Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Dipinang untuk Meminang


__ADS_3

"Pfffttt! Gue kira lu enggak doyan perempuan!" celetuk Arjuna menyemburkan tawa. Lalu membuka kedua matanya.


Dika terperanjat. Ia berdiri dengan tiba-tiba sampai kursinya terjatuh. "Lo? Sadar?" tunjuk Dika tepat di wajah Juna.


Ia menepis tangan Dika dengan kasar, "Sialan! Lo pikir gue sekarat apa?" gerutu Juna dengan geram.


"Rese! Lagian diajak ngobrol dari tadi kagak nyahut sih. Gue pikir lo sekarat," balas Dika menepuk bahu Juna.


"Anjirr! Sakit woy!" pekik Juna kembali tertawa.


"Apaan. Enggak keras juga!" sembur Dika kembali menegakkan kursinya dan mendaratkan tubuhnya di sana.


Keduanya tergelak, meski Juna meringis setelahnya karena bekas operasinya masih terasa ngilu. Dua sahabat lama itu saling melepas rindu, saling mengejek, dan menyindir seperti biasanya.


"Dik, tolong benerin ponsel gue dong. Tapi jangan sampe ada memory yang hilang. Gue mau minta tolong sama papa, enggak enak. Takut durhaka," pinta Juna meraih ponsel di atas nakas tak jauh darinya.


"Diih! Nyadar enggak lo udah jadi anak durhaka. Pergi dari rumah berbulan-bulan ampe dipecat. Lo pikir kuliah pake daun? Enggak mikirin perasaan bokap lo sama sekali," sungut Dika menopangkan dagu dengan satu lengannya. "Dan, lo udah tau belum? Meysa meninggal," sambungnya penuh penekanan.


Juna terperanjat, sempat menahan napas sesaat. Lalu mengembuskannya perlahan. "Iya, dosa banget gue sama papa. Semoga dikasih umur panjang buat nebus kesalahan gue. Mmm ... untunglah, seminggu yang lalu gue sempet nemuin Meysa buat minta maaf sama dia.“


"Gimana nebusnya? Lo aja malah ngrepotin Om Andre gini!" sembur Dika lagi.


"Gue udah dipinang kelles sama pengusaha muda asal Malang. Buat jadi dokter di perusahaannya. Beliau baru buka cabang di sini. Abis itu, gue mau meminang anak gadis orang. Dibalik musibah, pasti ada berkah," sahut Juna menaik turunkan alisnya.


"Serius? Kok bisa?" Dika bertanya dengan serius.


Juna lalu menceritakan kejadian seminggu yang lalu. "Dengerin dulu, jangan komen kalau udah selesai!"


Perlaham, Juna membeberkan semua yang dialaminya. Sejak bertemu Meysa pertama kali, kekecewaannya, kesedihannya, namun perlahan bangkit karena kehadiran seorang gadis bernama Ziya.


Pertemuan awalnya dengan keluarga Ziya, sampai pertemuan terakhirnya dengan Ziya sebelum dia terbaring lemah di sini.


Flashback~


Sepulang bertemu Meysa, Juna bermaksud pulang ke kampung halamannya. Saat di perjalanan, tiba-tiba Juna merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Benar-benar sakit, menusuk perut bagian tengah dan sangat mendadak. Kepalanya pusing, mual juga tengah menderanya.


Tubuhnya memang sudah menggigil dan demam tinggi saat itu, karena tidak bisa kedinginan terlalu lama. Namun, memaksakan diri untuk pulang saat itu juga.


Bibirnya bergetar, bulir keringat membasahi keningnya. Ia memaksa berkendara, pandangannya memudar hingga kehilangan fokus. Sebuah mobil menyenggol motornya hingga terjatuh.


"Mas Gandhi!" pekik Chaca di dalam mobil saat melihat suaminya menabrak pengendara motor.


"Astagfirulllah!" Buru-buru Gandhi menginjak rem dengan panik. Ia segera membuka seatbelt dan melihat keadaan orang yang ditabraknya. Tidak terluka sama sekali. Motornya juga aman, hanya ada goresan sedikit. Namun keningnya berkerut ketika melihat kesakitan pria di hadapannya.


