
Arjuna sendiri langsung berlari keluar. Ia mencari keberadaan Lily. "Ly, titip Zia. Tolong kalau udah sadar suruh cepet mandi dan pinjemin baju. Aku minjem kamar mandi luarmu!" pekiknya sambil berlari keluar kamar.
Belum sempat menjawab, Juna sudah menghilang di balik pintu. Lily mengangkat kedua bahunya, ia lalu masuk ke kamar mandi di mana Ziya berada.
Mulutnya terbuka, matanya membelalak seketika melihat Ziya direndam dalam bath up. "Ya ampun!" pekik Lily melangkah lebih cepat.
"A--apa yang terjadi?" tanya kebingungan.
Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, pandangannya mengeliling ke seluruh penjuru. Lily segera menghampiri, menyerahkan handuk padanya.
"Zi, buru mandi. Shower ada air hangatnya kok. Nanti aku jelasin," ucap Lily mengulurkan tangan.
Ziya beranjak dari kolam buatan Arjuna yang membasahi seluruh tubuhnya bahkan sampai ujung rambut. Air dalam bath up pun turut berhamburan saat ia bergerak.
"Jangan lama-lama ya. Nanti masuk angin," ucap Lily meninggalkannya, kembali menutup pintu.
Sedangkan di kamar mandi luar, Arjuna pun mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Meredam sesuatu yang membuatnya menegang sedari tadi. Tak peduli malam sudah semakin larut.
__ADS_1
Setengah jam kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basah. Kaos yang dikenakan juga basah, mencetak bentuk tubuhnya yang kekar.
"Ly, aku pake dapur!" pekik Arjuna yang sudah menyalakan kompor merebus air di atasnya. Matanya menelisik, tangannya membongkar-bongkar isi kulkas.
"Bikin apaan?" Lily melongokkan kepalanya dari ambang pintu. Ia terkejut melihat Arjuna masih basah kuyup seperti itu.
Arjuna terlonjak kaget, langsung menurunkan kedua tangannya, "Astaga! Ngagetin aja," cetusnya menekan dada yang berdegub kencang.
"Kamu ada susu enggak?" tanya Juna tanpa menoleh.
Lily mendelik, refleks kedua tangannya menyilang di depan dada. Seperti melindungi aset berharganya. Tidak mendengar jawaban, Juna menoleh, keningnya berkerut kala melihat Lily yang mendelik seperti itu.
"Dasar! Matanya kondisikan!" Lily mendekat dan memukul kepala Arjuna.
"Aw! Sialan. Sakit tau. Kamu sebenernya siapa sih? Aku jadi curiga deh," ucap Arjuna mengusap kepalanya, menyandarkan tubuhnya di meja dapur.
Tiba-tiba terdengar suara Ziya muntah-muntah dari dalam kamar. Buru-buru Arjuna berlari diikuti Lily. Lily mendesah lega karena Ziya sudah mengenakan pakaian yang ia siapkan sebelumnya. Ia berdiri berpegangan pintu kamar mandi. Mungkin mau ke wastafel tapi keburu udah keluar.
__ADS_1
"Ziya!" seru Arjuna memijat tengkuk dan kening Ziya. Ia terus memuntahkan isi perutnya.
"Ambilin susu, Ly. Kalau ada susu murni!" perintah Arjuna tanpa menoleh. Lily masih bergeming. Tak ada pergerakan dari gadis itu Juna menoleh, sembari berkata, "Otak kamu keknya harus di bersihin deh, Ly. Cariin bear brand buruan," lanjutnnya.
"I ... iya," balasnya kembali ke dapur. "Sialan, mikir apaan gue. Haisst," umpat Lily menggerutu.
Tubuh Ziya melemas, kepalanya seperti ada benda berat yang menindihnya. Keringat dingin membasahi wajahnya. Juna melangkah ke wastafel, namun satu tangannya memegang lengan Ziya. Tangan lainnya mengucurkan air kran dan membilas wajah Ziya dengan telapak tangannya.
"Jangan diulangi lagi, Zi. Jangan bikin aku khawatir," gumam Juna pelan yang samar-samar tertangkap telinga Ziya. Namun ia tak begitu peduli, karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Juna lalu mengangkat tubuh Ziya, merebahkannya di ranjang Lily dengan perlahan. Ditarik selimut hingga menutupi dadanya. Ziya memejamkan matanya, napasnya menderu tak beraturan. Kepalanya juga serasa berputar-putar.
Tangan lebar Juna mengusap lembut puncak kepala Ziya. Dia sendiri tidak mengerti perasaan apa itu? Bahkan saat seperti ini ia lupa akan keadaan Meysa.
Tiba-tiba terdengar dering ponselnya. Diambil dari saku lalu matanya membelalak ketika tertera nama Mama Indah--Mamanya Meysa.
Bersambung~
__ADS_1
😂😂😂😂😂