pada Ziya.


Dengan tangan gemetar, Ziya menerimanya dan meminum dalam beberapa kali teguk. Diusap kasar bibirnya yang basah lalu melanjutkan tangisnya.


"Ziya," panggil Reza lalu kembali memeluknya dengan erat. Membelai kepala gadis itu dengan lembut.


Reza tahu, Ziya masih sangat shock. Melihat orang meninggal di hadapannya mengingatkan pada kepergian sang ayah beberapa tahun yang lalu. Walau sudah lama, tapi luka dan ingatan itu akan terus membekas.

__ADS_1


"Istighfar, Dek."


Memori kehilangan sang ayah yang kembali berputar, ditambah kepergian Meysa yang bahkan ia sempat berburuk sangka pada perempuan itu. Dan belum mengucapkan maaf, membuat Ziya tercekat, tak mampu mengeluarkan kata-kata.


Sementara itu, keluarga Meysa segera membawanya pulang untuk proses pemakaman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah beberapa jam berlalu. Ziya sudah lebih tenang. Reza masih menemani sang adik, karena tidak ada keadaan darurat sejak tadi. Kedua mata Ziya masih sembab dan memerah.


"Kak, kemarin Kakak lihat Kak Juna ke sini?" tanya Ziya dengan suara serak.


"Huuaaaa ... Kakak! Aku mau ketemu Kak Juna!" rengek Ziya memeluk lengan Reza. Membasahi kemeja pria itu.


Reza melirik Ziya dengan ekor matanya, kemudian menyentil kening perempuan itu, "Mau ngapain? Perempuan itu jaga harga diri. Lagian masih kecil mikirin laki. Sekolah dulu yang bener."


Ziya menegakkan tubuhnya. "Iiih Kakak jahat! Curhat sama Kak Reza bukannya tambah plong malah bikin tambah dongkol!" gerutu Ziya menyebikkan bibir.


Reza terkekeh melihatnya. Kedua lengannya dilipat tepat di depan dada. "Kak Rio aja belum nikah, Zi. Masa mau kamu langkahin? Pamali kalau dia nggak ikhlas."

__ADS_1


"Bukan masalah marriednya, Kak. Tapi... tapi. Aahh Kak Reza. Ini amanah dari Kak Mey. Ayolah, Kak bantuin aku," rengek Zia menarik-narik lengan sang kakak. Kali aja alasan itu mau menggerakkan hati kakaknya. Meski sebenarnya ia memang sangat merindukan pria itu.


Ziya tahu, hanya Reza dan kakak iparnya yang mau menolongnya. Dengan Rio mana mungkin? Mereka aja masih bersitegang.


"Telepon aja apa susahnya sih?" jawab Reza dengan entengnya.


"Ck! Udah seminggu enggak bisa dihubungi." Ziya melepas cengkeraman tangannya. Mengembuskan napas berat sambil menunduk.


"Kalau udah ketemu mau apa? Nanti salah paham dikit, ngambek lagi, marah-marah lagi, emosi lagi. Kamu 'kan gitu, kebiasaan enggak mau denger penjelasan orang, suka berspekulasi sendiri. Kamu tahu, kepercayaan adalah kunci utama dalam menjalin sebuah hubungan. Mending kamu mantepin hati dulu deh. Kalau jodoh mah enggak bakal salah alamat," papar Reza membelai rambut Ziya dengan lembut.


Pria itu memang sudah tahu semua kegundahan adiknya. Karena sang istri pernah menceritakan segala yang ia tahu.


"Iya, nanti enggak marah, enggak ngambek, aku cuma mau minta maaf." Ziya masih menunduk memainkan jari jemarinya."


"Good! Itu baru adik Kakak."


"Jadi? Kakak tahu di mana Kak Juna?" tanya Ziya bersemangat.


Bersambung~

__ADS_1


Bang Jun... woy! Kemana sih? mamak2 juga pada nyariin noh.


__ADS_2