
Detik demi detik terus berjalan. Dentingan jam yang menggantung di dinding, memecah keheningan kamar Ziya. Ia tengah selesai dirias dan sudah mengenakan kebaya putih yang sangat pas di tubuhnya.
"Zi, tegang amat tu muka," celetuk Lily merengkuh bahu Ziya.
"Duh, deg-degan banget nih, Ly. Nggak pernah nyangka hari ini bakal terjadi juga. Mana dadakan pula," ujar Ziya gugup.
Kedua tangannya mengepal, jantungnya berdetak tak karuan. Lily menarik kursi di depannya. Menangkup kedua tangan Ziya yang terasa sangat dingin itu.
"Ya bagus dong, kalian langsung ke jenjang pernikahan. Itu namanya gentle man. Nggak pacaran langsung gas pelaminan," balas Lily yang bingung bagaimana lagi menenangkan Ziya.
Gadis yang mengenakan gaun berwarna pastel, dengan rambut digerai dan polesan make up tipis itu tentu saja tidak mengerti, karena ia belum pernah merasakannya. Ia hanya menyampaikan apa yang ada di otaknya saja.
"Iya juga sih, Ly. Aku jadi keinget sama Kak Meysa," ucapnya menunduk.
"Udah dong, ini semua udah takdir." Lily menimpali.
"Siap-siap ya, abis akad langsung turun. Pengantin pria udah datang!" seru salah satu MUA yang baru saja memasuki ruangan.
Tubuh Ziya menegang, bahkan tampak gemetar.
"Tenang aja, rileks, 'kan yang ngucapin ijab qabul pengantin pria, kok kamu yang gugup sih," ucap MUA merapikan kembali riasannya.
"Iihh Mbak, aku juga takut tau!" seru Ziya yang semakin mencengkeram erat kedua tangan Lily tanpa dia sadari.
Sementara itu, rombongan pengantin pria baru saja tiba. Tim pagar bagus sudah berjajar di depan pintu menyambut kedatangan mereka. Kelima lelaki itu tampak tampan dan gagah mengenakan jas hingga sepatu dengan warna senada.
"Weeh keren-keren kalian semua!" sambut Juna memeluk mereka satu per satu.
"Ini semua berkat kamu, Jun. Makasih ya, ini nggak disuruh kembaliin 'kan?" celetuk Wahyu menepuk punggung Juna saat mereka berpelukan.
Juna tertawa terbahak-bahak. "Enggak, semuanya buat kalian. Makasih ya udah jagain Ziya selama ini."
"Asiyaap! Thankyou Pak Dokter!" seru mereka kompak.
Sebelum melangkah masuk, Juna menghela napas panjang. Tiba-tiba ia kembali merasa nervous. Padahal sedari tadi berusaha bercanda tapi semakin memasuki kediaman Ziya, semakin cepat pula degub jantungnya.
Kini, pria dengan mengenakan jas serba putih itu mendaratkan tubuhnya di depan penghulu dan Reza yang dibatasi oleh sebuah meja kecil. Mereka tengah memeriksa berkas terlebih dahulu, sedangkan Juna sedari tadi menunduk mengatur napas dan degub jantungnya.
"Saudara Arjuna, sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak!" ucapnya menengadahkan kepala.
"Baik, silahkan Mas Reza sebagai wali nikahnya."
Reza mengulurkan tangannya, Juna menjabat dan menggenggam telapak tangan Reza. Kesunyian di ruangan itu, serasa mencekam bagi Arjuna. Apalagi Reza tak kunjung mengucapkan ijabnya.
"Kak!" bisik Juna menggoyangkan sedikit tangannya.
"Eh, maaf. Aku grogi," ucap Reza meringis.
"Dihh, yang nikah aku, yang grogi Kak Reza." Juna mencibir sambil terkekeh.
"Sebentar, saya minta minum!" seru Reza melepas jabat tangannya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Rio yang didekatnya pun bergegas mengambilkan air mineral dan membukanya, lalu menyerahkan pada sang kakak yang langsung diminum hingga tandas.
"Kenapa Kak Reza yang gugup?" Rio ikut mencibir sang kakak.
"Berisik!" serunya melontarkan tatapan tajam, menyerahkan kembali botol air mineral pada Rio.
Setelah sedikit tenang, ia kembali mengulurkan tangan dan dibalas oleh Arjuna. Dengan satu kali helaan napas, Reza mengucapkan ijab dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ziya Thalia binti Dion Permana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Arjuna tegas dan lantang dalam sekali helaan napas dan cengkeraman tangan yang sangat kuat.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah!" ucap semua orang serentak yang ikut merasakan ketegangan itu.
Seharusnya Gandhi juga hadir diminta Arjuna sebagai saksi, namun ternyata ia berhalangan. Karena kedua anak kembarnya sedang sakit bersamaan.