"Mas, bangun, Mas! Ada yang terluka?" tanya Gandhi menepuk-nepuk pipinya mencoba menyadarkan Arjuna.


Chaca, yang sudah pulih dari rasa shocknya ikut turun melihat keadaan korban dari suaminya. "Mas, gimana?" tanya Chaca membungkukkan tubuh.

__ADS_1


Arjuna mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia terkapar di jalanan, sembari meringkuk.


"Enggak ada yang luka. Tapi sepertinya dia sakit, Mas. Ayo antar ke rumah sakit aja," ajak Chaca setelah melihat keadaan Arjuna. Meneliti sekujur tubuhnya.


"Anak-anak gimana?" tanya Gandhi menatap sang istri.


"Kamu naik taksi aja. Aku pulang dulu sama anak-anak."


"Yaudah, hati-hati ya, Sayang," ucapnya mengecup kening istrinya.


Gandhi beranjak berdiri, lalu menghentikan taksi yang melalui jalur itu. "Pak, tolong bantu," pinta Chaca pada beberapa orang yang mendekat melihat apa yang terjadi. Mereka membantu mengangkat Arjuna ke kursi penumpang. Gandhi ikut masuk setelah mengucapkan terima kasih.


Setelah itu, Chaca meminta warga sekitar mengamankan kendaraan Arjuna sementara. Sedangkan ia bersama kedua anak kembarnya yang masih anteng tidur di seatcar melajukan mobil menuju rumah yang dibeli suaminya enam bulan yang lalu.


Yah, Alexander Abraham mengirim Gandhi ke Yogja untuk mengurus perusahaan cabang yang baru didirikan itu. Sementara Chaca yang tidak bisa jauh dari sang suami, memaksa ikut bersama anak kembarnya.


Sesampainya di rumah sakit, Juna segera mendapat pertolongan pertama di IGD. Pria itu masih mengerang kesakitan, bahkan di ambang kesadarannya. Dokter pun melakukan serangkaian pemeriksaan pada Arjuna.


"Mari ikut ke ruangan saya sebentar, Pak," ujar Dokter dengan beberapa lembar hasil pemeriksaan di tangannya setelah beberapa saat.


Pria yang menunggu sedari tadi mengangguk, ia berjalan mengikuti sang dokter. Setelah sampai di ruangan, dokter menjelaskan bahwa ada penimbunan di kantung empedunya, harus segera diangkat karena kondisi empedu yang sudah membengkak.


"Batu empedu memang sering kali tidak menunjukkan gejala awal. Dia akan bereaksi ketika kondisinya sudah benar-benar kronis," lanjut Dokter.


"Jadi solusinya bagaimana, Dok?" tanya Gandhi setelah mendapatkan penjelasan.


"Baik, saya yang akan bertanggung jawab," sahut Gandhi dengan mantap.


Ia segera mengurus administrasi dan pernyataan operasi atas nama Arjuna. Dari identitas, ia mengetahui bahwa pria yang ia tolong adalah seorang dokter.


Satu malam terlewati, Gandhi terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya. Meski kesakitan Arjuna bukan akibat kecelakaan karena kelalaiannya, namun ia merasa bertanggung jawab sekaligus iba.


Semalam dokter menyerahkan barang-barang yang masih melekat di tubuh Arjuna sebelum melakukan operasi. Sebuah cincin putih dengan satu permata yang sangat cantik, juga ponsel dalam keadaan mati.


Perlahan Juna mengerjapkan kedua matanya. Yang pertama kali ditangkap adalah seorang pria yang sedang berbincang menghadap ponselnya. Yang ia yakini bahwa orang itu melakukan video call.


"Ehm!" Juna berdehem, tenggorokannya terasa sangat kering.


Suara itu menyadarkan Gandhi yang tengah melakukan VC bersama sang istri. Pria itu menoleh sebentar lalu kembali ke layar ponselnya. "Sayang, udah dulu ya. Dia udah sadar. Nanti aku kabari lagi. Love you," ucap Gandhi lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Halo, Arjuna. Sudah sadar?" sapa Gandhi mendekat pada ranjang..


