
Langkah Arjuna pun tertahan. Pandangannya masih mengarah keluar ruangan. Hatinya menjerit ingin berteriak memanggil Ziya dan mengejarnya. Panas dingin kini menguar di seluruh tubuhnya.
"Duh, papa sama mama kamu kok belum sampai juga ya," gumam Arjuna sangat pelan. Namun ternyata masih terdengar oleh telinga Meysa.
"Kamu, baik-baik saja, Jun?" tanya Meysa setelah tubuhnya merasa lebih rileks. Ia pun bisa membuka kelopak matanya.
Arjuna masih tampak gelisah. Berkali-kali mengusap wajahnya. Raut ketegangan tak luput dari pandangan Meysa. "Jun!" Meysa mencoba meremat jemari Arjuna meski sangat lemah. Karena sedari tadi ia tidak menyahut dengan panggilannya.
"Eh, iya. Kenapa? Mau muntah lagi?" tanya Juna tergagap. Ia baru teringat mengambilkan air putih di nakas. Lalu membantunya setengah duduk dan meminumkannya.
"Makasih. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Meysa menyeka bibirnya dengan telapak tangan.
"Emm ... tidak ada. Istirahatlah! Kunjungan dokter satu jam lagi. Aku pamit cari sarapan dulu ya. Orang tua kamu dalam perjalanan ke sini kok." Senyum kaku terbit di bibir Arjuna. Meysa pun mengangguk.
__ADS_1
Setelah mendapat izin, buru-buru Juna berlari keluar. Bahkan tanpa sadar ia membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Sempat membuat Meysa terjingkat mengerutkan dahi. "Kenapa dia?" gumam Meysa meluruskan pandangan lagi pada langit-langit. Kedua tangannya mencengkeram selimut yang membalut tubuhnya. Ia mendesis sambil memejamkan mata. Merasakan kepalanya yang semakin berdenyut nyeri.
Sementara itu Juna terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru. Namun masih tak menemukan apa yang ia cari.
Sempat berhenti sejenak di loby. Tangannya berkacak pinggang, napasnya terengah-engah. Bahkan keringat mulai mengalir di keningnya. Ia meraih ponsel berusaha menguhubungi Ziya. Lagi-lagi harus menelan kecewa karena Ziya sengaja mematikan ponselnya.
"Aaarggh! Sial!" geram Juna menendang udara.
Kecewa pada dirinya sendiri yang tidak tega jika harus tegas pada Meysa. Mengingat kondisinya yang sangat lemah dan butuh perhatian intensif. Namun di sisi lain ia juga tidak ingin membuat Ziya lagi-lagi terluka.
Ia segera menyalakan ponsel, mengetikkan pesan di grup chat Catuda Squad. Tampak beberapa chat dan panggilan yang berbondong-bondong masuk. Namun Ziya memilih mengabaikannya. Sambil menunggu, Ziya menghampiri penjual jasuke dan membelinya satu porsi. Berikut dengan jus mangga yang bersebalahan tak jauh dari jangkauannya.
Setelahnya Ziya duduk di kursi panjang. Menikmati jasuke sesekalu menyedot jus mangganya. Lupakan sarapan yang dibuatnya tadi. Karena tinggal tupperwarenya saja, isinya? Sudah dibuang ke tong sampah.
__ADS_1
"Ziya!" panggil teman-temannya dari kejauhan. Mereka berlarian menghampiri gadis cantik itu.
"Hai, sini pilih aja semua yang kalian mau. Asal jangan sama gerobaknya. Kesian abangnya besok nggak bisa jualan," celoteh Ziya seperti biasanya.
"Enggak jadi nanti sore?" tanya Edi heran sembari memesan satu per satu makanan di dekatnya. Hanya gelengan kepala jawaban Ziya karena ia masih menikmati jasukenya.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dan merematnya perlahan dari belakang, sambil menyapanya, "Ziya!"
Suara yang sangat ia kenal. Membuat tubuhnya menegang dengan mata membelalak. Dan akhirnya tersedak juga. Ziya terbatuk-batuk sembari memukul dadanya yang terasa sesak karena makanan yang nyasar di saluran pernapasan.
"Aduh, Zi. Pelan-pelan dong makannya." Arjuna segera memutar langkah. Duduk di sebelah Ziya, memberikan air mineral dalam kemasan yang baru saja dibelinya.
'Kok ada dia?' jerit Ziya dalam batinnya.
__ADS_1
Bersambung~