"Alhamdulillah," seru penghulu lalu menggumamkan segenap doa.
"Lepasin, Jun. Udah kelar," bisik Reza yang tangannya masih digenggam erat oleh Juna.
"Ah, maaf, Kak!" Juna menarik kembali tangannya kemudian menengadah, mengaminkan setiap doa yang terucap dari penghulu tersebut.
Selepas ijab qabul, saatnya pengantin wanita digiring, bersanding dengan mempelai pria.
"Ciee yang udah sah, jangan nangis dong. Entar luntur," ledek Lily merengkuh bahu Ziya. Ia meraih tisu dan menahan air mata yang hampir terjatuh, pandangannya ke atas.
"Waktunya turun, ayo!" ajak sang perias mengulurkan kedua tangannya.
Satu lengannya dipegang erat oleh Lily. Dan satu lagi, oleh periasnya. Namun di ambang pintu ternyata Rio sudah menunggu. Ia mengambil alih lengan Ziya dari perias tersebut.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir mereka bertiga saat menuruni anak tangga. Lily yang jarang sekali tersenyum pun, kali ini mengantar sahabatnya tanpa melunturkan tawa bahagia di wajahnya. Rio yang berada tak jauh darinya terus melirik ke arah gadis itu. Semakin terkesima akan pesonanya.
Semua pandangan mengarah pada dentum sepatu dan heels yang menggema di ruangan itu. Seolah tersihir dengan aura kecantikan Ziya yang memang tidak pernah berdandan sama sekali.
Juna pun tak berkedip menatapnya, baginya Ziya adalah bidadari yang baru turun dari kayangan. Namun, berbeda dengan Dika yang duduk di belakang Juna. Pria itu juga tak berkedip, saat melihat Lily yang nampak anggun dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Sungguh, pemandangan langka. Gadis yang selalu mengenakan celana jeans dan jaket kulit, serta tak pernah menampakkan senyum. Kali ini terlihat berbeda sekali.
"Ini beneran kamu, Zi?" bisik Juna saat mereka sudah bersanding di pelaminan.
"Bukan! Kang jamu!" jawab Ziya asal.
"Diihh, sumpah kamu beda banget, Zi. Aku pangling," bisik Juna lagi.
"Ya 'kan karena MUAnya juga. Kakak pinter sih milihnya," sahut Ziya menatap lurus ke depan. "Jangan diliatin terus dong, 'kan jadi grogi," sambung Ziya menahan senyum. Dari ekor matanya ia bisa melihat bahwa Arjuna terus menatapnya.
"Kenapa? Liatin istri sendiri. Sah-sah aja dong," elak Arjuna masih tak memalingkan pandangan dari wanita di sebelahnya itu.
Blussshh!
Tak kuasa lagi menahannya. Senyum Ziya pun merekah saat mendengar kata istri keluar dari bibir Arjuna, wajahnya merona. Istri? Tidak pernah menyangka ia akan bertemu jodoh saat usianya masih tergolong masih muda.
"Issh, udah ah tuh dengerin MCnya." Ziya menangkup kedua pipi Juna dan menggerakkannya agar lurus ke depan.
Serangkaian acara adat jawa pun selesai setelah satu jam lamanya. Kini tibalah waktunya berfoto dengan kerabat dan para sahabatnya. Saat keluarga Ziya bersiap, Rio menarik Lily yang tengah duduk di panggung sambil memainkan ponselnya.
"Ehh!" sentak Lily terkejut. "Ini 'kan foto keluarga," bisiknya berusaha melepaskan genggaman tangan Rio.
"Enggak apa-apa, kamu 'kan juga saudara Ziya, eh maksudnya sahabat yang udah kaya saudara," sahut Rio menyengir.
Tanpa mereka sadari, perdebatan mereka diamati oleh semua keluarga Ziya. Ibu, Reza dan istrinya, juga sepasang penganting baru itu. Mereka lalu saling pandang.
"Tuh, 'kan? Aku turun aja deh. Nggak enak diliatin," ujar Lily masih berusaha melepas cengkeraman di pergelangan tangannya.
"Nggak apa, Ly. Ayo ikut," ajak Ziya bersuara. "Buruan kasian yang lain antri," sambungnya.
Akhirnya mau tidak mau Lily pun menurut, bahkan dengan berbagai gaya bebas, sedangkan Rio selalu tertawa gemas dengan gadis itu. Gambar yang diambil pun tampak natural.
Setelah usai dengan pihak keluarga kedua mempelai, kini giliran para sahabat Ziya juga Arjuna. Pagar bagus sudah bersiap dengan gaya kocaknya masing-masing. Saling berebut posisi, bahkan Juna sempat tergeser karena antusias mereka.