"Maaf, Pak. Tolong, minum. Ehm," pinta Juna menyentuh tenggorokannya.


"Oh iya." Gandhi menuangkan air putih dalam gelas, mendekatkan pipet ke bibir Juna.


"Awh!" desis Juna saat menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan bergerak dulu. Kamu habis menjalani operasi," sergah Gandhi menyentuh bahu Juna.


Tampak keterkejutan di wajah Arjuna. Namun ia memilih minum terlebih dahulu. Rasanya seperti sudah tidak minum selama berhari-hari. Diteguknya air bening itu hingga tandas.


"Operasi? Lalu, Anda siapa?" tanya Juna.


"Saya Gandhi. Emm kemarin hampir menabrakmu. Kamu terkapar kesakitan, tapi bukan karena kecelakaan. Tapi karena ada empedu kamu bermasalah. Jadi harus dilakukan operasi saat itu juga. Karena kondisinya sudah kronis. Oh iya, maaf saya tidak menghubungi keluargamu. Ponselmu mati," jelas Gandhi memperlihatkan ponsel Juna yang memang tidak bisa menyala.


Ingatan Juna berputar, ia sadar kemarin memang bermaksud pulang ke kampung halaman dan tiba-tiba di jalan merasakan sakit luar biasa di perutnya.


"Cincin!" pekik Juna membelalak ketika teringat cincin yang ditemukannya setelah dilempar oleh Ziya.


Gandhi tersenyum, ia tahu benda itu pasti sangat berharga. Jemarinya merogoh saku celana dan menyerahkannya. "Ini?" ucapnya sambil menyodorkan benda lingkaran kecil itu.


Terdengar hembusan kelegaan dari Juna. Ia mengambil cincin itu memperhatikannya lamat-lamat. "Syukurlah, terima kasih banyak, Pak," ucapnya dengan binar kebahagiaan.


"Sama-sama. Kamu mau melamar pacarmu ya?" tembak Gandhi membuat pria itu bersemu.


"Emmm ... tapi ditolak, Pak. Dan lagi ... saya kehilangan pekerjaan, saya sudah kehilangan segalanya," jawabnya dengan sendu.


"Kamu dokter 'kan? Kebetulan di perusahaan cabang yang aku kelola, belum ada dokter untuk klinik perusahaan saya. Kalau mau, bisa masuk ke perusahaan saya," tawar Gandhi menepuk bahu Juna.


Semalam, setelah mengetahui nama Arjuna, Gandhi sudah melakukan pencarian tentang track record dokter spesialis jantung itu. Hasilnya, ia merupakan salah satu dokter terbaik di sebuah rumah sakit besar. Dan tidak ditemukan daftar hitam apa pun, selain sering bolos dan cuti dadakan tak terhitung yang berakhir dengan pemberhentian kerja.


"Serius, Pak?" tanya Arjuna.


"Yah, dengan syarat jangan sering bolos, bertanggung jawab dengan pekerjaan," jawab Gandhi seolah menyindirnya.


Juna merasa malu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hati ia lega juga bahagia. Setelah sembuh, Juna bertekad untuk terus mengejar cinta Ziya. Rasa percaya dirinyaa kembali meningkat.


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih! Awwh!" Saking bahagianya, ia bahkan melupakan lukanya. Hampir bangun lagi, namun rasa ngilu menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya.


"Boleh bahagia, tapi jangan berlebihan." Gandhi terkekeh.


Kemudian Juna memberanikan diri untuk menghubungi papanya melalui ponsel Gandhi. Awalnya marah dengan putra semata wayangnya itu, tapi setelah mendengar kondisinya, papanya segera melakukan penerbangan pagi itu juga.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak," ucap Juna menyerahkan ponsel Gandhi.


"Sama-sama. Saya permisi dulu, istri dan anak-anak saya nungguin. Cepet sehat ya, Dokter," pamit Gandhi mengambil jas yang disampirkan di sofa.


"Hati-hati, Pak," balas Arjuna.


Flashback End~


Bersambung...


Eh banyak loh yaa... kenyang kan..? 😄

__ADS_1


lho Om Gandhi kok nyempil 😁 kangen sih...wkwkwkwk


__ADS_2