
Lily memutar bola matanya malas, lalu mengembuskan napasnya dengan kasar. "Iya, iya bawel. Tapi agak lama nih." Lily mencoba menjelaskan. Namun keburu disambar Ziya.
"Kok lama? Dulu waktu nyari aku enggak lama, hari itu juga langsung ketemu," tukas Ziya meradang. Ia begitu tak sabar, kerinduan dan kekhawatirannya membuncah.
"Dulu itu cepet karena HP kamu udah konek di HP aku, Zizi sayang."
Mata Ziya membulat, "Itu berarti kamu melanggar privasi aku, Ly," serunya mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangan.
Lily mendengkus, "Hei, waktu itu niatku melindungi kamu, 'kan udah pernah aku kasih tahu, jangan berhubungan sama Alvin, kamunya bandel sih dibilangin. Ya aku harus bertindak dong sebelum dia ngapa-ngapain kamu. Beneran terjadi 'kan? Coba kalau aku sama Juna terlambat beberapa menit aja. Enggak tahu deh kamu kek gimana. Dia itu buronan tau," jelas Lily santai.
Ziya memutar tubuhnya, memperhatikan dua manik mata Lily, mencari kejujuran di sana. Dan ya, ia memang melihat ketulusan dari pancaran mata gadis di depannya itu. Ziya menepuk kedua bahu gadis di hadapannya lalu menarik ke dalam pelukannya. "Makasih ya, Ly. Kak Juna emang super hero," gumamnya mengulas senyum.
"Kok Juna sih? Kan aku yang nemuin kamu," gerutunya sebal mendorong Ziya.
Ziya terkekeh, "Iya iya... Lily juga hebat." Ditepuknya bahu Lily perlahan. "Terus sekarang bantuin cari Kak Juna," rengek Ziya memelas.
"Bentar lagi masuk, Zi."
"Kita bolos aja," ucapnya memprovokasi.
"Bisa-bisa enggak lulus lagi nih tahun ini!" gerutu Lily mengacak-acak rambutnya.
"Ayolah, Ly. Nanti aku jodohin sama abangku yang keren bin kece deh," rayu Ziya menaik turunkan alisnya.
Lily membuka tas ranselnya. Mengeluarkan sebuah laptop kesayangannya dan mulai mengulik benda berlayar datar dan pipih itu dengan serius.
"Ck! ... enggak perlu," ketus Lily tanpa menoleh.
Ziya turut menatap laptop di pangkuan Lily yang mana jemari lentiknya tengah bergerak dengan cepat hingga bermunculan banyak sekali kode di layar itu. Ziya yang tidak mengerti justru semakin pusing dibuatnya.
"Aku beli minum dulu ya." Ziya beranjak menuju kantin. Hanya dibalas deheman oleh Lily.
...****************...
Matahari kian menanjak hingga panasnya menyengat tepat di ubun-ubun. Setelah beberapa jam berkutat di dengan laptop dan HPnya, Lily menampilkan senyum di bibirnya.
"Gimana? Dapat?" tanya Ziya bersemangat setelah melihat raut wajah Lily.
__ADS_1
"Tentu! Siapa dulu dong. Evangeline Georgia!" Dengan bangga Lily menepuk dadanya dengan kepalan tangan.
"Lily terbaik!" Tanpa sungkan Ziya memeluknya dengan girang.
"Hemm... baik-baikin kalau ada maunya doang nih anak. Cap cus! Pake mobil aku aja. Panas entar aku meleleh," canda Lily setelah merapikan ranselnya. Ia segera beranjak, Ziya pun menurut saja. Ia sudah tak sabar ingin bertemu pujaan hatinya itu.
Lily fokus menyetir sembari memperhatikan titik merah yang tampak di layar tabletnya. Laju mobilnya pun dalam kecepatan rata-rata. Sedangkan Ziya sedang mengatur degub jantungnya yang ingin meloncat-loncat sedari tadi. Membayangkan pertemuannya dengan sang Arjuna. Pria yang sudah mencuri hati juga ciuman pertamanya. Aahh sungguh, wajah gadis itu merona kala mengingatnya.
"Loh, kok di counter ya, Zi?" Sejenak, dia meragu.
"Kok malah nanya aku sih, Ly?" dengkus Ziya.
Lily kembali memperhatikan pusat titik di tabletnya, sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Iya, aku yakin di sini kok." Sesaat setelah menyamakan lokasi tersebut.