"Heh! Mana ada suami istri fotonya jauhan!" seru Juna menerobos ke barisan. Agar tetap berada di dekat istrinya.
"Yaelah, pinjem bentar napa!" protes mereka. Namun tak dihiraukan oleh Arjuna. Justru pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada Ziya.
Juna bersedekap menanap nanar, cemburu sih, tapi mereka mengenal Ziya jauh sebelum mengenalnya. Mereka semua juga sudah menjaga Ziya selama bertahun-tahun.
"Selamat ya, Ziya. Ahh kamu duluan yang sold out!" Edi mulai bersuara menjabat tangan kecil Ziya.
"Tenang aja, kami masih ada untukmu kok. Jangan sungkan kalau butuh bantuan." Wahyu menepuk bahu Ziya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Mengingat betapa lima laki-laki itu sangat menyayangi dan menjaganya seperti gelas kaca. Takut akan pecah saat terjatuh.
"Semoga bahagia ya, Zi," sambung Eko, gadis itu mengangguk sambil menyeka air matanya. Lily menyerahkan tissu untuknya.
"Kami bahagia asal kamu juga bahagia," ujar Sofyan menimpali. Gadis itu mengangguk.
"Semoga kalian juga lekas menemukan tulang rusuk kalian masing-masing," jawab Ziya dengan suara serak.
Semua orang terharu dengan kekompakan mereka berenam. Bersahabat dengan baik tanpa melihat status sosial. Ketulusan terpancar dari mereka semua.
"Zi, kalau disakitin ama laki lu, gua siap gantiin!" celetuk Farid yang memang pernah menyimpan perasaan lebih pada Ziya. Namun sebisa mungkin ia menekannya, demi persahabatan mereka. Lagi pula, Ziya tidak memiliki perasaan yang sama.
Juna yang tadinya terharu, kini terkejut melongo. Ia pun maju beberapa langkah, menarik jas yang dikenakan oleh Farid dari belakang. "Apa kamu bilang?" geramnya melotot tajam.
"Bercanda, Pak Dokter! Piss!" sahut Farid dengan cepat menunjukkan deretan gigi putihnya.
Kemudian mereka berlima pun berpamitan turun dari panggung, yang langsung menuju meja besar. Dimana terdapat beraneka macam makanan tersaji di sana.
Juna membingkai wajah istrinya. Menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Dika dengan langkah panjang bergantian naik ke atas. Ia yang merasa sendirian pun, menoleh ke arah Lily.
"Sstt! Ssstt!" desis Dika pada Lily yang duduk tak jauh dari panggung.
Lily mendongak, kedua alisnya terangkat seolah bertanya, ada apa? Di sekeliling gadis itu kebetulan kosong. Jadi tentu saja panggilan Dika tertuju padanya.
"Sini, temenin aku! Nggak kasian apa, aku sendirian nanti dikira jomblo," ucap Dika berbisik.
Lily tertawa sambil menutup mulutnya, "Bukannya emang jones?" ledeknya.
"Diih jangan diperjelas dong. Ayo sini!" Dika mengulurkan tangannya. Dan segera diraih Lily untuk segera naik ke atas. "Oke ... oke," ucapnya masih dengan tawa.
Mereka tampak seperti pasangan yang sedang mengapit sepasang pengantin. Lily pun begitu enjoy tanpa jaim berpose di depan kamera. Tak lupa Dika mengabadikan dengan ponsel pribadinya juga.
Dari kejauhan, Rio menatap gusar akan kedekatan Lily dengan pria itu. Ia pun berharap acara akan segera selesai.
Tibalah acara yang ditunggu-tunggu para jomblo. Lempar buket bunga pengantin. Yang konon katanya, siapa yang mendapatkannya akan segera menyusul ke pelaminan.
__ADS_1
Tak lupa, Catuda Squad sudah bersiap di posisi masing-masing. Kedua tangan mereka menengadah ke atas. Lily dan Dika juga berdiri di sana, namun tidak seantusias mereka..
"Siap semuanya?" seru pembawa acara.
"Mbak Pengantin, siap ya?" sambungnya lagi.
Ziya menaikkan tangannya, membentuk lingkaran pada jari telunjuk dan ibu jarinya. Seolah mengatakan mereka sudah siap.
Ziya dan Juna sudah membelakangi audience, bersiap melemparkan buket bunga itu. Tangan Juna melingkar di pinggang Ziya, satu tangannya lagi memegang buket bunga bersamaan dengan Ziya. Mereka saling pandang.
"Satu ... dua ... tiga!" teriak MC dengan ceria.
Tangan Ziya dan Juna yang memegang bunga, sudah terayun hingga atas kepala mereka. Namun gerakannya terhenti. Dua pengantin itu berbalik, semua orang yang bersiap pun bingung dan kecewa.
