
"Ma, kita harus pindah secepatnya dari sini. Meysa sudah nggak kuat lagi," rengek Meysa di tengah tangisannya.
Sang mama membelai lembut rambut Meysa. Dan betapa terkejutnya dia ketika jemarinya dipenuhi oleh rambut Meysa. Mama Indah semakin tersedu dan mengeratkan pelukannya.
"Kasihan Juna, Sayang. Kenapa kamu harus menyembunyikan semuanya dari dia? Juna akan sangat terpukul, Nak." Tubuh Mama Indah bergetar mengingat kondisi putrinya.
"Ma, Juna akan lebih terpukul dengan keadaan Meysa yang sebenarnya. Juna akan mudah melupakan Meysa ketika dia membenci Meysa. Tolong, Ma. Sekali ini aja Meysa mohon sama Mama untuk menuruti keinginan Meysa. Kita pulang ke rumah eyang ya, Ma. Mey ingin menjalani sisa-sisa hidup Mey di sana dengan tenang."
Meysa memejamkan kedua matanya. Merasakan sesak di dada ketika mengucapkannya. Air matanya mengalir begitu deras, mengingat divonis dokter usianya tidak akan lama lagi.
Tidak ingin menambah kesedihan putrinya, Mama Indah segera berkemas untuk kepindahannya. Sore hari ketika papanya pulang, Mama Indah menceritakan segala keluh kesah Meysa dengan berderai air mata.
Berat memang ketika ia harus meninggalkan pekerjaan, yang sedang mencapai puncak kejayaan dalam jabatan yang diembannya.
Namun kebahagiaan putrinya adalah satu-satunya prioritas utama saat ini. Dia pun segera mengurus surat resign dari perusahaan tempatnya bekerja.
__ADS_1
Keesokan paginya, Meysa beserta ayah ibunya telah bersiap dengan ketiga koper besar mereka. Sebuah taksi sudah berhenti di depan rumah mereka.
Meysa masuk dibantu oleh Mama Indah. Ia menatap ke luar jendela, banyak kenangan di rumah tersebut. Termasuk kenangannya bersama Arjuna, pria kesayangannya.
"Meysa," panggil mamanya lembut.
Bahkan ketika taksi mulai melaju Meysa masih menatap sendu ke belakang. Sampai bayangan rumahnya benar-benar menghilang.
"Mama tahu perasaanmu. Mama akan selalu ada di sampingmu, Sayang," ucap sang mama menarik Meysa dalam pelukannya.
"Kenapa Tuhan memberi ujian seberat ini pada Meysa, Ma? Kenapa harus Meysa? Kenapa Tuhan tidak memberikan kebahagiaan untuk Meysa?" serunya menangis meraung.
"Sabar ya, Sayang." Hanya itu yang mampu diucapkan Mama Indah. Tenggorokannya tercekat menahan tangis.
****
__ADS_1
Senja, semburat jingga membias langit yang cerah sore itu. Arjuna bersemangat berkunjung ke rumah Meysa. Sehari tidak berjumpa, rasa rindu membuncah di dasar sanubarinya.
Kedua kakinya menjejak sempurna di teras rumah yang tertutup rapat itu. Arjuna mengayunkan jemarinya untuk mengetuk-ngetuk pintu tersebut. Sambil membawa sebuah keranjang buah di tangan satunya.
"Ma, Meysa!" serunya memanggil sang pemilik rumah.
Sudah lima belas menit lamanya, dia berdiri dan mengetuk pintu. Kini, ia mulai merasa gusar karena tak kunjung dibuka. Namun Arjuna pantang menyerah. Ia meletakkan keranjang buah di meja yang ada di teras lalu berjalan ke samping rumah.
Mengetuk-ngetuk jendela, menyerukan nama Meysa berulang, bahkan mengintip dari balik kaca gelap dan juga di balik pintu.
Tidak menemukan apa pun. Dadanya berdegub kencang. Ia takut terjadi sesuatu dengan Meysa. Arjuna gusar, ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Meysa.
"Sayang, kamu di mana?" gumam Arjuna gusar mondar mandir menempelkan ponsel di telinganya.
Puluhan kali Arjuna menghubunginya, namun sama sekali tidak dapat tersambung. Selalu saja operator yang menjawabnya. Begitu pun dengan nomor ponsel sang mama.
__ADS_1
Kedua lutut pria itu melemas, ia menangis terduduk di lantai. Banyak pikiran buruk bergelayut di hatinya saat ini.
Bersambung~