
"BRENGGSEK!" pekik Arjuna berlari menuju ranjang. Ditendangnya punggung Alvin sekuat tenaga yang sedang menindih tubuh Ziya, hingga pria itu berguling di ranjang.
Mata Juna menyalang merah, seperti tombak api yang siap diluncurkan. Gerahamnya mengetat, ketika melihat tangan Alvin mencengkeram kedua lengan Ziya, ditahan ke atas kepala gadis itu. Genggaman Alvin terlepas, ia terperanjat ketika ada pria yang masuk menerobos kamar yang dipesannya.
"Siapa Lo?" tanya Alvin berusaha bangun.
Namun baru saja berdiri, Arjuna melayangkan bogem mentah di rahang Alvin hingga terdengar suara gigi yang patah. Pukulannya begitu keras, seakan Arjuna mengumpulkan seluruh kekuatan pada kepalan tangannya.
"Shiitt!" umpat Alvin sambil mengelap bibirnya yang berdarah.
"Beraninya kamu menyentuh Ziya!" teriak Arjuna penuh amarah. Belum sempat Alvin melakukan perlawanan, Arjuna menduduki perut Alvin. Dicengkeramnya kaos yang dikenakan oleh pria itu, lalu dengan membabi buta menyerangnya. Amarah Juna meledak seperti bom atom yang baru saja dijatuhkan.
Sedangkan Ziya, mencoba menyadarkan dirinya meski sulit. Ia menggerakkan kepalanya yang terasa begitu berat. Matanya pun mengerjap-ngerjap untuk memperjelas penglihatannya. Sekujur tubuhnya teras panas namun menggigil. Bibirnya juga bergetar.
Ia membenarkan blouse yang hampir sudah terbuka setengah. Lalu menggulirkan tubuh hingga terduduk di lantai. Ziya memeluk kedua lututnya sambil bersandar ranjang tempat tidur tadi. Sambil menopang kepalanya yang menunduk dalam, tak kuasa sekedar mengangkatnya.
Tiba-tiba datang segerombolan pemuda yang kemungkinan teman-teman Alvin. Mereka tampak terkejut melihat Alvin tak berdaya, yang berada di bawah Juna sembari dipukuli.
__ADS_1
"Ini cuma peringatan kecil! Sekali lagi kamu sentuh Ziya bisa kupastikan, aku akan menjadi malaikat pencabut nyawamu saat itu juga!" ancam Arjuna melotot tajam mencengkeram kerah kaos Alvin.
Tanpa disangka, Juna mendapat serangan balik dari punggungnya. Seseorang memukul telak tengkuknya, membuat Juna memekik kesakitan. Kepalanya pun langsung berkunang-kuñang.
Lily yang sudah selesai dengan dua security masuk membantu Arjuna. Ada 3 orang pria yang berdiri mengelilingi Juna. Sedang Alvin kepayahan membangunan tubuhnya.
Mata Lily menangkap Ziya yang meringkuk di lantai. Ia segera membawa Ziya pergi dari tempat itu. Terkejut ketika melihat kondisi Ziya.
"Apa yang terjadi, Zi?" gumam Lily menatap iba.
"Kamu tunggu di mobil ya. Jangan ke mana-mana!" ujar Lily menyalakan mesin mobil, menyalakan AC lalu meninggalkan Ziya dalam keadaan terkunci.
Namun, karena emosi yang masih memuncak Arjuna seakan mendapat kekuatan lebih. Ia menendang Alvin hingga terpental, menggerakkan lengannya dengan kuat membuat dua lawannya berbenturan satu sama lain.
Lily menepuk punggung salah satunya, pria itu menoleh lalu ditonjok hidung pria itu hingga berdarah. Gadis itu tersenyum menyeringai. Ia dan Juna saling memunggungi dan memasang kuda-kuda.
"Cemen banget! Beraninya keroyokan!" cibir Lily memutar bola matanya.
__ADS_1
Dan pergulatan pun tak dapat terhindarkan. Dua musuh diserang Arjuna. Satu orang lainnya berhadapan dengan Lily. Tak butuh waktu lama musuh-musuh pun tumbang.
Namun tak disangka, Alvin mengendap-endap membawa sebuah botol miras. Tiba-tiba memukul kepala Arjuna dengan benda itu, hingga pecah menjadi serpihan.
Lily menoleh, menendang Alvin dan lagi-lagi tersungkur. "Dasar pria lemah!" cibir Lily pada Alvin.
Dilihatnya Arjuna memegang kepalanya. Catuda Squad juga telah tiba di tempat itu. Jarak yang cukup jauh membuat mereka terlambat.
"Jun!" teriak kelima anggota Catuda. Matanya membelalak melihat darah mengalir dari kepala Arjuna.
Lily menoleh pada Arjuna, tatapannya menyiratkan pertanyaan tentang siap mereka. Juna berbisik, "Sekutu dan bala bantuan."
"Ooh, bang kalian beresin ini. Ziya aman di mobilku. Nih kepalanya bocor kalau enggak segera diobati bisa kehabisan darah entar," ucap Ziya pada mereka.
Mereka mengangguk, lalu menyeret Alvin dan kawan-kawannya ke kantor polisi. Lily menyerahkan sapu tangan dan meletakkan di bawah tangan Arjuna yang terus menekan kepalanya.
Saat mereka sampai di mobil, keduanya terperanjat dan membelalakkan mata seketika.
__ADS_1
Bersambung~
Eheheheee.....