Ziya hanya tersenyum menatap suaminya, lalu mengangguk dan berjalan bersamaan menuruni anak tangga. Langkah mereka semakin dekat dengan Lily, dan tanpa disangka, Ziya memberikan bunga itu ke tangan Lily.
"Loh, kok?" tanya Lily dengan kerutan dalam di keningnya.
Ziya pun berbalik, meraih tangan suaminya dan bersandar di dada pria itu. Tak lama, sayup-sayup terdengar seorang pria yang menyanyikan sebuah lagu payung teduh.
Rio membawa buket bunga yang lebih besar, satu tangannya menggenggam mikropone menuntaskan lagunya. Hingga tibalah di bait terakhir, langkah kakinya tepat berhenti di depan Lily.
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi istriku
"Wooooooooowww!" seru penonton bersorak diiringi tepuk tangan menggelegar.
Lily mengerjapkan matanya perlahan. Masih terkejut dengan tingkah pria di depannya itu. Lily menerima buket mawar merah yang sangat besar, lalu Rio berjongkok di depannya.
Tangannya merogoh saku, membuka sebuah kotak yang berisi cincin berlian.
"Aku nggak peduli siapa namamu. Mau itu Ev, Lily, aku sungguh jatuh hati padamu. Sesuai dengan lagu yang aku nyanyikan, maukah kamu menerima lamaranku? Aku ingin menjadikanmu istriku, ibu dari anak-anakku!" tegas Rio menatap manik lembut Lily.
Gadis itu terperangah, bahkan tubuhnya kaku seketika. Jantungnya bergejolak, ingin meledak-ledak di dalam sana. Dika tak kalah terkejutnya, pria yang memendam perasaan pada Lily itu lagi-lagi kalah start. Kalah sebelum berperang, layu sebelum tumbuh, patah sebelum berjuang.
Lily mengedarkan pandangannya sambil memeluk bunga di tangannya. Yang pertama ia cari adalah Dika. Pria itu nampak limbung, mencari pegangan di belakangnya. Pandangan mereka bertemu. Kesedihan terpancar dari keduanya. Cukup lama berdiam dalam posisi seperti itu. Cukup lama tenggelam dalam lamunan mereka.
Lalu Lily kembali menggerakkan matanya. Ia melihat Resi yang nampak bahagia, pancaran mata wanita paruh baya itu berbinar penuh harap. Ah, bagaimana ia tega mempermalukan keluarga ini jika menolaknya?
Kemudian ia beralih pada sahabatnya yang tengah direngkuh oleh suaminya dengan tawa yang lebar. Ia juga nampak sangat bahagia. Lagi-lagi Lily takut menghancurkannya. Apalagi ini adalah hari spesial Ziya. Bagaimana bisa ia menghapus senyum itu.
"Ly, kamu menangis?" Rio beranjak menghaous air mata itu.
"Aah, enggak. Aku hanya terharu." Bohong, pasalnya ia menangis karena dilema.
"Lalu? Apa kamu menerima lamaranku?" tanya Rio sekali lagi.
"Terima! Terima! Terima!" seru semua orang kompak sambil bertepuk tangan.
Lily benar-benar tidak punya pilihan. Sekali lagi ia menatap Dika yang sudah memerah wajah dan matanya. Lily pun demikian, air matanya semakin banyak berjatuhan.
Tenggorokannya tercekat, sebelum akhirnya sebuah kata terucap di bibir sexynya. "Iya, aku menerimamu." Suaranya bergetar. Pandangannya masih belum beralih pada Dika yang terduduk lemas sambil mengepalkan kedua tangannya.
Rio segera memasangkan cincin itu di jari manis Lily, lalu memeluknya. Tanpa ada yang menyadari Lily masih terus menatap Dika.
"Akhirnya Kak Rio nikah juga," desah Ziya yang masih nyaman di pelukan suaminya.
"Huum, semoga lancar sampai hari-H, I love you istriku," ucap Arjuna mencium puncak kepala Ziya dan semakin mengeratkan lilitan lengannya di perut ramping Ziya.
"I love you too, suamiku," ucap Ziya terkekeh dengan panggilan barunya itu. Ia mendongak menatap sang suami, yang kemudian diberi kecupan yang cukup lama di keningnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TAMAT...
Habisss 😄😄😄 Next untuk Lily-Dika-Rio, gimana sih sebenernya mereka? Kok bisa kenal? Kok malah nerima lamaran Rio? Eeuummm... bakal ada novelnya sendiri. Tapi gak tau kapan launchingngnya ya... stay tune aja...wkwkwkwk
__ADS_1
Oiya, nama-nama catuda squad itu adalah nama-nama sahabatku waktu sekolah dulu. Yang semuanya baik banget, apa adanya, duh jadi rindu....