"Yaudah, ayo turun."
Ziya bergegas memasuki gerai jual beli dan servis HP, diikuti Lily di belakangnya. "Permisi, Pak!"
"Iya, Neng. Ada yang bisa dibantu?" sahut penjaga counter.
Lily mendekat, memperlihatkan tabletnya pada pria berkacamata itu. "Bapak, maaf mau nanya, di toko ini ada ponsel dengan type ini enggak? Mungkin ada yang baru jual gitu?" tanya Lily.
"Ini ya, Neng?" tanya pria penjaga counter.
"Iya, sesuai. Ini punya siapa, Pak?" tanya Lily setelah menemukan kecocokan.
"Oh, ini servisan, Neng. Bentar lagi juga diambil orangnya. Lagi makan di warung depan," jelas pria itu.
"Boleh kami nunggu di sini, Pak?" izin Ziya.
"Silahkan, Neng," jawabnya ramah.
Ziya dan Lily saling melempar senyum. Mereka juga saling menepukkan telapak tangan. Ziya puas dengan keahlian Lily di bidang IT.
Tak terasa, sudah dua puluh menit berlalu. Keduanya masih larut dalam perbincangan seru. Tawa menggelegar sesekali terdengar, menyita perhatian beberapa orang di sekeliling.
"Bidadari?" panggil seorang pria sembari menepuk bahu Ziya.
__ADS_1
Gadis itu menoleh, kerutan di keningnya menandakan kebingungan. Lily menyenggol lengan kiri Ziya, sembari menaikkan dagunya. Bermaksud menanyakan siapa pria itu. Ziya hanya mengendikkan bahu.
"Kakak siapa ya?" tanya Ziya dengan raut kebingungan.
"Kita ketemu di masjid, selepas maghrib. Inget enggak?"
"Ooh waktu aku salah orang itu ya, Kak? Hehe, maaf. Soalnya perawakan Kakak sama kayak orang yang aku kenal." Kedua sudut bibir Ziya terangkat. Semakin membuat Dika meleleh.
Kali ini, dia nggak mau kehilangan kesempatan lagi. Meski detak jantungnya sudah seperti genderang mau perang, tapi ia berusaha menenangkan diri.
Tangan kanannya terulur di hadapan Ziya, "Enggak apa. Sepertinya kita jodoh, eh! Kenalin, aku Dika." Mulai salah tingkah, seketika satu tangannya menepuk bibirnya. Ziya tersenyum kaku.
"Ziya," jawabnya singkat lalu melepas jabat tangannya dan beralih pada Lily, "Ini temenku, Kak, Lily."
Tangan Dika beralih pada gadis di sebelahnya. Namun menggantung beberapa waktu kala Lily tak mengedipkan mata dari wajah pria itu, tidak menyambutnya.
"Heh," seru Ziya menyenggol lengan Lily membuat gadis itu gelagapan.
"Eh, i ... iya!" serunya tergagap. Sontak ia merapikan rambut, menyelipkannya di belakang telinga.
"Diajak kenalan juga," bisik Ziya melirik arah tangan Dika.
"Ma ... maaf, saya Lily," sambut Lily gugup.
Ziya tertawa terbahak-bahak ketika pertama kali melihat Lily salah tingkah seperti itu. Melihat kedatangan Dika, sang penjaga counter kembali menghampiri.
"Ini, Mas. Udah bisa, kebetulan saya masih ada stok LCD'nya, jadi bisa langsing diganti," ucapnya sembari menyerahkan sebuah ponsel beserta layar LCD bekas.
Hal itu membuat Ziya mendelikkan mata. Lily pun sama. Keduanya lalu berdiri menghampiri pria yang sedang mengoperasikan ponsel itu.
"Ini enggak ada yang ilang 'kan, Pak?" tanya Dika masih fokus di layar benda pipih di depannya.
"Aman, Mas," sahutnya mantap.
"Wait! Ini 'kan ponselnya Kak Juna. Kenapa ada di tangan Kakak?" tanya Ziya menyelidik menunjuk pria itu. Sedangkan Lily beralih ke sisi lain pria itu. Mereka mengapit Dika seakan bersiap menangkapnya. Tatapan keduanya, berubah tajam.
Ia mengira sesuatu buruk telah terjadi pada Juna. Dan Dika-lah penyebabnya.
__ADS_1
Bersambung~